Beranda / Uncategorized / Fitnah Syafii Maarif Terhadap Buya Hamka

Fitnah Syafii Maarif Terhadap Buya Hamka

Lain lagi fitnah yang menimpa Buya Hamka. Salah satu dedengkot JIL, Prof Syafi’i Ma’arif dalam tulisannya di Rubrik Resonansi, Republika hal.12, tanggal 21 Nopember 2006 mencoba menafsirkan Qs.Al-Baqarah ayat 62 dengan semangat pluralisme agama yakni dengan menyatakan bahwa kaum Nasrani, Yahudi dan Sabi’in akan menjadi penghuni surga sepanjang ia rajin beramal.Menariknya, Syafi’i Ma’arif dalam artikel itu merujuk ke Tafsir Al-Azhar karya Prof. DR. Hamka sebagai legitimasi bahwa seorang Buya Hamka merestui pemikiran pluralisme. Lihatlah tulisan Ma’arif ketika menafsirkan Surat Al Baqarah ayat 69 dengan rujukan Tafsir Al Azhar Buya Hamka berikut ini.“Ikuti penafsiran Hamka berikut: Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau mereka apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu.‘Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita (ujung ayat 62), hlm.211. “Yang menarik, Hamka dengan santun menolak bahwa ayat telah dihapuskan (mansukh) oleh ayat 85 surat surat Ali ‘Imran yang artinya: ‘Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi.’ (Hlm. 217). Alasan Hamka bahwa ayat ini tidak menghapuskan ayat 62 itu sebagai berikut: “Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmannya, segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih.”Sontak, tulisan Ma’arif tersebut memunculkan berbagai macam polemik dan respon. Selain dicap mendompleng nama Buya Hamka, Syafi’i Ma’arif juga dinilai ngawur dalam menjelaskan konteks surat Al Baqarah ayat 62 dan 69.Salah satu cendekiawan yang merespon kekeliruan Syafi’i Ma’arif tersebut salah satunya adalah DR. Adian Husaini. Ketua DDII ini langsung menulis balik di Republika pada kolom sama tertanggal 1 Desember tahun 2006 dengan judul “Hamka dan Pluralisme Agama”. Dengan rujukan yang sama, DR. Adian kemudian meluruskan kesalahan (yang tampaknya disengaja) Ma’arif ketika membelokkan perkataan Buya Hamka. DR. Adian Husaini menulis,“Pendapat Hamka tentang keselamatan kaum non- Muslim dalam pandangan Islam sebenarnya juga tidak berbeda dengan para mufassir terkemuka yang lain. Termasuk ketika menafsirkan QS 2:62 dan 5:69. Karena itu, Hamka memandang, ayat itu tidak bertentangan dengan QS 3:85 yang menyatakan: ‘Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi.’ Jadi, QS 3:85 tidak menasakh QS 2:62 dan 5:69 karena memang maknanya sejalan.“Alasan Hamka bahwa ayat ini tidak menghapuskan ayat 62 – sebagaimana juga dikutip Syafii Maarif – bahwa “Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh)
ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah,artinya percaya kepada segala firmanNya, segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih.“Jadi, Hamka tetap menekankan siapa pun, pemeluk agama apa pun, akan bisa mendapatkan pahala dan keselamatan, dengan syarat dia beriman kepada segala firman Allah, termasuk Al-Quran, dan beriman kepada semua nabi dan rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad saw. Jika seseorang beriman kepada Al-Quran dan Nabi Muhammad saw, maka itu sama artinya dia telah memeluk agama Islam. Dengan kata lain, dalam pandangan Hamka, siapa pun yang tidak beriman kepada Allah, Al-Quran, dan Nabi Muhammad saw, meskipun dia mengaku secara formal beragama
Islam, tetap tidak akan mendapatkan keselamatan. Itulah makna QS 3:85 yang sejalan dengan makna QS 2:62 dan 5:69. ”Selain itu, jika kita merujuk kepada karangan Buya Hamka yang berjudul “Pelajaran Agama Islam” (Bulan Bintang: 1996, cet ke-12), jangankan mengakui kekafiran kaum Nasrani, sedangkan menurut Buya Hamka orang Islam sendiri yang tidak mengikuti perintah Al Qur’an dan Sunnah sudah tidak pantas lagi disebut muslim. Buya Hamka menulis di halaman 360.“Mengakui saja kepada Tuhan, padahal tidak mengikuti perintah atau tidak menjalankan isi Qur’an atau tidak menuruti sunnah Nabi, kalau kita fikirkan mendalam, bukanlah Iman lagi, halusnya bukanlah Islam”Andai Syafi’i Ma’arif tidak menutupi kepalsuannya, seharusnya sebagai pembesar. Muhammadiyah beliau tahu bagaimana riwayat Buya Hamka turun dari tahta MUI ketika menolak perayaan natal bersama. Kala itu MUI mengeluarkan fatwa haram pengucapan selamat natal, namun MUI didesak untuk mencabut kembali fatwa tersebut.Akan tetapi, demi menjaga akidah umat, Buya Hamka dengan tegas menolak permintaan penarikan fatwa tersebut. Buya Hamka lebih memilih mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua MUI ketimbang harus bermandikan dosa mengorbankan akidah. Dan kita ketahui sejak MUI dipimpin Buya Hamka itulah ucapan selamat natal diharamkan oleh MUI. (islampos)

Baca :   Kampanye PKS Padang, Irwan Prayitno Unjuk Kebolehan Bermain Drum

Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Denpasar Lebih Islami Dari Kota Padang, Buya Mahyeldi : Mohon Bantuan dan Doa Agar Padang Lebih Islami

serambiMINANG.com – Maarif Institute baru-baru ini mengeluarkan sebuah hasil penelitian yang dilakukan selama tahun 2014 …

Tinggalkan Balasan