Beranda / Uncategorized / Gemar Membaca dan Gerbang Peradaban

Gemar Membaca dan Gerbang Peradaban

Salah satu pilar kemajuan bangsa adalah gemar membaca, dengan gemar membaca secara otomatis kebutuhan buku meningkat . Jadi buku akan banyak diterbitkan manakala kegemaran membaca menjadi sebuah trend. Oleh karenanya buku adalah gerbang utama peradaban.
 
KASURAUOleh Dra. Hj Herlini Amran, MA

Peradaban sebuah bangsa sebenarnya dapat diukur dari berapa buku yang telah diterbitkan dalam masa satu tahun, semakin banyak buku yang diterbitkan maka boleh jadi bangsa itu semakin maju, sebaliknya semakin sedikit buku yang diterbitkan bisa jadi bangsa itu masih belum maju atau terbelakang. Indonesia termasuk negara dengan penghasilan perkapita menengah, namun dalam urusan cetak-mencetak buku tampaknya masih ketinggalan dengan negara Singapura misalnya.

Oleh karena itu, geliat peradaban mungkin kita masih ketinggalan dari negera tersebut dan fakta telah menunjukkan bahwa negara kita mempunyai ketergantungan dalam perdagangan dengan negara itu. Karena sebagian perdagangan luar negeri kita harus memanfaatkan Singapura sebagai jalur perdagangan.

Salah satu pilar kemajuan bangsa adalah gemar membaca, dengan gemar membaca secara otomatis kebutuhan buku meningkat . Jadi buku akan banyak diterbitkan manakala kegemaran membaca menjadi sebuah trend. Oleh karenanya buku adalah gerbang utama peradaban.

Kondisi minat baca masyarakat Indonesia hingga saat ini masih tergolong rendah, masuk dalam peringkat terbawah dari 17 negara yang skornya berada di bawah nilai rata-rata OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi.

Peradaban adalah sebuah obor kemanusian, dimana peradaban sebuah bangsa mampu mempengaruhi kehidupan bangsa lain secara suka rela. Artinya peradaban sebuah bangsa yang menjadi trend setter kehidupan umat manusia. Contoh-contoh peradaban dapat dilacak dari sejarah-sejarah dunia, seperti Peradaban Yunani, peradaban Islam dari abad 7 sd 17, peradaban Eropa dari abad 18 sd sekarang.

Baca :   Meninggal Dalam Keadaan Berhutang, Bagaimana?

Oleh karena itu, seorang peneliti sosial David Mc Cleland melansir sebuah teori N-Ach (need for achievement), teori tersebut menghubungkan dua variabel utama yakni kemajuan dan buku bacaan yang diterbitkan, ternyata memang ada hubungan kemajuan dengan buku bacaan, dimana buku bacaan tersebut rata-rata bersifat memotivasi untuk maju dan berkembang.

Sudah saatnya pemerintah merevitalisasi kembali lembaga/badan milik pemerintah seperti PNRI (Perpustakaan Nasional RI), Balai Pustaka dll. Agar lembaga tersebut dengan program-programnya mampu meningkatkan budaya membaca dan menggenjot penerbitan buku-buku yang mampu memompa semangat individu dan masyarakat. Dengan demikian, perlu dukungan pendanaan dan pengelolaan manajemen yang baik.

Demikian juga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan terobosan kurikulum yang mampu merangsang antusiasme siswa mencintai buku disamping juga membuat sayembara menulis sastra secara berjenjang dari tingkat kota, provinsi hingga nasional. Tentu dengan melibatkan dinas pendidikan setempat. Bakat-bakat alam yang ada di Indonesia perlu ditumbuh kembangkan kembali, kelak akan muncul novelis-novelis handal di Indonesia.

Momen Hari Buku Sedunia ini, mari kita budayakan kembali kegemaran membaca dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan satuan pendidikan sehingga dengan mencintai buku diharapkan bangsa Indonesia segera dapat keluar dari keterpurukan menuju bangsa yang maju dan beradab. Wallahu’alam

*(Menyemangati Hari Buku Sedunia/World Book Day yang dirancang oleh UNESCO tgl 23 April)


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

[Alkisah] Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya

[Alkisah] Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya

Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: