Beranda / Uncategorized / Saatnya untuk Menikah

Saatnya untuk Menikah

kasurau – Suatu saat dalam sebuah seminar pernikahan di Kampus Unsud Purwokerto, Jawa Tengah, seorang ibu narasumber memberikan pengingatan penting kepada para mahasiswa peserta seminar tersebut.

“Adik-adik, saya ingin mengingatkan agar kalian semua memikirkan masak-masak sebelum memutuskan untuk menikah. Sebab, berkeluarga itu sulit adik-adik, tidak semudah yang ditulis dalam buku-buku itu. Jangan hanya karena sudah kepingin menikah, lalu terburu-buru untuk mengambil keputusan. Banyak sekali permasalahan dalam hidup berumah tangga, yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya…”

Peringatan ini sungguh bermanfaat bagi para pemuda lajang yang akan melaksanakan pernikahan, agar mereka mempersiapkan diri secara lebih baik. Jangan terjebak keinginan sesaat, tanpa pertimbangan yang matang akan masa depan yang membentang. Semua harus dikalkulasi, agar pernikahan benar-benar membawa sakinah, mawadah wa rahmah.

Namun, pada sesi kedua seminar tersebut, saya memberikan imbangan informasi kepada peserta. Inilah nasihat saya kepada mereka.

“Saudara-saudaraku semua, saya sangat setuju peringatan ibu narasumber pertama tadi, agar kalian mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum memutuskan untuk menikah. Namun ingin saya tambahkan, bahwa anda jangan takut menikah, sebab berkeluarga itu mudah, tidak serumit yang ditulis dalam buku-buku itu. Saya tidak merasakan kesulitan yang berarti dalam membangun rumah tangga yang penuh sakinah, mawadah dan rahmah”.

Pernyataan saya tersebut kontan menimbulkan senyum simpul para peserta. Mereka menemukan dua wacana yang agaknya tidak sama. Sebenarnya saya hanya ingin memberikan wacana yang berimbang, agar para peserta seminar tidak ketakutan untuk menikah, namun juga jangan sampai menggampangkan melaksanakan pernikahan tanpa persiapan yang memadai.

Sepuluh Langkah Menuju Nikah

Yang paling utama adalah menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menuju gerbang pernikahan. Jangan takut menikah, namun juga jangan menggampangkan menikah tanpa persiapan. Paling tidak, untuk menikah anda harus melalui sepuluh langkah berikut.

1. Persiapan Diri

Laki-laki dan perempuan hendaknya memiliki kesiapan diri secara moral- spiritual, konsepsional, fisik dan material. Kesiapan secara spiritual ditandai oleh mantapnya niat dan langkah menuju kehidupan rumah tangga. Tidak ada rasa gamang atau keraguan tatkala memutuskan untuk menikah, dengan segala konsekuensi atau resiko yang akan dihadapi paska pernikahan.

Kesiapan konsepsional ditandai dengan dikuasainya berbagai hukum, etika, aturan dan pernik-pernik pernikahan serta kerumahtanggaan. Kesiapan fisik ditandai dengan adanya kesehatan fisik yang memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami atau isteri dengan optimal. Adapun persiapan material lebih kepada kesiapan pihak laki-laki untuk menafkahi dan kesiapan perempuan untuk mengelola keuangan keluarga, bukan pada jumlah uang yang dimiliki saat ini.

2. Menentukan Waktu “Batas Kesiapan”

Setelah melakukan persiapan optimal, hendaknya laki-laki dan perempuan memiliki perhitungan kapan saatnya menikah. Dengan perhitungan itu diharapkan akan ada pertimbangan yang “akademis” dan realistis terhadap keputusan dalam menentukan pilihan hidup. Tanyakan kepada diri sendiri, “Kapan siap menikah?”

Jika mampu menjawab pertanyaan ini dengan tepat, berarti anda telah memiliki cukup perhitungan untuk membangun masa depan keluarga. Contoh jawaban itu adalah, “Saya siap menikah akhir tahun ini”. Artinya masih ada waktu beberapa bulan untuk lebih mematangkan persiapan menuju gerbang pernikahan.

Namun jika jawabannya, “Saya siap menikah sepuluh tahun lagi”, artinya tidak relevan kalau sekarang sudah memulai hubungan dengan seseorang yang didefinisikan sebagai calon pendamping. Bagaimana bisa dikatakan calon pendamping, sedangkan kesiapannya masih sepuluh tahun lagi? Semua masih bisa berubah, dan terlalu dini menyatakan memiliki calon pendamping.

3. Menjaga Kebaikan Diri

Penjagaan diri harus senantiasa dilakukan oleh setiap laki-laki dan perempuan, agar selalu berada dalam koridor kebaikan. Jauhkan diri dari pergaulan bebas dan berbagai perilaku yang tidak bertanggung jawab. Sebagai masyarakat dan bangsa yang religius kita tentu sangat menghormati sopan santun, etika, moral dan tentu saja akhlak mulia. Batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan hendaknya selalu dijaga sebelum pernikahan.

Penjagaan diri dilakukan dengan proses pembinaan diri secara kontinue, dan berkomunitas dengan orang-orang baik yang akan menghantarkan meuju kepada pribadi yang bertaqwa. Bagaimana proses pernikahan anda, akan menjadi sejarah tidak terhapuskan seumur hidup anda. Lakukan proses menuju pernikahan dengan kebaikan diri, jauhkan dari aneka accident yang tidak sesuai dengan norma agama dan norma kesopanan.

4. Menentukan Pilihan

Menentukan pilihan dilakukan setelah ada kesiapan diri, dengan perhitungan waktu yang realistis. Pertimbangan kebaikan agama harus menjadi dasar pertama, sebelum pertimbangan kecantikan atau ketampanan, kedudukan atau keturunan, dan kekayaan. Untuk mengetahui kondisi masing-masing pihak, bisa secara langsung atau melalui orang lain yang dipercaya kebaikannya.

Pada dasarnya, Kanjeng Nabi menghendaki agar pemilihan calon pasangan hidup dilandaskan pertama kali kepada kebaikan agamanya:

“Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya atau karena agamanya. Pilihlah berdasarkan agamanya agar selamat dirimu” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Kanjeng Nabi juga pernah bersabda :

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, karena boleh jadi kecantikan itu akan membinasakannya; dan janganlah kamu menikahi mereka karena hartanya, karena boleh jadi harta itu akan menjadikannya sombong. Tetapi nikahilah wanita karena agama….” (Hadits Riwayat Ibnu Majah).

Proses ta’aruf atau saling mengenal diperlukan agar masing-masing pihak bisa menerima calon pasangan hidupnya dengan sadar dan bertanggung jawab. Bisa dilakukan diskusi dan dialog menyangkut berbagai macam konsep atau persepsi tentang kehidupan, peran, keinginan dan lain sebagainya antara calon mempelai lelaki dan calon mempelai perempuan, sebelum mereka memutuskan dan sepakat menuju gerbang pernikahan.

Semestinya proses pemilihan dan penetapan calon ini tidak berlarut-larut, dengan alasan “saling mengetahui, saling memahami, saling menyetujui”, karena jika prosesnya terlalu lama dikhawatirkan terjatuh ke dalam hal-hal yang dilarang oleh agama dan adat kesopanan.

5. Memantapkan Hati

Menentukan pilihan calon suami atau calon isteri harus dilakukan dengan sepenuh kesadaran dan penerimaan utuh, tanpa ada paksaan dan keterpaksaan. Sebab pernikahan harus diniatkan untuk selamanya, tidak boleh diniatkan untuk jangka waktu sementara, dengan niatan menceraikan kalau ternyata dianggap tidak cocok.

Menerima calon suami atau calon isteri dengan sepenuh hati adalah hak penuh masing-masing pihak. Tak ada seorangpun yang berhak memaksakan terjadinya pernikahan pada diri seseorang. Laki-laki dan perempuan berada dalam posisi merdeka pada konteks penentuan jodoh.

Untuk memantapkan hati bisa dilakukan dengan shalat istikharah, dengan doa-doa memohon kemantapan hati, dan memusyawarahkan dengan pihak-pihak yang dipercaya. Pada saat yang sama, masing-masing pihak hendaklah berusaha meneliti apakah ada halangan perkawinan baik menurut hukum agama maupun menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ini penting untuk mencegah terjadinya penolakan atau pembatalan perkawinan karena tidak sesuai peraturan.

Baca :   DPD Assalam Padang Adakan Pemilihan Pelajar Terbaik

6. Meminta Persetujuan Pihak-pihak Terkait

Adalah tindakan yang sangat penting untuk meminta persetujuan kepada pihak-pihak yang terkait dengan proses pernikahan ini. Bagi calon mempelai perempuan, ia harus mendapat izin dan persetujuan dari walinya, dalam hal ini adalah ayah kandungnya. Namun tidak cukup hanya dengan persetujuan ayah kandung selaku wali, ibu juga sangat penting untuk diminta persetujuan. Restu kedua orang tua sangat menentukan keberhasilan membangun rumah tangga nantinya.

Bagi calon mempelai laki-laki juga harus melakukan hal yang sama, walaupun dalam aturan agama tidak ada ketentuan wali bagi laki-laki dalam pernikahan. Sangat penting bagi calon mempelai laki-laki mendapat persetujuan dari kedua orang tua, agar menjadi bekal yang baik dalam membina hidup berumah tangga setelah menikah.

Selanjutnya, calon mempelai laki-laki hendaknya bisa diterima dan disetujui oleh orang tua serta keluarga pihak perempuan. Sebaliknya, calon mempelai perempuan hendaknya bisa diterima dan disetujui oleh orang tua serta keluarga pihak laki-laki.

7. Meminang atau Khitbah

Khitbah adalah meminang, yaitu peristiwa pihak laki-laki menyampaikan pinangan kepada wali perempuan; atau perempuan menyampaikan pinangan kepada laki-laki. Setelah terjadinya khitbah ini, kedua belah pihak belum halal untuk melakukan aktivitas yang layaknya dilakukan suami isteri, sebab khitbah ini belum memiliki kekuatan hukum sebagai ikatan pernikahan.

Khitbah ini adalah salah satu langkah untuk menyatakan bahwa langkah menuju pernikahan sudah semakin dekat dan semakin pasti, namun pinangan ini masih bisa dibatalkan oleh salah satu dari kedua belah pihak karena adanya suatu alasan tertentu. Dalam ajaran agama, seseorang yang sudah dipinang tidak boleh dipinang oleh orang lain.

8. Mengurus Administrasi Pernikahan

Jika pinangan telah diterima, hendaknya segera ada pembahasan mengenai kapan pelaksanaan akad nikah dan walimah. Hal ini agar bisa segera melakukan pengurusan administrasi pernikahan melalui lembaga pemerintah yang berwenang dalam mengurus proses pernikahan.

Proses administratif dalam pernikahan dilakukan dengan memberitahukan Kehendak Nikah kepada Pegawai Pencatat Nikah (PPN) di wilayah yang akan dilangsungkannya akad nikah. Pemberitahuan Kehendak Nikah berisi data tentang nama kedua calon mempelai, hari dan tanggal pelaksanaan akad nikah, data mahar (maskawin) dan tempat pelaksanaan upacara akad nikah. Pemberitahuan Kehendak Nikah dapat dilakukan oleh calon mempelai, wali atau wakilnya dengan membawa surat-surat yang diperlukan.

Ada banyak persyaratan administratif yang diperlukan dalam mengurus proses pernikahan, di antaranya adalah:

a. Foto Copy KTP dan Kartu Keluarga (KK) calon pengantin

b. Surat pernyataan belum pernah menikah bagi gadis dan jejaka, di atas materai bernilai minimal Rp.6000,- (enam ribu rupiah) diketahui RT, RW dan Lurah setempat.

c. Surat keterangan untuk nikah dari Kelurahan setempat yaitu Model N1, N2, N4, baik calon suami maupun calon isteri.

d. Pas foto calon pengantin ukuran 2×3 masing-masing 4 (empat) lembar dan ukuran 4×6 masing-masing 1 lembar.

e. Bagi yang berstatus duda atau janda harus melampirkan Surat Talak/Akta Cerai dari Pengadilan Agama, jika duda atau janda mati harus ada surat kematian dan surat Model N6 dari Lurah setempat.

f. Harus ada izin dari Pengadilan Agama bagi calon pengantin laki-laki yang umurnya kurang dari 19 tahun, dan calon pengantin perempuan yang umurnya kurang dari 16 tahun.

g. Ijin dari orang tua (Model N5) bagi calon pengantin laki-laki maupun perempuan yang umurnya kurang dari 21 tahun.

h. Bagi anggota TNI/POLRI dan Sipil TNI/POLRI harus ada Izin Kawin dari Pejabat Atasan/Komandan.

Kedua calon pengantin mendaftarkan diri ke KUA yang mewilayahi tempat dilangsungkannya akad nikah sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) hari kerja dari waktu melangsungkan pernikahan. Apabila kurang dari 10 (sepuluh) hari kerja, harus melampirkan surat Dispensasi Nikah dari Camat setempat.

Pegawai Pencatat Nikah (PPN) mempunyai kedudukan yang jelas dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, yang diatur dalam UU No. 22 Tahun 1946 jo UU No. 32 Tahun 1954. Sampai sekarang PPN adalah satu-satunya pejabat yang berwenang mencatat perkawinan yang dilangsungkan menurut hukum agama Islam dalam wilayahnya. Untuk memenuhi ketentuan itu maka setiap perkawinan harus dilangsungkan dihadapan dan dibawah pengawasan PPN karena PPN mempunyai tugas dan kedudukan yang kuat menurut hukum, ia adalah Pegawai Negeri yang diangkat oleh Menteri Agama pada tiap-tiap KUA Kecamatan.

9. Akad Nikah

Setelah khitbah dilakukan, segera diproses akad nikah. Adanya wali dari pihak perempuan menjadi tuntutan agama untuk menjadikan pernikahan menjadi lebih bertanggung jawab. Wali dari pihak perempuan yang berkewajiban menikahkan, dengan ungkapan pokok “Saya nikahkan kamu…” dan dijawab oleh mempelai laki-laki, “Saya terima pernikahannya…”

Dalam proses akad nikah ini diperlukan wali dari pihak mempelai perempuan, dua orang saksi dan mahar atau maskawin. Petugas pernikahan dari Kantor Urusan Agama (KUA) akan melaksanakan pencatatan pernikahan tersebut ke dalam lembar dokumen negara, sehingga dengan akad nikah itu dinyatakan sah secara agama dan sah menurut negara.

Semenjak akad nikah diikrarkan, pernikahan menjadi sah, dan kehidupan suami isteri dalam ikatan keluarga telah dimulai. Inilah batas halal dan haram dalam menikmati hubungan dengan pasangan jenis. Setelah akad nikah, semua interaksi antara suami dan isteri menjadi halal.

10. Walimah atau Pesta Pernikahan

Walimatul ‘ursy atau disingkat walimah, adalah pesta pernikahan yang disunnahkan, sebagai pemberitaan kepada khalayak dan ungkapan syukur atas terjadinya pernikahan yang prosesnya cukup panjang. Walimah boleh dilaksanakan berbarengan dengan akad nikah, atau dilaksanakan pada kesempatan yang terpisah dari akad nikah. Walimah ini mengandung maksud pengumuman kepada masyarakat luas bahwa telah terjadi akad nikah antara kedua mempelai, sehingga masyarakat mengetahui dan menyaksikan adanya pernikahan tersebut.

Walimah harus menampakkan syiar kebaikan, sehingga ada nilai ibadah dan amal sosial yang terhimpun di dalamnya. Dalam melaksanakan pesta walimah, tidak boleh berlebihan dan bermewah-mewahan, tidak boleh pula menampilkan hiburan yang mengandung kemaksiatan, karena pesta pernikahan adalah bagian utuh dari ibadah.

Hari-hari Indah Setelah Menikah

Seusai walimah, pengantin laki-laki dan perempuan meniti hari-hari indah dalam kebersamaan. Mereka masuk kamar pengantin, shalat sunnah dua rakaat, laki-laki mendoakan isteri dengan memegang keningnya. Lakukan dengan lembut, jangan tergesa-gesa. Nikmati semua keindahannya.

Setelah itu, mulailah bersenang-senang dengan seluruh fasilitas yang telah Allah berikan, berupa pasangan hidup anda.

Oleh : Cahyadi Takariawan
Penulis Buku Wonderfull Family


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Awas ! Ini Tanda – Tanda Jin Menyukai Anda

SerambiMINANG.com -Jin merupakan mahluk Allah dan mereka juga hampir sama dengan kita walaupun berada di …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: