Beranda / Uncategorized / Membangun Kader Ulama

Membangun Kader Ulama

KASURAU – Siang tadi seorang siswa datang curhat. Dia masih kelas 3 SMP. Curhat ini terkait pendaftaran ulang masuk MA Ar Risalah yang sudah dimulai sejak ahad kemaren dan akan berakhir di jum’at 28/2 depan. Anak tersebut berkata: “Ust, ana mau masuk jurusan timur-tengah (jurusan agama). Tapi orang tua ana mengatakan hanya masuk IPA aja. Kalau gak, keluar dari Ar Risalah…” begitu kata anak tsb. Wajahnya menunjukkan kesedihan. “Ust akan usahakan membantu,” kata saya menenangkannya.

Sepekan yang lalu juga ada anak yang bertanya, “Ust, kalau kita tetap memilih jurusan timteng, sementara orang tua kita menginginkan IPA, apakah kita durhaka?”. Saya tidak bisa memberikan jawaban langsung. “Cobalah berkomunikasi dulu dengan baik bersama ortunya…” kata saya sebagai jawaban sementara.

Saya yakin pasti orang tua punya alasan masing-masing dalam menentukan pilihan jurusan anaknya sekaligus ada cita-cita tersendiri terhadap anaknya. Sedangkan kita pihak sekolah, peran yang bisa dilakukan adalah memberikan pembekalan secukupnya kepada anak, tentang carrier planing (gambaran masa depan). Untuk bidang IPA didatangkan seorang Doktor dari Unand. Dan untuk jurusan timteng diberikan oleh ust alumni timteng. Kemudian ada test psikotes dan IQ, dilanjutkan dengan diskusi dengan guru BK dan juga arahan para mentor (murabbi). Disamping tentunya diminta berdiskusi dengan orang tua mereka.

Namun pilihan jurusan agama ini memang masih minimal peminatnya. Mungkin masa depannya yang belum jelas atau tak terlalu cemerlang dibanding jurusan lain. Nanti akan kuliah dimana, kerja apa dan dimana, dan pertanyaan sejenis, bisa jadi menjadi penyebab kurangnya minat.

Baca :   Berprestasi Tanpa Mengumbar Harga Diri

Terlepas dari berbagai situasi tersebut, realitanya memang tidak mudah menyiapkan kader-kader berkafaah syar’i (calon ulama). Membutuhkan input siswa yang cerdas, kuat dalam bidang eksact dan mampu bersabar/bertahan dalam tantangan kehidupan. Dan tentunya direstui oleh orang tuanya.

Sementara kecendrungan yang agak dominan ditengah masyarakat mengabarkan sebaliknya. Kebanyakan (bukan berarti seluruhnya) anak-anak SD yang cerdas cendrung menyambung ke SMP. Sisanya ke madrasah tsanawiyah atau ponpes.

Lalu, kebanyakan anak-anak cerdas di MTs cendrung melanjutkan ke SMA. Siasanya memilih madarasah (MA). Setelah itu, kebanyakan siswa/i yang cerdas di MA, cendrung mengambil jurusan IPA. Selebihnya mengambil jurusan IPS dan agama. Kadang jumlah yang memilih IPS pun lebih banyak dari pada jurusan agama. Bahkan, masih ada MA yang tidak mempunyai jurusan agama. Lalu jebolan jurusan agama inilah yang kemudian akan masuk fakultas syariah dan ushuluddin di perguruan tinggi Islam. Dan kemudian diharapkan menjadi ulama.

Walaupun kesimpulan ini tidak bisa digeneralisir, namun bisa dilihat secara riil dilapangan. Karena itu perjalanan dan kerja-kerja menyiapkan kader- kader ulama (berkafaah syar’i) merupakan pekerjaan berat dan membutuhkan nafas panjang. Juga butuh peningkatan kesadaran orang tua (masyarakat) tentang urgensi masalah ini.

Irsyad Syafar Lc Med


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Inilah 6 Jenis Haji Selain Haji Mambrur Yang Banyak Terjadi Dilapangan

Rasulullah saw bersabda: العمرة إلى العمرة كفارة ما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: