Beranda / Uncategorized / Nabi Yusuf dan Deritanya

Nabi Yusuf dan Deritanya

KASURAU – Surat yusuf merupakan surat yang ke 12 dalam Al-qur’an. Dari namanya saja, kita sudah bisa menebak apa isi surat ini. Ya, surat ini didominasi oleh ayat-ayat yang berkisah tentang kehidupan nabi Yusuf. Surat ini adalah satu-satunya surat yang diturunkan disaat Rasulullah mengalami peristiwa-peristiwa berat yang memainkan perasaan beliau.

Peristiwa-peristiwa itu adalah:
– ‘Aamul huzni (tahun duka cita ketika paman dan istri Rasulullah meninggal)
– Bai’ah ‘aqabah

Turunnya surat Yusuf ini sebagai pelipur lara bagi Rasulullah dan para sahabatnya. Mengingatkan dan memberitahu beliau bahwa ada seorang nabi yang mengalami penderitaan lebih berat dari beliau (nabi Yusuf) dan agar beliau tidak tenggelam dalam kesedihan.

Seperti yang terkisah dalam surat tersebut, nabi Yusuf terus ditimpa oleh ujian silih berganti. Dimulai saat beliau di lemparkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, lalu ditemukan oleh musafir dan menjualnya dengan harga yang murah untuk dijadikan budak, berpindah-pindah tangan hingga ia dibeli oleh istri raja.

Tak berhenti sampai disana, nabi Yusuf juga mendapatkan ujian didalam istana, yaitu ketika istri raja berusaha merayunya. Melihat kejadia itu, raja murka. Namun ada seorang saksi mata yang secara tidak langsung mengatakan bahwa nabi Yusuf tidak bersalah.Tetapi berita tentang kejadian itu tersebar tak sesuai fakta sehingga nabi Yusuf merasa tersudutkan dan akhirnya mendekam di penjara.

Masih banyak lagi ujian-ujian yang dirasakan nabi Yusuf yang benar-benar membuat kita merasa “ujian dan cobaan yang kita alami belum apa-apa“. Setelah bertahun-tahun, akhirnya nabi Yusuf keluar dari penjara karena berhasil mentakwilkan mimpi sang raja dan memberi saran dan solusi atas mimpi tersebut. Sebagai hadiah, raja mempersilahkannya untuk menduduki jabatan apa saja yang ia inginkan di kerajaan.

Menurut kita, diberi jabatan itu adalah sebuah kebahagiaan karena berada diposisi yang disegani oleh orang-orang. Namun bagi nabi Yusuf, disanalah letak ujian lain baginya. Ujian untuk tidak semena-mena dalam memanfaatkan jabatan, ujian untuk amanah dan berkontribusi secara maksimal sesuai kapasitas. Dan ujian lain ketika masa jabatannya, ia harus berhadapan dengan saudara-saudaranya yang sudah tega membuangnya bertahun-tahun yang lalu. Iya! Ujian kesabaran untuk tidak membalas dendam.

Itulah serentetan ujian-ujian silih berganti yang dirasakan nabi Yusuf yang sangat menguras tenaga, pikiran, dan perasaannya. Dibalik kisah yang luar biasa ini, ada banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik dan amalkan, Diantaranya:

1. Kita harus mewaspadai adanya para pendengki dengan cara merahasiakan berita/sesuatu yang mungkin saja dapat mengusik mereka. (Berkaitan dengan mimpi nabi Yusuf tentang 11 bintang dan matahari bersujud padanya). Tidak selalu hal-hal yang baik/ilmu itu segera kita sampaikan kepada orang lain. Semua tergantung situasi dan kondisi.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Abu Hurairah diminta Rasulullah untuk menyampaikan pesan beliau kepada siapa saja yang ia temui. Pesannya: “Barang siapa yg beriman kepada Allah dan rasulNya, maka berikanlah ia kabar gembira bahwa ia akan masuk surga”. Lalu Abu Hurairah bertemu Umar r.a. di jalan dan langsung menyampaikan pesan tersebut. Mendengar itu, Umar mendorongnya. Abu Hurairah langsung berlari kembali menemui Rasulullah dan menceritakan kejadiannya. Umar yang mengikutinya langsung berkata kepada Rasulullah “wahai Rasulullah, apakah engkau yang menyuruhnya untuk berkata demikian?”. Rasulullah menjawab “benar”. Umar berkata “wahai Rasulullah, sebaiknya berita ini tidak perlu disebar luaskan karna ini akan membuat manusia malas beramal”.

Baca :   Penginjil dari Ranah Minang (1927-2012)

2. Pentingnya bagi kita untuk selalu menghadirkan kesabaran dalam menghadapi makar musuh karna kita harus yakin bahwa makar Allah lebih besar. (Perjalanan nabi Yusuf dalam perdagangan budak)

3. Kesadaran kita akan keniscayaan bahwa ujian itu akan datang silih berganti. (Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, ada banyak sekali ujian yang dialami nabi Yusuf silih berganti). Jadi, kesadaran ini harus selalu ada dalam diri kita ketika kita melangkah dijalan dakwah agar kita tak mudah menyerah.

4. Dakwah itu tidak kenal henti. Situasi sesulit apapun dan kondisi sesempit apapun, dakwah itu harus diperjuangkan tanpa henti. (Dalam surat Yusuf: 37-40). Kita harus melakukan upaya-upaya untuk keluar dari kesempitan itu. Nabi Yusuf ketika dipenjara, ia sengaja meminta salah seorang penghuni penjara yang terbebas yang juga mimpinya sudah ditakwilkan oleh nabi Yusuf untuk bercerita ke orang-orang bahwa dialah yang mentakwilkan mimpi. Sampai akhirnya berita itupun diketahu raja.

5. Pentingnya para da’i memiliki keunggulan dan spesialisasi dibidang tertentu sehingga dia bisa memberi dan menawarkan solusi kepada umat. (Saat mimpi raja ditakwilkan oleh nabi Yusuf, beliau tak hanya mentakwilkan tapi juga memberikan solusi apa yang harus dilakukan kedepan kepada raja)

6. Pentingnya melakukan rehabilitasi citra dakwah. (Yusuf: 50-53). Dalam kisah ini, nabi Yusuf meminta raja untuk memeriksa ulang kasusnya sampai akhirnya terbukti bahwa sebenarnya nabi Yusuf tidak bersalah. Dan beliau ingin nama dan citra baiknya dikembalikan.

7. Kesiapan para da’i untuk berkontribusi dan memikul tanggung jawab kenegaraan. (Yusuf: 54-55). Nabi Yusuf ketika ditawarkan jabatan oleh raja, ia siap berkontribusi dibidang yang ia punya kapabilitas didalamnya. Tentu dengan membawa misi dakwah.

8. Keharusan berbuat baik dan memaafkan kaum pendengki. Inilah yang selalu dilakukan nabi Yusuf dalam perjalanan hidupnya. Walaupun didera banyak derita, namun ia tak pernah berhenti melakukan dan menebar kebaikan serta memaafkan kesalahan saudara-saudaranya.

Dan kisah ini ditutup dengan sebuah do’a yang dilantunkan oleh nabi Yusuf di ayat 101. “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkau telah mengurniakan daku sebahagian dari kekuasaan (pemerintahan) dan mengajarku sebahagian dari ilmu tafsiran mimpi. Wahai Tuhan yang menciptakan langit dan bumi Engkau Penguasa dan Pelindungku di dunia dan di akhirat; sempurnakanlah ajalku (ketika mati) dalam keadaan Islam dan hubungkanlah daku dengan orang-orang yang soleh”.


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Masa Lalu Bukan Alasan Berbuat Jahat

serambiMINANG.com – Beberapa kasus pencabulan pernah menjadi pembahasan yang panjang dan diangkat oleh media secara …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: