Beranda / Uncategorized / Belajar Dari Al Banna

Belajar Dari Al Banna

KASURAU – Belajar dari pengalaman orang lain adalah sesuatu yang diperintahkan Allah swt. Terlebih lagi belajar dari pengalaman berda’wah.

Ada satu ayat dalam surat Al An’am yang berisi perintah agar Rasulullah saw belajar dari pengalaman para nabi sebelumnya. Istilah Al Qur’annya: fabihudahumuqtadih (dengan petunjuk mereka, maka berqudwahlah). (QS Al An’am [6]: 90). Hal ini setelah Allah swt menyebutkan banyak sekali nama-nama para nabi dan rasul (mulai ayat 84, bahkan sebelumnya, saat bercerita tentang nabi Ibrahim as).

Al Qur’an juga menceritakan para da’i lain selain para nabi dan rasul. Ada cerita Luqman Al Hakim, ada cerita raja Dzul Qarnain, dan sebagainya. Bahkan juga ada cerita tentang rojulun (seorang lelaki), siapa namanya? Tidak disebutkan Allah swt, apa posisinya? Juga tidak dijelaskan. Hal ini semakin memperkuat kepada kita urgensi belajar dari pengalaman orang lain dalam berda’wah.

Di awal abad dua puluh yang lalu, di negeri Mesir, muncul seorang da’i yang sangat terkenal sampai sekarang ini, termasuk di Indonesia. Terlebih lagi setelah terbitnya buku Memoar sang da’i ini. Dia bernama Hasan. Marganya bernama AL BANNA, yang berarti sang pembangun. Karenanya dia terkenal dengan panggilan Hasan AL BANNA, sebuah nama yang sangat indah, yang tentunya bukan sebuah kebetulan, karena aqidah Islam melarang kita untuk mempercayai kebetulan.

Kenapa kita layak belajar dari pengalaman Hasan Al Banna? Berikut ini adalah saduran dari kata pengantar Syekh Abul Hasan An-Nadawi rahimahullah terhadap buku Memoar Hasan Al Banna.

1. Hasan Al Banna adalah seorang figur da’i yang mendapatkan taufiq dari Allah swt, dan pemimpin ishlah (reformasi ummat) yang mujahid, genius, cerdas, berbakat, dan murabbi sekaligus. “… keberadaan mereka-mereka yang mushlih (melakukan ishlah), mujahid, ‘abqari (jenius), nubugh (cerdas), mauhub (berbakat), muayyad (mendapatkan dukungan dari Allah), dan murabbi (pendidik), serta para pemimpin ishlah yang muncul dan tampil dalam situasi dan kondisi yang tidak mendukung, iklim yang tidak pas, bahkan zaman kegelapan yang sangat pekat, ditengah-tengah lingkungan yang membunuh dan mematikan, di tengah-tengah masyarakat yang terkena kelumpuhan berpikir, ruhani yang kosong, ‘athifah (empati+simpati+emosi) yang dingin, kemauan yang lemah, tekad yang lentur, semangat yang rapuh, badan yang loyo, kehidupan yang labil, akhlaq yang rusak, cenderung enak-enakan, tunduk kepada kekuatan dan keterputus-asaan untuk melakukan perbaikan”. (hal: 4 mudzakkirat da’wah wad-da’iyah).

2. Hasan Al Banna adalah figur seorang da’i yang memiliki banyak keistimewaan. “… siapa saja yang mengenal hal ini dari dekat, bukan dari kitab, dan hidup nempel dengannya, maka dia akan mengetahui kelebihan figur yang muncul ke alam nyata ini, dan mengejutkan Mesir, lalu dunia Arab, lalu dunia Islam seluruhnya dengan da’wahnya, tarbiyahnya, jihadnya, kekuatannya yang tiada duanya, yang mana Allah swt telah menghimpunkan dalam kekuatan ini berbagai bakat, dan potensi yang sekilas tampak kontradiksi di mata para psikolog dan ahli etika, dan juga di mata para sejarawan dan kritikus, yaitu:

– Akal yang besar nan cemerlang.
– Pemahaman yang bersinar dan luas.
– ‘Athifah yang kuat nan menggelora.
– Hati yang membawa berkah nan melimpah.
– Ruhani yang segar nan bersinar.
– Lisan yang fasih dan membawa kesan mendalam.
– Zuhud dan qana’ah dalam kehidupan pribadi.
– Penuh semangat dan bercita-cita jauh ke depan (visioner), yang tidak kenal lesu dalam rangka mempublikasikan da’wah dan prinsip.
– Jiwa yang cinta maju dan ambisius dalam kebaikan.
– Himmah (semangat) yang tinggi dan meletup-letup.
– Pandangan yang tajam dan jauh.
– Tidak mengenal tawar menawar dan ghirah terhadap da’wah dan
– Tawadhu’ dalam hal-hal yang khusus dengan dirinya”. (lihat hal: 7 dari mudzakkirat da’wah wad-da’iyah).

Baca :   Jadilah Ikan Segar!!!

3. Hasan Al Banna adalah seorang figur da’i yang -sesuai dengan istilah dia sendiri- ‘asyat bihi wa ‘asya biha (da’wah itu hidup karena dia dan dia tidak bisa hidup tanpa da’wah). “kejeniusan sang da’i ini tampak jelas dalam dua hal yang sangat khas, yang tidak banyak dimiliki oleh para da’i, murabbi, pemimpin dan reformer yang lain kecuali sangat langka, yaitu:

– Kecintaannya kepada da’wah, qana’ah (kepuasan)-nya, mati-matiannya dan habis-habisannya untuk da’wah dengan segala bakat, potensi dan tulisan-tulisan yang dimilikinya, inilah syarat asasi dan karakter utama para da’i dan pemimpin yang melalui tangannya Allah swt mengalirkan banyak kebaikan.

– Pengaruhnya yang mendalam dalam jiwa para sahabatnya dan murid-muridnya serta keberhasilannya yang sangat memukau dalam tarbiyah dan memproduk, dia benar-benar adalah seorang pembangun generasi, murabbi rakyat dan pemilik madrasah ilmiyah fikriyah khuluqiyyah. Hal ini telah mempengaruhi kecenderungan semua orang yang kontak dengannya, baik dari kalangan pelajar atau aktifis, dalam cita rasa mereka, metodologi berfikir mereka, gaya penjelasan mereka, bahasa mereka dan pidato-pidato mereka. Pengaruh ini masih tetap ada meskipun berbagai peristiwa dan tahun telah berlalu, dan terus menerus menjadi lambang dan ciri yang bisa dijadikan sebagai alat pengenal mereka, di manapun dan kapanpun mereka berada”. (hal: 7-8 mudzakkirat da’wah wad-da’iyah).

4. Hasan Al Banna adalah seorang figur da’i yang mempunyai sumber-sumber kekuatan dan kebesaran diri yang sangat unik. “dalam bukunya ini (memoar) seorang pembaca akan menemukan sumber-sumber kekuatan dan keagungan dirinya serta sebab-sebab keberhasilan dan daya tariknya, yaitu:

– Salamatul fitrah (fitrah yang selamat).
– Shafa-un-nafs (jiwa yang bening).
– Isyraqur-ruh (ruhani yang bersinar).
– Al ghiratu ‘alad-diin (ghhirah terhadap agama).
– At-taharruq lil Islam (terasa terbakar dirinya demi membela Islam).
– At-tawajju’ min istisyra-il fasad (merasa sakit melihat merajalelanya kerusakan).
– Al ittishal al watsiq billah (menjalin hubungan yang kuat dengan Allah swt).
– Al hirshu ‘alal ibadah wa shahnu baththariyatul qalbi bidz-dzikri wad-du’a-i wal istighfari wal khulwati bil as-har (semangat beribadah dan – mengeces baterei hatinya dengan dzikir, berdo’a, beristighfar dan menyendiri untuk beribadah di sepertiga malam terkahir).
– Al ittishal al mubasyir bisy-sya’b wa ‘ammatin-naas fi wamadhi’i ijtima’ihim wamarakizi syughlihim wa hiwayatihim (kontak langsung dengan masyarakat dan umumnya manusia di tempat berkumpul mereka, pusat-pusat kesibukan mereka dan tempat-tempat kesenangan mereka).
– At-tadarruj wa muro’atul hikmah fid-da’wah wat-tarbiyyah (bertahap dan memperhatikan hikmah dalam da’wah dan tarbiyah).
– An-nasyath ad-da’im wal ‘amal ad-da-ib (aktifitas yang kontinyu dan kerja yang terus menerus)”. (hal: 8 – 9).

Marilah kita tempa diri kita dengan terus mendekatkan diri kita kepada Allah, dengan banyak belajar dan berlatih, agar sedikit banyak kita bisa memiliki sifat-sifat ini, amiiien.

Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim
(keadilan/kasurau)


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Jangan Sampai Hilang, Pewarisan Tarbiyah

serambiminang.com – Usia perjalanan dakwah tarbiyah di Indonesia boleh dikatakan tidak lagi muda. Dimulai pada …

Tinggalkan Balasan