Beranda / Uncategorized / Membaca Yasin untuk Orang Yang Sakaratul Maut dan Mayit – Bagian 1

Membaca Yasin untuk Orang Yang Sakaratul Maut dan Mayit – Bagian 1

Oleh : Ustadz Farid Numan
Mukadimah
Di antara kebiasaan sebagian kaum muslimin di dunia Islam, mereka membaca surat Yasin untuk meringankan proses naza’ (sakaratul maut). Sebagian menolak ini dan menganggapnya sebagai amalan bid’ah dhalalah. Sebagian lain membolehkannya, bahkan menganjurkannya. Sama dengan hal ini, yakni membacanya ketika sudah wafat baik dengan tujuan meringankannya atau mengirim pahala bacaannya, baik di baca di sisi mayit atau di kubur.
Sebenarnya, bagaimanakan masalah ini?
I. Membaca Yasin atau Surat lainnya Untuk Orang Sakaratul Maut
Dari Ma’qil bin Yasar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس
“Bacalah surat Yasin kepada orang yang menjelang wafat di antara kalian.”
Takhrij Hadits :
Hadits ini dikeluarkan oleh:
– Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al Janaiz Bab Qira’ah ‘Indal Mayyit, No. 3121
– Imam Ahmad dalam Musnadnya, Jilid. 5, No. 19416
– Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Kitab Al Janaiz wa Maa Yata’alaqu biha Muqaddiman wa Mu’akhiran Fashl fi Al Muhtadhar, No. 3002.
– Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunannya, Kitab Al Janaiz Bab Maa Ja’a fimaa Yuqalu ‘Indal Maridh Idza Hadhara, No. 1448
– Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir, No. 16904
– Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 2356
Kedudukan Hadits:
Dengan dimasukannya hadits ini dalam kitab Shahih-nya Imam Ibnu Hibban, maka menurutnya hadits ini adalah shahih. Hal ini juga ditegaskan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. (Bulughul Maram, Kitabul Janaiz, no. 437. Cet.1, Darul Kutub Al Islamiyah)
Sementara, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mendhaifkan hadits ini. (lihat Irwa’ul Ghalil No. 688, Misykat Al Mashabih No. 1622, Dhaif Al Jami’ush Shaghir No. 1072, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3121, dan Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1448)
Imam Ash Shan’ani menjelaskan, bahwa Imam Ibnul Al Qaththan menyatakan adanya cacat pada hadits ini yakni idhthirab (goncang), dan mauquf (hanya sampai sahabat nabi), dan terdapat rawi (periwayat) yang majhul (tidak dikenal) yakni Abu Utsman dan ayahnya. Sementara, Imam Ibnul ‘Arabi mengutip dari Imam Ad Daruquthni, yang mengatakan bahwa hadits ini sanadnya mudhtharib (goncang), majhulul matni (redaksinya tidak dikenal), dan tidak shahih satu pun hadits dalam bab ini (tentang Yasin). (Subulus Salam, 3/63. Lihat juga Al Hafizh Ibnu Hajar, Talkhish Al Habir, No. 734, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 4/ 22. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)
Namun demikian, kelemahan hadits ini diperkuat oleh riwayat lainnya.
Imam Ahmad dalam Musnad-nya, mengatakan, telah berkata kepada kami Abul Mughirah, telah berkata kepada kami Shafwan, katanya: “Dahulu para masyayikh (guru) mengatakan jika dibacakan surat Yasin di sisi mayit, maka itu akan meringankannya.” 
Pengarang Musnad Al Firdaus telah menyandarkan riwayat ini, dari Abu Darda’ dan Abu Dzar, mereka mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidaklah seorang mayit meninggal lalu dibacakan surat Yasin di sisinya, melainkan Allah Ta’ala akan memudahkannya.”
Lalu, Imam Ash Shan’ani mengatakan, bahwa dua riwayat inilah yang menguatkan penshahihan yang dilakukan Imam Ibnu Hibban, yang maknanya adalah menjelang kematian (bukan dibaca sesudah wafat, pen), dan dua riwayat ini lebih jelas dibanding riwayat yang dijadikan dalil olehnya. (Subulus Salam, Ibid. At Talkhish Al Habir, Ibid. Nailul Authar, Ibid)
Sebagian kalangan mendhaifkan riwayat Imam Ahmad, dari Abul Mughirah, dari Shafwan di atas, karena dua faktor. Pertama, kesamaran (mubham) para masyayikh, siapa mereka? Kedua, dalam sanadnya terdapat Shalih bin Syuraih yang dinilai majhul (tidak dikenal) oleh Imam Abu Zur’ah.
Namun, hal ini telah dijawab, bahwa masyayikh di atas adalah para sahabat nabi, sebagaimana kata Al Hafizh Ibnu Hajar. Maka tidak benar jika dikatakan mubham (samar). Ada pun Shalih bin Syuraih, hanya dianggap majhul oleh Abu Zur’ah, sedangkan para imam lain mengambil hadits darinya.
Imam Adz Dzahabi memberikan jawaban yang mengoreksi pendapat Abu Zur’ah, Katanya:
قال أبو زرعة: مجهول قلت: روى عنه جماعة
Berkata Abu Zur’ah: Majhul. Aku katakan: “Jamaah (ahli hadits) telah meriwayatkan darinya.” (Mizanul I’tidal, 2/295)
Apa yang dikatakan oleh Imam Adz Dzahabi sebagai netralisir dari anggapan Imam Abu Zur’ah atas kemajhulan Shalih bin Syuraih. Justru Imam Abu Hatim sendiri menceritakan jati diri Shalih bin Syuraih ini, katanya:
صالح بن شريح كاتب عبد الله بن قرط وكان عبد الله بن قرط أميرا لأبي عبيدة بن الجراح على حمص
“Shalih bin Syuraih adalah seorang sekretaris Abdullah bin Qurth, dan Abdullah bin Qurth adalah pemimpin daerah Himsh yang diangkat Abu Ubaidah bin Al Jarrah.” (Al Jarh wat Ta’dil, No. 1775)
Maka, penghasanan yang dilakukan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar, tidak salah. Insya Allah
Ibnu ‘Alan dalam Syarh Al Adzkar menerangkan bahwa Imam Ibnu Hajar juga menjadikan riwayat dari Shafwan ini sebagai penguat hadits ini, dan menurutnya riwayat Shafwan tersebut adalah mauquf dan sanadnya hasan. Bahkan, Al Hafizh Ibnu Hajar menghukumi riwayat tersebut adalah marfu’ (sampai kepada Rasulullah) dengan alasan para masyayikh (guru) tersebut yakni para sahabat dan tabi’in senior, tidak mungkin berkata menurut pendapat mereka sendiri. Sementara Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, dengan sanad shahih, dari jalan Abu Sya’tsa’ Jabir bin Zaid, salah seorang tabi’in terpercaya, bahwa dianjurkan dibacakan di sisi mayit surah Ar Ra’du. (Raudhatul Muhadditsin, 10/266/4691. Al Adzkar, 1/144)
Tertulis dalam kitab Raudhatul Muhadditsin, disebutkan bahwa Imam An Nawawi dalam Al Adzkar menyatakan hadits ini dhaif, lantaran ada dua orang yang majhul (tidak dikenal), hanya saja –katanya- Imam Abu Daud tidak mendhaifkannya. Namun, Imam An Nawawi menjadikan hadits ini sebagai dalil sunahnya membaca surat Yasin dihadapan orang yang sedang menghadapi kematian. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 5/76)
Maka, kedhaifan hadits di atas telah diperkuat oleh beberapa riwayat lain yang mauquf (dari Abu Darda dan Abu Dzar) dan marfu’ (riwayat Shafwan) , sehingga penshahihan yang dilakukan oleh Imam Ibnu Hibban, lalu dikuatkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar, Imam Ash Shan’ani, Imam Asy Syaukani, dan para imam lainnya menjadikan hadits ini maqbul (bisa diterima). 
Wallahu A’lam
Makna Mautakum
Mautakum berarti orang yang sedang menghadapi kematian, bukan orang sudah wafat. Imam Ibnu Hajib mengatakan, maksud hadits ini adalah ketika orang tersebut menjelang wafat, bukan mayit yang dibacakan Al Quran.(Imam Ahmad An Nafrawi, Al Fawakih Ad Dawani ‘Ala Risalati Ibni Abi Zaid Al Qairuwani, 3/282). 
Al ‘Allamah Abu Bakr Ad Dimyathi mengatakan, dibacakan ketika menjelang wafat (muqaddimat), karena sesungguhnya orang wafat tidaklah dibacakan Al Quran. (I’anatuth Thalibin, 2/107).
Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri mengatakan: “Ketahuilah! Maksud Al Mauta dalam hadits ini adalah orang yang sedang menghadapi kematian, bukan orang yang sudah mati secara hakiki.” (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/53. Maktabah As Salafiyah)
Imam Abul Hasan As Sindi mengatakan: “Yakni ketika menghadapi kematian atau sesudah wafat, disebutkan: tetapi yang benar adalah yang pertama (menghadapi kematian). Karena mayit tidaklah dibacakan Al Quran .” (Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah, No. 1438. Mawqi’ Ruh Al Islam)
Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Hafizhahullah mengatakan:
وقوله: (موتاكم) أي: الذين قاربوا الموت، وليس المقصود به الذي مات
“Sabdanya (mautakum): yaitu orang-orang yang mendekati kematian, bukan maksudnya orang yang sudah mati.” (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad, Syarh Sunan Abi Daud No. 223. Maktabah Misykah)
Makna-makna seperti juga disampaikan oleh para imam lainnya seperti Imam An Nawawi, Imam Al Qurthubi, dan lainnya.
Para Ulama Yang Menganjurkan Membaca Yasin di Hadapan Orang Yang Sakaratul Maut
Perlu diketahui, anjuran membaca surat Yasin dihadapan orang yang sedang sakaratul maut adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Hal ini dikatakan oleh Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah sebagai berikut:
وقال الجمهور: يندب قراءة {يس} لحديث «اقرؤوا على موتاكم يس» واستحسن بعض متأخري الحنفية والشافعية قراءة {الرعد} أيضا ً، لقولجابر: «إنها تهون عليه خروج روحه»
والحكمة من قراءة {يس} أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها، فإذا قرئت عنده، تجدد له ذكر تلك الأحوال.
Jumhur ulama mengatakan: disunahkan membaca Yasin, lantaran hadits: Bacalah oleh kalian kepada orang yang menghadapi sakaratul maut, surat Yasin. Sebagian ulama muta’akhirin (belakangan) dari kalangan Hanafiah dan Syafi’iyah juga memandang baik membaca surat Ar Ra’du, dengan alasan perkataan Jabir: “Hal itu bisa meringankan ketika keluarnya ruh.”
Hikmah dibacakannya surat Yasin adalah bahwa peristiwa kiamat dan hari kebangkitan disebutkan di dalam srat tersebut. Maka, jika dibacakan di sisinya hal itu bisa memperbarui ingatannya terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 2/599. Maktabah Misykah)
Pendapat ini pun didukung oleh lembaga fatwa Lajnah Daimah di Kerajaan Saudi Arabia dan Syaikh Shalih Fauzan Hafizhahullah, sebagaimana yang akan kami paparkan nanti.
Berikut ini adalah sebagian saja para imam yang membolehkan dan menganjurkan membaca surat Yasin bagi orang yang sakaratul maut.
1. Al Imam Al Hafizh Abu Hatim Ibnu Hibban Radhiallahu ‘Anhu, sebagaimana tertera dalam kitab Shahih-nya:
قال أبو حاتم رضى الله تعالى عنه قوله اقرؤوا على موتاكم يس أراد به من حضرته المنية لا أن الميت يقرأ عليه وكذلك قوله صلى الله عليه وسلم لقنوا موتاكم لا إله إلا الله
“Berkata Abu Hatim Radhiallahu ‘Anhu, sabdanya: “Bacalah terhadap mautakum surat Yasin.” Maksud (mautakum) adalah barang siapa yang sedang menghadapi kematian, sebab mayit tidaklah dibacakan Al Quran atasnya. Demikian pula sabdanya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Talqinkan mautakum: Laa Ilaha Illallah.” (Shahih Ibnu Hibban No. 3002)
2. Imam Abu Ishaq Asy Syirazi Rahimahullah, mengatakan dalam kitabnya, Al Muhadzdzab:
ويستحب أن يقرأ عنده سورة يس لما روى معقل بن يسار أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال اقرءوا على موتاكم يعني يس
“Dan disunahkan membaca di sisinya surat Yasin, karena telah diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bacalah oleh kalian terhadap orang yang sakaratul maut diantara kalian,” yakni Yasin. (Al Muhadzdzab, 1/126. Mawqi’ Ruh Al Islam)
3. Imam An Nawawi Rahimahullah, mengatakan dalam kitabnya, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab:
يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ عِنْدَ المُحْتَضَرِ سُورَةَ (يس) هَكَذَا قَالهُ أَصْحَابُنَا وَاسْتَحَبَّ بَعْضُ التَّابِعِينَ سُورَةَ الرَّعْدِ أَيْضًا.
“Disunahkan membacakan surat Yasin di sisi orang yang sedang menghadapi kematian. Demikian ini juga dikatakan oleh para sahabat kami (syafi’iyah), dan disukai pula oleh sebagian tabi’in membaca surat Ar Ra’du.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 5/76. Dar ‘Alim Al Kitab)
4. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, mengatakan dalam tafsirnya:
وكأن قراءتها عند الميت لتنزل الرحمة والبركة، وليسهل عليه خروج الروح، والله أعلم.
“Dan, seakan membacanya di sisi mayit akan menurunkan rahmat dan berkah, dan memudahkan keluarnya ruh. Wallahu A’lam” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/562. Dar An Nasyr wat Tauzi’)
Maksud mayit dalam kalimat Imam Ibnu Katsir di atas adalah orang yang menjelang wafat, bukan orang yang sudah wafat.
5. Imam Abdul Karim Ar Rafi’i Rahimahullah
Beliau berkata dalam kitab Fathul Aziz Syarh Al Wajiz, biasa disebut Asy Syarhul Kabir:
تتلي عليه سورة يسن لما روى انه صلي الله عليه وسلم: قال (اقرؤ يس علي موتاكم) واستحب بعض التابعين المتأخرين قراءة سورة الرعد عنه ايضا
“Dibacakan atasnya surat Yasin, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bacalah Yasin atas orang yang sakaratul maut di antara kalian.” Disukai oleh sebagian tabi’in generasi belakangan, untuk membaca surat Ar Ra’du juga.” (Imam Abdul Karim Ar Rafi’i, Fathul Aziz Syarh Al Wajiz (Asy Syarhul Kabir), 5/110. Darul Fikr)
6. Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdil Hadi As Sindi Rahimahullah, mengatakan dalam Hasyiahnya:
أَيْ عَلَى مَنْ حَضَرَهُ الْمَوْت أَوْ بَعْد الْمَوْت أَيْضًا وَقِيلَ بَلْ الْمُرَاد الْأَوَّل لِأَنَّ الْمَيِّت لَا يُقْرَأ عَلَيْهِ وَقِيلَ لِأَنَّ سُورَة يس مُشْتَمِلَة عَلَى أُصُول الْعَقَائِد مِنْ الْبَعْث وَالْقِيَامَة فَيَتَقَوَّى بِسَمَاعِهَا التَّصْدِيق وَالْإِيمَان حَتَّى يَمُوت .
“Yaitu terhadap orang yang sedang menghadapi kematian, atau sesudah matinya juga. Dikatakan: tetapi maksudnya adalah yang pertama (sebelum wafat) karena mayit tidaklah dibacakan Al Quran atasnya. Dan, disebutkan: karena surat Yasin mengandung dasar-dasar aqidah; berupa hari kebangkitan, kiamat, maka dengan mendengarkannya dapat menguatkannya dan membenarkan dan mengimaninya, sampai dia meninggal.” (Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah, No. 1438. Mawqi’ Ruh Al Islam)
7. Imam Al Hashfaki Al Hanafi
Dalam Ad Durrul Mukhtar Syarh Tanwir Al Abshar, Imam Al Hashfaki mengatakan dianjurkan membaca surat Yasin dan Ar Ra’du buat yang sedang mengalami sakaratul maut. (Imam Al Hashfaki, Ad Durrul Mukhtar, 2/207. Darul Fikr)
8. Imam Muhammad Amin bin ‘Abidin Al Hanafi
Sementara Imam Ibnu ‘Abidin, dalam Hasyiah-nya memberikan penjelasan ucapan Imam Al Hashfaki ini dengan menambahkan hadits: “Bacakanlah orang yang sedang sakaratul maut di antara kalian, yakni surat Yasin.” Diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Majalid, dari Asy Sya’bi, bahwa dahulu orang-orang Anshar jika ada yang orang yang sedang sakaratul maut, mereka membacakan surat Al Baqarah. Dia juga menyebutkan bahwa ulama muta’akhirin (belakangan) menilai baik membaca Ar Ra’du lantaran ucapan Jabir: bahwa hal itu bisa meringankan keluarnya ruh. (Imam Ibnu ‘Abidin, Hasyiah Raddul Muhtar ‘Ala Ad Durril Mukhtar, 2/207. Darul Fikr)
9. Beberapa Imam madzhab Asy Syafi’i
Dalam kitab I’anatuth Thalibin karya Imam As Sayyid Al Bakri Ad Dimyathi Rahimahullah -yang merupakan syarh atas kitab Fathul Mu’in-nya Imam Al Malibari- beliau menuturkan beberapa perkataan para ulama dalam kitabnya itu:
وفي رباعيات أبي بكر الشافعي: ما من مريض يقرأ عند يس إلا مات ريانا، وأدخل قبره ريانا، وحشر يوم القيامة ريانا.
قال الجاربردي: ولعل الحكمة في قراءتها أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها، فإذا قرئت عليه تجدد له ذكر تلك الاحوال.
(وقوله: والرعد) أي ويسن أن يقرأ عنده الرعد أي لقول جابر بن زيد: فإنها تهون عليه خروج الروح.
Dalam Ruba’iyat, Abu Bakar Asy Syafi’i berkata, “Tidaklah surat Yasin dibacakan kepada orang sakit melainkan dia akan wafat dalam keadaan puas (tidak haus), dimasukkan ke kubur dalam keadaan puas, dan di kumpulkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan puas.”
Berkata Al Jarubardi: “Hikmah dibacakannya adalah bahwa peristiwa kiamat dan hari kebangkitan disebutkan dalam surat tersebut, maka jika dibacakan atasnya dia bisa memperbarui ingatannya atas kejadian-kejadian tersebut.
(Perkataannya: dan surat Ar Ra’du) artinya disunahkan membaca di sisinya surat Ar Ra’du, yaitu lantaran ucapan Jabir bin Zaid: Hal itu akan meringankannya ketika keluarnya ruh. (I’anatuth Thalibin, 2/107)
10. Imam Manshur bin Yusuf Al Bahuti Al Hambali Rahimahullah
Beliau mengatakan dalam kitab Raudhul Murabba’:
ويقرأ عنده سورة يس لقوله صلى الله عليه وسلم: “اقرؤوا على موتاكم سورة يس” رواه أبو داود ولأنه يسهل خروج الروح ويقرأ عنده أيضا الفاتحة
“Dan dibacakan surat Yasin di sisinya, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bacalah Yasin atas orang yang mengahdapi skaratul maut di antara kalian.” Diriwayatkan oleh Abu Daud. Lantaran ini bisa memudahkan keluarnya ruh, dan juga dibacakan di sisinya surat Al Fatihah.” (Raudhul Murabba’, 1/122. Darul Fikr)
11. Imam Abu Ishaq bin Muflih Al Hambali Rahimahullah
Beliau mengatakan dalam kitab Al Mubdi’ Syarh Al Muqni’:
“ويقرأ عنده سورة “يّس” لقوله عليه السلام “اقرؤوا {يّس} على موتاكم” رواه أبو داود وابن ماجه وفيه لين من حديث معقل بن يسار ولأنه يسهل خروج الروح ونص على أنه يقرأ عنده فاتحة الكتاب وقيل وتبارك.
“Dan dibacakan di sisinya surat Yasin, karena sabdanya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Bacalah Yasin untuk orang yang menghadapi kematian di antara kalian. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, di dalamnya ada kelemahan, dari hadits Ma’qil bin Yasar) karena ini bisa memudahkan keluarnya ruh. Dan, katanya hendaknya dibaca surat Al Fatihah di sisinya. Dikatakan: surat Tabarak (Al Mulk).” (Imam Ibnu Muflih, Al Mubdi’ Syarh Al Muqni’, 2/196. Mawqi’ Ruh Al Islam)
12. Imam Fakhruddin Ar Razi Rahimahullah
Berkata Imam Fakhruddin Ar Razi Rahimahullah dalam At Tafsir Al Kabir: “Perintah membaca surat Yasin kepada orang yang menjelang wafat, karena adanya riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Segala sesuatu memiliki hati, dan hatinya Al Quran adalah Yasin.’ Hal ini, karena lisan saat itu lemah kekuatannya dan tak ada harapan, tetapi hati sedang menuju kepada Allah secara keseluruhannya, maka dibacakan kepadanya apa-apa yang dapat menguatkan hati dan membantu kayakinannya terhadap tiga perkara mendasar (ushuluts tsalatsah). Maka, hal itu diperbolehkan dan penting baginya.” Ini juga berlaku bagi si pembacanya. (Imam Fakhruddin Ar Razi, Al Tafsir Al Kabir, 13/99)
13. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah
Dalam pembahasan sunah-sunah bagi yang mengurus orang meninggal, beliau mengatakan sunahnya membaca surat Yasin, berdalil dengan hadits-hadits dan atsar yang telah disebutkan sebelumnya. (Fiqhus Sunnah, 1/502. Darul Kitab Al ‘Arabi)
14. Syaikh Shalih bin Abdullah Fauzan Hafizhahullah
Dalam kitab Al Mulakhash Al Fiqhi, beliau tegas mengatakan bahwa membaca Yasin untuk orang yang sedang menghadapi kematian adalah sunah. Berikut perkataannya:
ويقرأ عنده سورة {يَاسِينَ} ، لقوله صلى الله عليه وسلم: “اقرأوا على موتاكم سورة ياسين” ، رواه أبو داود وابن ماجه وصححه ابن حبان، والمراد بقوله: “موتاكم” : من حضرته الوفاة. أما من مات فأنه لا يقرأ عليه، فالقراءة على الميت بعد موته بدعة، بخلاف القراءة على الذي يحتضر؛ فإنها سنة
“Membaca di sisinya surat Yasin, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Bacakanlah orang yang sedang sakaratul maut di antara kalian, surat Yasin. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban). Dan, maksud Mautakum adalah orang yang sedang menghadapi kematian, ada pun orang mati tidaklah dibacakan Al Quran atasnya. Maka membaca Al Quran atas mayit setelah matinya adalah bid’ah, berbeda dengan membaca untuk yang menghadapi kematian, maka itu adalah sunah.” (Al Mulakhash Al Fiqhi, 1/296. Mawqi’ Ruh Al Islam)
15. Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Hafizhahullah
Beliau mengatakan dalam Syarh Sunan Abi Daud:
فإنه يكون عند الاحتضار، وليس بعد الموت، فقوله: (موتاكم) أي: الذين قاربوا الموت
“Maka, membacanya itu adalah ketika menghadapi kematian, bukan setelah kematiannya. Sabdanya (mautakum): artinya orang-orang yang mendekati kematian.” (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad, Syarh Sunan Abi Daud No. 363. Maktabah Misykah)
16. Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim
Beliau berkata dalam Syarh Bulughul Maram:
إذاً: قراءة (يس) على موتانا تكون على من حضره الموت. والحكمة في ذلك أن الروح تنشط ويخف عليه نزعات الموت، ويكون أخف عليه مما لو ترك.
“Jadi, membaca Yasin kepada Mautana, artinya kepada orang yang sedang menghadapi kematian. Hikmahnya adalah hal demikian agar menggerakan ruh dan meringankannya ketika mengalami naza’ (sakarul maut), dan itu lebih ringan atasnya dibanding jika ditinggalkan.” (Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim, Syarh Bulughul Maram, Hal. 113. Maktabah Misykah)
17. Fatwa Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia
Dalam fatwa no. 1504, ketika ditanya apa yang dimaksud dengan hadits: Iqra’uu ‘ala Mautaakum Yasin (bacakanlah atas orang yang mengalami sakaratul maut di antara kalian, surat yasin). Mereka memaparkan beberapa hadits (yang sudah kami bahas di atas), lalu mereka mengatakan:
وعلى هذا فلسنا في حاجة إلى شرح الحديث؛ لعدم صحته، وعلى تقدير صحته؛ فالمراد به، قراءتها على من حضرته الوفاة ليتذكر، ويكون آخر عهده بالدنيا سماع تلاوة القرآن، لا قراءتها على من مات بالفعل، وحمله بعضهم على ظاهره، فاستحب قراءة القرآن على الميت بالفعل لعدم وجود ما يصرفه عن ظاهره، ونوقش بأنه لو ثبت الحديث وكان هذا المراد منه لفعله النبي صلى الله عليه وسلم ونقل إلينا لكنه لم يكن ذلك كما تقدم، ويدل على أن المراد بالموتى في هذا الحديث لو صح: (المحتضرون)؛ ما رواه مسلم في صحيحه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: « لقنوا موتاكم: لا إله إلاَّ الله » فإن المرادبهم: المحتضرون، كما في قصة أبي طالب عم النبي صلى الله عليه وسلم.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
“Atas dasar ini, kami tidaklah berhajat untuk memberikan penjelasan terhadap hadits ini; tidak mengingkari keshahihannya dan tidaklah memberikan penilaian atas keshahihannya, tetapi maksud dari hadits itu adalah membacanya ketika dia menjelang wafat untuk memberikannya peringatan, dan menjadikan akhir hidupnya di dunia adalah mendengarkan Al Quran, dan bukanlah yang dimaksud adalah membacanya buat orang yang sudah wafat, dan sebagian mereka ada yang memahami maknanya secara zhahirnya dan mereka menyunnahkan membaca Al Quran untuk mayit dan mengingkari makna selain zhahirnya, kami membahasnya dengan keadaan seandainya hadits ini shahih. Dan makna dari ini adalah menunjukkan perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan itu telah dinukil kepada kami, tetapi hal itu tidaklah terjadi sebagaimana penjelasan lalu, Hadits ini menunjukkan bahwa makna Al Mauta –seandai haditsnya shahih- adalah Al Muhtadharun (menghadapi kematian), sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (Talqinkan orang yang sedang menghadapi kematian di antara kalian dengan: Laa Ilaha Illallah), maka maksud mereka adalah Al Muhtadharun, sebagaimana kisah Abu Thalib, paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Wa billahit Taufiq wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. ” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiah wa Ifta, 11/28)
Demikianlah fatwa yang ditanda tangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (ketua), Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi (wakil), dan Syaikh Abdullah bin Ghudyan (anggota), mereka membolehkan membaca Yasin untuk orang yang sedang sakaratul maut, namun bukan untuk yang sudah wafat, apalagi di kuburan.
Sekedar informasi, saat menjelang wafatnya Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani (28 Dzulhijjah 852H), yakni dua jam setelah Isya’, orang-orang dan sahabatnya (Di antaranya adalah Al Hafizh Al Imam As Sakhawi, pen) berkerumun untuk membacakan surat Yasin, ketika sampai ayat 58:
“(kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai Ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.”
Saat itulah beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. (Syaikh Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, Hal. 851. Pustaka Al Kautsar)
Demikianlah para ulama yang membolehkan membaca surat Yasin kepada orang yang sedang mengalami sakaratul maut, dengan tujuan meringankan proses keluarnya ruh. Ada pun Imam Malik dan pengikutnya yang terdahulu memakruhkan membaca Al Quran untuk orang sakaratul maut. Wallahu A’lam
Bersambung…

Baca :   Tentang Padang Landmark, Ini Jawaban Walikota Padang, Buya Mahyeldi

Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Tercelanya Orang-Orang Yang Melakukan Plagiat Terhadap Ayat-Ayat Allah SWT

serambiMINANG.com – Seorang penulis akan sangat marah bila tulisannya diplagiat oleh orang lain. Apalagi bila …

Tinggalkan Balasan