Beranda / Uncategorized / Jepang Menuju Kepunahan – Catatan Perjalanan Dakwah Ustadz Irsyad Syafar Ke Jepang

Jepang Menuju Kepunahan – Catatan Perjalanan Dakwah Ustadz Irsyad Syafar Ke Jepang

KASURAU – Walaupun Jepang sangat unggul dalam infrastruktur dan teknologi serta keahlian sumber daya manusianya, namun Jepang sedang bergerak menuju kepunahan. Rakyat Jepang sangat banyak yang tidak mau atau malas menikah. Kalaupun mereka menikah, mereka malas beranak. Bila beranak pun hanya dua paling banyak.

Salah satu kota di jepang, kota tsukuba misalnya, populasi penduduknya berkurang setiap tahun sekitar 100 ribu orang. Menurut perkiraan, tahun 2050 penduduknya bisa tersisa hanya 50% saja lagi. Lama-kelamaan kota tersebut bisa kehilangan penduduk.

Jumlah dokter dan jumlah orang yang berminat mengambil fakultas kedokteran, setiap tahun juga menurun. Yang paling banyak peminatnya adalah kedokteran hewan. Di jalan-jalan di Jepang, kita akan banyak temukan orang berjalan berduaan dengan anjingnya. Atau seorang nenek-nenek yang mendorong kereta bayi, tetapi isinya bukan bayi manusia, melainkan anjing.

Berbagai upaya pemerintah Jepang untuk mendorong kelahiran tidak terlalu berarti. Gratis biaya persalinan, penambahan gaji sesuai jumlah anak dan gratisnya biaya pendidikan anak tak mendorong semangat orang Jepang tuk memiliki anak dan keturunan. Masing-masing larut menikmati profesi pribadinya, tak ingin diganggu oleh banyak urusan lain. Akhirnya malah orang asing yang menikmati fasilitas tersebut. Terutama keluarga muslim yang memang senang memiliki anak.

Dari sisi ideologi dan agama, kondisi orang Jepang lebih parah. Orang Jepang nyaris bisa dikatakan tak beragama dan tak percaya Tuhan. Sensus ideologi masyarakat Jepang bisa melewati dua kali lipat jumlah penduduknya. Karena banyak yang menganut agama lebih dari satu. Disamping agama shinto, mereka mayoritas budha. Kristen dan Islam sangat minoritas. Tak melewati angka 1 %. Namun demikian, orang Jepang rata-rata hanya satu kali pergi ke kuil. Itu biasanya di malam pergantian tahun masehi. Selebihnya, agama hanya untuk status kependudukan dan pernikahan serta kematian.

Baca :   Katakan Tidak Pada Perayaan Hallowen (Bagian 1)

Yang lebih parah lagi, mereka kalau diajak beragama dan mempercayai adanya Tuhan, mereka merasa tak memerlukan itu semua. Apalagi yang dibutuhkan dari agama, segalanya telah mereka miliki tanpa agama. Begitu rata-rata pikiran mereka. Efek dari nilai agama yang sangat rendah, adalah kedangkalan akhlak dalam hal menjaga kehormatan diri, dan begitu mudahnya mendewakan (menuhankan) benda-benda keseharian mereka.

Sebenarnya, hanya Islam yang bisa menyelamatkan mereka dari kehancuran dan kepunahan. Agama lain takkan merubah situasi beragama mereka yang sudah ada. Namun tidak mudah mendakwahkan Islam kepada mereka. Butuh kesabaran dan kekuatan tekad. Apalagi bila mereka telah banyak menyaksikan perilaku sebagian kaum muslimin yang tidak teratur, pemalas, kotor, terbelakang dan bodoh. Tentu akan sulit membuat mereka menerima Islam.

Inilah PR para da’i dan muballigh untuk semakin menggenjot metodolgi, tatacara dan sarana berdakwah mereka. Bila Jepang terang benderang dengan hidayah Allah, tentu mereka juga layak memimpin umat menuju kejayaan Islam. Wallahu A’laa wa A’lam.


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Inilah 6 Jenis Haji Selain Haji Mambrur Yang Banyak Terjadi Dilapangan

Rasulullah saw bersabda: العمرة إلى العمرة كفارة ما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا …

Tinggalkan Balasan