Beranda / Uncategorized / Mahyeldi, Sosok Pemimpin Yang Mengunjungi Rakyatnya di Waktu Subuh

Mahyeldi, Sosok Pemimpin Yang Mengunjungi Rakyatnya di Waktu Subuh

KASURAU – Selama ini blusukan memang lebih popular dan melekat pada diri Jokowi. Blusukan dianggap salah satu metode serap aspirasi yang merakyat, murah, spontanitas tanpa skenario dan disukai masyarakat. Apalagi ini diperankan oleh Jokowi yang lugu, natural, spontan merespons, dan wajah ndeso, menjadi nilai lebih tersendiri, bahkan menurut salah seorang teman saya wartawan di salah satu media nasional, konon ini yang menjadi salah satu alasan kenapa Jokowi kemudian menjadi Media Darling gitu. Hampir setiap blusukan yang dilakukan oleh Jokowi, para wartawan antusias untuk mengikuti dan meliput apa yang akan dilakukan oleh Jokowi yang ndeso itu.

Itu lah fenomena Jokowi dengan blusukan nya. Tapi sebenarnya para pejabat lain juga melakukan hal yang sama, walau tidak menyebutnya dengan istilah blusukan. Salah satu yang akan saya ceritakan berikut ini adalah salah seorang pejabat teras di Pemko Padang, tepatnya Wakil Walikota nya, kebetulan dia kader PKS. Saya harus sebut kebetulan karena belakangan ini kalo menyebut PKS, sentiment orang sebagian cenderung negative, menurut survey media katanya PKS adalah partai yang paling tinggi diberitakan secara negatif, kalo Jokowi disebut Media Darling kalo PKS dibenci begitu, trus disebut apanya media ya?. 

Kita tinggalkan soal Jokowi dan PKS, kita kembali ke pembicaraan inti yang ingin saya sampaikan soal Wakil Walikota Padang itu. Namanya Mahyeldi, kemudian dia memberi gelar pada dirinya sendiri tampaknya dengan Ansharullah, makanya dia kadang lebih familier dengan nama Mahyeldi Ansharullah. Perawakannya tinggi besar, tapi kalau pas bicara suaranya lembut datar, senyumnya sering merekah ketika bertemu dengan siapapun, orangnya ramah, tidak sombong dan sepertinya kurang suka menabung (maklum beliau adalah salah satu calon Walikota yang paling kere diantara 10 calon Walikota yang maju pada putaran pertama Pilkada Padang yang sudah usai beberapa waktu yang lalu, hehe). Atau mungkin bukan ngga suka menabung, uangnya mungkin habis buat infak/sedekah kali ya dari gajinya sebagai Wakil Walikota, mungkin juga ngga nyawer proyek sana sini kali juga ya, perasaan kalau ada yang sudah jadi pejabat biasanya terjadi peningkatan signifikan dalam hal kekayaan, lha ini masa’ sudah jadi Wakil Walikota harta kekayaan ngga nambah-nambah, kasian amat Bapak yang satu ini, hehe..

Mahyeldi, begitu nama yang saya kenal. Saya pertama kali bertemu beliau ketika masih menjadi anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, kebetulan dari PKS (sorry kebetulan lagi, hehe). Beliau lakukan kunjungan ke Jogja, jelek-jelek begini saya dulu sempat kuliah di Jogja dan pura-puranya pernah jadi aktivis makanya saya bisa ketemu sama Pak Mahyeldi ini yang secara waktu itu menjadi anggota dewan terhormat.

Beberapa tahun kemudian, saya dapat kabar kalau dia kemudian terpilih menjadi Wakil Walikota Padang. Singkat ceritanya adalah saya pengen cerita blusukan Mahyeldi ini. Sebenarnya bro, kalo bicara soal blusukan Mahyeldi ini jauh lebih keren dibanding Jokowi, mungkin menjadi tidak keren karena jarang diliput media dan mukanya kurang ndeso kali ya? Hehe. Mahyeldi hampir tiap waktu turun dan serap aspirasi ke masyarakat.

Kebakaran, banjir, galodo, bersih-bersih got, majelis taklim, sidak ke kantor lurah, kantor kecamatan, kantor dinas, sampai main bola di kampung-kampung. Dari semua blusukan yang dilakukan Mahyeldi, satu yang membuatu saya terkesan yaitu blusukan shubuhnya ke Masjid-Masjid itu lho, keren abis dah, btw Jokowi sholat shubuh ke Masjid ngga ya? Hehe…nanya lho saya bukan ngejek lho ya. Berdasarkan hasil investigasi amatiran yang saya lakukan, Mahyeldi ini hamper tiap hari melakukan blusukan shubuh ke Masjid-Masjid yang ada di kota Padang.

Baca :   Berjuanglah Untuk Islam Walau Kita Pelaku Maksiat

Seandainya tidak melakukan kunjungan kerja ke luar kota, Mahyeldi berdasarkan informasi dari sespri nya dan pengamatan langsung saya, Mahyeldi tiap hari lakukan blusukan ke seluruh Masjid—Masjid yang ada di kota Padang. Hebatnya, ini sebenarnya sudah dilakukan sejak awal menjabat, jadi bohong besar kalo Mahyeldi blusukan shubuh ke Masjid-Masjid gara-gara dia maju sebagai salah satu calon Walikota, lha wong selama menjabat itu dilakukan koq. Kalau dihitung sejak Mahyeldi menjabat hingga sampai akhir masa jabatannya maka tampaknya seluruh Masjid sudah dikunjunginya saudara-saudara. Keren ngga tuh, Ust, Yusuf Mansur kalo tau pasti bakal bilang keren nih, hehe.

Blusukan shubuh Mahyeldi ini memang keren, keren sekali bahkan jika membandingkan dengan para pejabat yang sholat shubuh saja telat, ini mah masih mending kadang ada malah yang tidak sholat shubuh. Padahal kata Rasulullah (sorry bro, gini—gini dulu pernah jadi anak pesantren), sholat Shubuh dan Isya berjema’ah di Masjid itu sungguh berat bagi orang-orang munafik. Nah lho…berarti kan kalau dilanjutin kalau ada pemimpin kita yang ngga punya kebiasaan sholat shubuh berjema’ah di Masjid bisa masuk kategori munafik tuh. Tuh gampang kan kalo mau pilih pemimpin, lihat aja pernah sholat shubuh ke Masjid ngga, ya syaratnya kalau mo lihat ya ente harus sholat shubuh ke Masjid juga bro, hehe. 

Kembali ke soal blusukan Mahyeldi. Biasanya Mahyeldi datang ke Masjid, mempersilahkan yang biasa jadi imam untuk pimpin sholat, padahal yang biasa jadi imam menjadi segan berat tuh. Abis sholat shubuh berjema’ah selesai biasanya ada Jema’ah yang minta beliau mengisi kultum atau ceramah singkat setelah itu biasanya dilanjutkan dengan dialog atau penyampaian aspirasi dari masy setempat yang sholat di Masjid. Ada juga kadang tanpa kultum, Mahyeldi langsung lakukan dialog dengan masyarakat, bertanya apa saja masalah yang terjadi disini atau apa saja saran masyarakat kepada beliau selaku salah satu pimpinan di Kota Padang. Jadi blusukan shubuh Mahyeldi jauh lebih keren dibanding Jokowi karena tantangannya lebih berat karena harus bangun pagi-pagi menjelang shubuh. Jokowi mungkin kerjanya sampai malam kali jadi ngga bisa kaya’ Mahyeldi, emang Mahyeldi ngga kerja sampai malam, buktinya apa? Lha pas dia blusukan ke Masjid dekat rumah saya mukanya masih ngantukan gitu koq, hehe. Resikonya blusukan Mahyeldi ini, menjadikan jam kerjanya hamper full seharian di luar waktu istirahat. Jadi benar kata orang kalo jadi pemimpin itu waktunya harus siap diberikan seluruhnya untuk masyarakat.

Jadi, blusukan seperti Jokowi di jam-jam biasa siang atau malam mah siapa aja bisa lakukan. Coba Jokowi, lakukan yang seperti Mahyeldi lakukan, berani ngga? Akhirnya, apa yang dilakukan oleh Mahyeldi, Jokowi dengan blusukan nya adalah persoalan yang biasa-biasa saja, tapi tidak menjadi biasa karena kita memilih pemimpin yang miskin komitmen, miskin kemauan (good will kata ilmuan kampus), bahkan kadang miskin moral, miskin integritas, apalagi blusukan hanya untuk sekedar pencitraan maju sebagai capres (jangan disebut namanya, maklum lagi media darling, ntar pada marah darling-darling nya, hehe…pizzsss). Selamat berPilkada Pak Mahyeldi, semoga terpilih menjadi Walikota yang baru karena kita butuh pemimpin yang kaya integritas, kaya good will, kaya komitmen dan kami tak butuh pemimpin yang kaya harta, khawatir yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.

Romi Siska Putra


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Betonisasi Jalan Kota Padang Tinggal 26 Persen Lagi

serambiMINANG.com – Proses betonisasi jalan di beberapa wilayah Kota Padang, Sumatera Barat hingga Oktober tahun ini …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: