Beranda / Uncategorized / Melawan Lupa

Melawan Lupa

Pesantren Ramadhan sudah berjalan lebih dari sewindu. Kadangkala yang kita saksikan, selepas shubuh, ada pula yang menerjemahkan dengan “asmara shubuh”. Sindiran bagi anak muda yang memanfaatkan waktu setelah sholat shubuh berjemaah di masjid dan mendengar tausiyah dengan berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Demikian pula dengan waktu qiyamullail dengan sholat tarawih. Ada yang duduk berduaan di pojok halaman masjid. Sayangnya, orang tua menganggap perilaku anak yang demikian sebagai suatu hal yang biasa-biasa saja. Na’udzubillah.

KASURAUOleh : M. Luthfi Munzir

Suatu hari, saya berjalan berkeliling Kota Padang. Hanya ingin mencari “angin segar” saja. Bosan juga berkutat dengan pekerjaan setiap hari. Apabila akhir pekan tidak ada pekerjaan yang sangat menyita waktu, saya sempatkan menempuh ratusan kilometer untuk mencari sesuatu yang baru. Ide dan gagasan baru. Hampir setiap akhir pekan saya melintas di Kota Padang. Baik untuk bermalam, atau sekedar singgah dan pulang ke kampung halaman. Akhir pekan adalah waktu yang bagi sebagian besar orang sangat ditunggu-tunggu. Berkumpul dengan keluarga, bersantai, rekreasi, hingga menghabiskan waktu dengan sahabat.

Bagi sebagian anak muda, akhir pekan biasanya digunakan untuk mengadakan acara Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa). Bagi yang sudah berumahtangga, ada pula yang mempelesetkan Mabit menjadi Malam Bina Istri Tercinta. Ada-ada saja. Sayangnya, bukan suasana seperti itu saja yang biasanya ditunggu anak-anak muda. Bagi yang sedang dilanda asmara, atau cinta monyet, kata orang, akhir pekan bisa menjadi hari yang sangat panjang untuk memadu kasih. Jadilah malam minggu anak muda dengan lawan jenisnya keluar dan berkumpul di seantero negeri.

Ada yang memilih duduk berdua di pojok taman. Ada yang berdua-duaan di atas motor. Ada yang mencari tempat yang agak gelap gulita. Semakin malam hari, bukannya semakin lengang. Justru semakin heboh dengan canda, tawa, hingga perbincangan serius. Saya yakin, mereka tengah membicarakan tentang “cinta”. Tentang perasaan yang tengah bergelora di dada, tentang rindu yang salah kaprah, tentang air mata yang mengalir karena putus cinta. Hingga hati dan jiwa berkeping-keping rasanya karena dikhianati.

Malam semakin larut. Anak-anak muda masih asyik dengan dunianya. Berjalanlah di kafe-kafe sepanjang Bungus Teluk Kabung. Semakin malam, dentuman irama disko semakin membahana. Ada puluhan motor berjejer di depan kafe. Mungkin saja ada pasangan muda-mudi yang belum terikat tali pernikahan disana. Jika sudah menjadi suami istri, untuk apa pula kesana? Di sudut lain Kota Padang demikian pula. Dahulu waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya pernah diajak sepupu berkeliling Padang menyaksikan malam. Tengah malam. Terkejut saya melihat beberapa orang “bencong” berdiri di pinggir jalan utama Kota Padang. Demikian pula di sekitar Taman Budaya Padang. Kala itu beberapa taksi tampak berhenti beriringan, dengan wanita malam di dalamnya. Sudah sedemikian parahkah Kota Padang? Entahlah sekarang.

Baca :   Berjuanglah Untuk Islam Walau Kita Pelaku Maksiat

Pesantren Ramadhan sudah berjalan lebih dari sewindu. Kadangkala yang kita saksikan, selepas shubuh, ada pula yang menerjemahkan dengan “asmara shubuh”. Sindiran bagi anak muda yang memanfaatkan waktu setelah sholat shubuh berjemaah di masjid dan mendengar tausiyah dengan berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Demikian pula dengan waktu qiyamullail dengan sholat tarawih. Ada yang duduk berduaan di pojok halaman masjid. Sayangnya, orang tua menganggap perilaku anak yang demikian sebagai suatu hal yang biasa-biasa saja. Na’udzubillah.

Jika direnungkan, kita tengah lupa dengan siapa sesungguhnya diri kita. Dari mana kita berasal, tengah berada dimana kita, dan akan kemana kita setelahnya. Konsep diri tentang hakikat kita sebagai manusia seringkali lupa, terlupa, atau dilupakan. “Dan tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Zaariyaat:56). Apabila kita memahami siapa kita sebenarnya, maka dengan ayat tersebut akan mampu kita menjawab bahwa kita adalah manusia yang diciptakan Allah untuk beribadah kepada Allah. Makna beribadah tidak saja terpaku kepada sholat, puasa, zakat, dan haji. Ibadah dalam pengertian yang lebih luas meliputi segala sesuatu yang dijalankan menurut syariat Allah dan ditinggalkan sesuai dengan perintah Allah.

Kita merindukan generasi muda yang mengisi hari-hari dengan sholat berjemaah di masjid, membaca Al-Qur’an dan menyelami makna yang terkandung di dalamnya, dan berusaha mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an di dalam kehidupan. Pesantren Ramadhan adalah salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan pemahaman agama Islam di kalangan generasi muda. Tentu, mengharapkan pemahaman agama Islam hanya dari pesantren Ramadhan adalah sesuatu yang masih sangat kurang.

Dibutuhkan kebijakan pemerintah yang bisa mencari instrumen untuk memperkuat eksistensi pesantren Ramadhan. Misalnya, dengan kajian keislaman dari skolah menengah, hingga perguruan tinggi. Para orang tua pun perlu diberikan pemahaman tentang upaya menjadikan keluarga sebagai keluarga Islami. Sesuatu yang ironis sebenarnya ketika sebagian dari orang tua mengantarkan dan menjemput anaknya saat hendak melaksanakan sholat Shubuh berjemaah, tetapi orang tua sendiri tidak ikut sholat berjemaah dengan anak-anaknya yang tengah mengikuti program pesantren Ramadhan. Ironis di tengah upaya menanamkan nilai-nilai Islami kepada anak dan generasi muda, tetapi lingkungan keluarga justru kontraproduktif dengan upaya kebaikan yang dilakukan.

Kita, semestinya sadar dengan apa yang tengah menggerogoti diri kita. Melawan lupa, adalah jawaban dari kelalaian kita selama ini. Kita harus bertekad melawan lupa dengan hakikat hidup kita, karena pada akhirnya, kita hanya akan kembali kepada Allah. (*)


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Awas ! Ini Tanda – Tanda Jin Menyukai Anda

SerambiMINANG.com -Jin merupakan mahluk Allah dan mereka juga hampir sama dengan kita walaupun berada di …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: