Beranda / Uncategorized / Kepantasan

Kepantasan

kasurau – Pernah dengar kisah Nasrudin Hoja yang kehilangan barangnya di dalam kamar rumahnya? Kisah tentang Nasrudin yang sedang sibuk mencari sesuatu di liuar rumahnya. Orang-orang yang kebetulan melihat, ikut membantu mencari barangnya yang hilang. Salah seorang teman Nasrudin yang membantu tersebut, kemudian bertanya, ”Barangmu hilangnya dimana persisnya, beritahukan kami agar lebih mudah bagi kami membantumu mencarikannya?”

Nasrudin menjawab,”Hilangnya sih di dalam kamarku”.

Lho, kenapa dicari di sini, di luar rumah? Sahut temannya tersebut dengan sedikit kesal, karena merasa melakukan yang sia-sia.

”Di dalam gelap, sedangkan di luar terang. Aku lebih suka mencari sesuatu di tempat yang terang!”

Tentu kita akan tertawa, mendengar jawaban Nasrudin ini. Namun kejadian seperti ini juga sering terjadi kepada kita. Kita ingin mencari kesuksesan, mencari kebahagiaan, mencari motivasi di luar diri. Di luar diri kita, di luar fikiran kita. Kenapa? Karena di dalam diri gelap. Di dalam diri kusut masai fikiran, sehingga kita malas untuk mencari hal-hal tersebut di dalam diri kita. Kita mencari di luar diri kita, karena benderang. Karena lebih mudah untuk menyalahkan sekeliling.

Mungkin kita sering juga menyalahkan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan. Kita merasa memiliki pasangan yang tidak mendukung. Anak-anak yang bandel dan susah diatur. Orang lain yang tidak pernah mengerti kita. Bawahan yang sering membantah, atasan yang cerewet dan “banyak maunya”, teman sejawat yang cuek dan banyak masalah-masalah lain yang mungkin menerpa kita.

Atau dalam hubungan spiritual adakalanya kita merasa lelah dan kalah. Merasa doa-doa kita sedikit yang diijabah. Merasa beban yang terus menghimpit dan seolah-olah tanpa henti, membuat kita ingin berhenti. Kita merasa bukan siapa-siapa dan merasa hampa. Akhirnya kadangkala kita menyalahkan nasib yang belum berpihak atau Allah belum mendengarkan permintaan kita.

Kembali kepada cerita di atas. Menurut Anda siapa atau apa yang salah dengan semua keadaan ini? Tentu saja yang salah adalah diri kita sendiri, namun kecenderungan kita, mungkin karena pola parenting, mencari alasan penyebab semua kejadian yang tidak enak menimpa kita. Karena kita tidak mau mengakui hal ini maka lebih mudah mencari kesalahan pada luar diri. Persis seperti kelakuan Nasrudin Hoja, yang kita tertawai.

Kalau kita menyalakan lampu di dalam diri kita, dalam pikiran kita, maka akan mampu melihat dengan jelas. Apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Secara umum kita mengetahui bahwa masalah-masalah yang menimpa diri kita merupakan cara terindah dari Sang Maha Kuasa-Allah SWT-untuk mempersiapkan kita untuk naik ke level yang lebih tinggi. Mempersiapkan kepantasan untuk diri kita menerima beban yang lebih besar lagi. Misalnya, kalau saat ini anda mampu memikul beban menyantuni 2 anak yatim maka Alllah akan menguji agar naik ke level yang lebih tinggi mampu menyantuni 20 anak yatim. Kalau saat ini anda mampu menerima beban penghasilan 7,5 juta rupiah, maka Allah mempersiapkan Anda untuk mampu menerima penghasilan 75 juta rupiah. Kalau saat ini anda berada pada level mukmin, maka Allah sedang menguji anda untuk naik ke level muhsinin atau mukhlisin.

Baca :   Berjuanglah Untuk Islam Walau Kita Pelaku Maksiat

Tentu saja ujian dan uji kepatutan dan kepantasan ini berbeda-beda untuk kita. Ada yang diuji dengan materi yang berlebih, ada yang diuji dengan kesusahan, ada yang diuji dengan kesakitan, ada yang diuji dengan kebangkrutan, ada yang diuji dengan anak atau pasangan yang bermasalah dan berbagai permasalahan hidup yang lainnya. Semuanya merupakan bentuk-bentuk uji kepantasan tersebut. Ada yang lulus ujian ada juga yang gagal dan harus remedial. Yang lulus ujian akan mendapatkan ujian lagi yang berbeda, dengan level yang berbeda juga. Yang belum lulus ujian akan mengulang ujian yang sama kembali.

Nah! Sekarang tergantung kita bagaimana menyikapi ujian tersebut? Ada yang bersyukur dan semakin tunduk, ada yang tidak mau menerima ujian dan marah-marah. Ada yang menyesali kenapa ujian ini menimpa dirinya. Yang menerima dan bersyukur, berarti telah menyalakan lampu di dalam dirinya, sedangkan yang menyalahkan di sekeliling dan orang lain sedang memadamkan lampu didalam dirinya dan mencari permasalahan itu di luar dirinya.

Uji kepantasan ini akan terasa nikmat kalau kita telah melaluinya. Cara kita mengetahui adalah pada saat kita pantas. Kalau kita sorang yang baik, maka kita akan mendapatkan pasangan yang baik pula. Kalau kita orang tua yang baik, maka kita akan memiliki anak-anak yang menjadi penyejuk. Semua itu ada ukurannya. Ukuran kepantasan. Jadi carilah kepantasan di dalam diri kita, hindari menyalahkan di luar diri kita, tentunya jangan menyalahkan diri kita secara berlebihan juga, maka nikmati ujian kepantasan untuk diri kita. Selamat menikmati ujian dan lulus dengan kepantasan.

Oleh : Zulfiandri
Qualitan inspirator


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Awas ! Ini Tanda – Tanda Jin Menyukai Anda

SerambiMINANG.com -Jin merupakan mahluk Allah dan mereka juga hampir sama dengan kita walaupun berada di …

Tinggalkan Balasan