Beranda / Uncategorized / Target Bacaan

Target Bacaan

KASURAU -Kesadaran membaca, saat terbangun setelah tidur panjangnya sering seperti topan yang perkasa tapi menyapu semua rumah, bukan memutar kincir dengan target memproduksi energi. Semangat itu membuat orang melahap tulisan apapun, buku ilmiah, tips populer, majalah, koran, novel, komik, hingga forum gosip.
Mungkin seorang pemuda yang intens membaca dalam satu windu, bisa menjadi manusia segala tahu, yang bisa memenangkan banyak kuis milyaran. Ia menjadi modal besar bagi umat, saat ia mempunyai generasi muda pembaca. Setidaknya untuk tahap awal, dari motivasi membaca menuju pembaca sistematis.
Disini kita tidak akan berbicara pilihan-pilihan antara bacaan infotainment selebriti atau tema sejarah dunia bagi seorang wartawan misalnya. Atau antara berita kriminal di suatu kampung yang tidak urgen dengan tema psikologi kepribadian bagi seorang guru atau ayah atau pemimpin.
Karena, andaikan tema mendasar tersebut sudah selesai, suatu saat akan tetap ditemui sebuah titik sadar. Yaitu kesadaran bahwa ilmu yang ada terlalu luas untuk dipelajari dan buku berkualitas terlalu melimpah untuk dibaca. Sedang waktu yang tersisa tidak cukup untuk membaca bidang yang menjadi spesialisasi, bahkan membaca banyakpun tidak selalu menjamin kematangan. Benar sekali Hasan al-Banna saat mengatakan “kewajiban yang ada jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia”.
Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan membaca. Yaitu perencanaan tentang target, referensi, sumber referensi dan membaca sistematis. Agar waktu membaca yang ada terpakai seluruhnya untuk pencapaian misi.
Yang pertama dalam perencanaan itu adalah menentukan target. Karena target bacaan itu akan menentukan harga waktu yang harus dibayar dalam hidup. Apakah bacaan itu untuk mencapai titik optimum ilmu pengetahuan yang ada saat ini, seperti para doktor di universitas-universitas terkemuka yang konsisten membaca jurnal mutakhir, untuk menambal sulam cela pengetahuan hingga menemukan solusi terbaru bagi kemanusiaan. Atau target bacaan untuk para praktisi politik, pengusaha, pekerja professional.
Target Bacaan Akademisi: Saat ini umat membutuhkan generasi yang pengetahuannya mengisi kekosongan dan menyempurnakan kekurangan. Yaitu generasi muda yang bacaannya tepat sasaran sesuai permintaan zaman. Yang hasil bacaannya menjawab tantangan umat lain “apa yang sekarang bisa kalian kontribusikan bagi kemanusiaan selain membanggakan ilmuan Islam yang telah silam?”.
Umat ini rindu karya-karya muslim kembali menjadi rujukan utama ilmu pengetahuan. Yaitu karya-karya baru yang terpajang membentang. Terpajang bukan hanya di perpustakaan yayasan dan toko buku lokal, tapi di perpustakaan-perpustakaan besar dunia. Terpajang di rak Library of Congress, Bibliothèque nationale de France atau Bibliotheca Alexandrina Mesir.
Itu target agung generasi muda muslim pembaca akademis. Sesuai dengan kompensasi yang Allah sediakan. Karena “siapa yang memberi model baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala bagi siapapun yang mengikutinya tanpa mereka tidak dikurangi sedikitpun pahalanya”, seperti motivasi dari Rasulullah.
Betapa besarnya pahala seorang Muslim, andaikan pengetahuannya membawa pada penemuan baru. Seperti penemuan kacamata yang berfungsi persis seperti mata bagi tunanetra atau handphone yang nol risiko kesehatan, atau rancangan tata kota yang membuat masyarakat hidup nyaman, atau rekonstruksi semua ilmu sosial-humaniora yang berlandaskan tauhid. Pahala besar terus mengalir selama umat manusia yang menikmati jasa itu. Itulah yang disebut amal jariyah.
Namun jalan menuju kepakaran seperti itu meminta harga yang sangat mahal. Yaitu alokasi membaca puluhan tahun yang lebih fokus pada satu bidang. Bahkan membaca seumur hidup. Karena setiap bidang ilmu sudah terlalu bercabang dengan sangat detail. Kedetailan itu menuntut seorang pembaca menguasai seluruh tema terkait tanpa kecuali.
Sehingga generasi muda yang menempuh jalan ini adalah generasi yang bernafas baca panjang. Membaca dalam sepinya lab, ditengah bisingnya tawaran pekerjaan yang bisa menghentikan pertumbuhan pengetahuannya. Yaitu mereka yang sabar. Sabar dalam penemuan ilmiah ditengah derasnya godaan aktivitas yang mengendorkan otot belajar.
Seperti itu harga dari target seorang pembaca yang ingin menjadi Ibnu Haitsam dan Ibnu Khaldun baru yang mengabadi di langit-langit sejarah, seperti juga mereka pernah menjalaninya sejak muda.
Target Bacaan Praktisi: bisa jadi target itu untuk sekedar menjawab persoalan harian dengan ilmiah dan komprehensif, bukan dengan dengan perkiraan, kebiasaan, dan perasaan.
Ia memang tidak meminta puluhan tahun kerja keras dalam membaca. Tidak juga harus membaca detail satu bidang hingga ke akar terdalamnya. Namun yang sangat penting diperhatikan. Target bacaan ini meningkat sebanding dengan tanggung jawab.
Misalnya, target bacaan para pemimpin dakwah level kota tidak sama dengan target bacaan mahasiswa penanggung jawab dakwah kampus. Karena terlalu besar implikasinya jika para pemimpin dakwah tingkat atas keliru merumuskan kebijakan. Mungkin seratus, seribu atau sejuta orang yang harus menterjemahkan kekeliruan kebijakan itu ke rumah-rumah, sekolah, unversitas, di jalan-jalan, di kantor-kantor.
Krisisnya sendiri bukan pada kelirunya kebijakan, karena kesalahan ijtihad dalam Islam masih diganjar satu pahala, tapi pada plafon cakrawala bacaan dan kedalaman bacaan atas setiap persoalan yang dihadapi. Jika setiap persoalan dakwah dihadapi dengan paradigma pengalaman 10-20 tahun lalu, padahal perkembangan masyarakat terus melaju. Pengalaman memang mempertajam insting, tapi bahan-bahan pemikiran tetaplah disuplai dari bacaan komprehensif atas situasi-situasi terbaru.
Krisisnya jika posisi struktural makin menjulang namun target bacaan hariannya seperti di masa kuliahan. Krisisnya jika dengan alasan kesibukan dan prioritas aktivitas, pertumbuhan target membaca berbanding terbalik dengan pertumbuhan masalah dakwah. Itulah krisisnya. Krisis target bacaan harian para pemegang kebijakan.
Oleh karena itu Allah mengingatkan “janganlah kalian melangkah dalam urusan dengan kosong ilmu, karena pendengaran, penglihatan dan hati itu akan dituntut pertanggung-jawabannya”.
Generasi muda muslim perlu meningkatkan target bacaan dari sekedar membaca untuk tahu menuju bacaan yang sistematis, baik itu sebagai akademisi agar bisa mencapai kepakaran yang menjadi rujukan ataupun sebagai praktisi untuk membangun kematangan pikiran, dalam bidang apapun. Agar setiap idenya layak diikuti  dan gerakannya layak diteladani.
Muhammad Elvandi, Lc.

Baca :   Makna Berbahaya Simbol Illuminati "Yes You Can" dan Simbol Mata Satu di Cafe Milik Anak Jokowi

Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Awas ! Ini Tanda – Tanda Jin Menyukai Anda

SerambiMINANG.com -Jin merupakan mahluk Allah dan mereka juga hampir sama dengan kita walaupun berada di …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: