Beranda / Uncategorized / Seni Merawat Cinta

Seni Merawat Cinta

KASURAU – Menjadi pasangan yang berbahagia adalah impian setiap orang. Dan pernikahan adalah pintu gerbangnya. Untuk meraihnya bukan perkara mudah. Ujian demi ujian akan datang menerpa. Tahun-tahun pertama kebersamaan dengan belahan jiwa adalah tahun-tahun yang sulit. Sebab disanalah cobaan akan datang melanda. Menyatukan dua orang yang jelas berbeda latar belakang, karakter dan kebiasaannya butuh waktu yang tidak sebentar. Itulah sebabnya banyak diantara pasangan suami istri yang baru merasakan indahnya pernikahan setelah sekian lama menempuhnya. Makanya dianalogikan seperti mengarungi bahtera. Selama di lautan itu kita akan menghadapi ombak dan badai yang setiap saat bisa saja menenggelamkan kapal bersama penumpangnya sebelum kita sampai di pulau seberang. Pulau itulah yang dinamakan kebahagiaan.

Ada yang butuh waktu berlama-lama untuk bisa mengenal karakter pasangannya. Hal ini wajar sebab pernikahan sejatinya adalah proses adaptasi terhadap pasangan hidup kita. Selama itulah kepekaan kita akan diasah dalam memahami tabiatnya yang sesungguhnya. Sudah sunnatullah bahwa laki-laki itu lebih mengedepankan logikanya. Sedangkan seorang perempuan bermain dengan perasaannya. Suami dan istri harus memahami betul hal ini. Sebab mereka berdua memang diciptakan berbeda dengan segala keunikannya. Oleh karenanya taaruf bukan hanya menjelang pernikahan semata akan tetapi juga setelah pernikahan berlangsung. Terkadang pertengkaran bisa datang dengan tiba-tiba saja hanya gara-gara masalah sepele. Sebab, suasan batin suami istri itu dinamis atau cepat berubah. Sepasang suami istri yang tengah bercanda ria, sekejap kemudian berubah menjadi pertengkaran yang menegangkan. Dari canda berubah menjadi konflik hanya dalam hitungan detik atu menit saja.Seorang istri yang marah dan jengkel kepada suami, tiba-tiba berubah sangat cepat menjadi bahagia dan berbunga-bunga saat sang suami memeluknya dengan mesra kata Cahyadi Takariawan dalam tulisannya.

Dari mana hal itu bermula?Tentu banyak pemicunya. Misalnya seorang suami terlambat menjemput istrinya gara-gara kunci kendaraannya tertinggal di tempat kerja. Istri yang sudah lama menunggu akhirnya menelan ludahnya tanda kecewa. Bahkan kemarahan akan meledak jika disikapi dengan kemarahan pula oleh pasangan kita. Oleh karenanya pengendalian diri itu penting. Rasulullah mengajarkan kita agar segera mengambil wudhu jika sedang marah. Jika marah dalam keadaan berdiri maka duduklah. Disamping itu hal lain yang perlu dilakukan adalah segera meminta maaf.Pelukan yang hangat juga perlu yang menandakan bahwa anda sangat mencintainya. Itu adalah nutrisi yang paling mujarab untuk meredam suasana hati yang sedang membara.

Namun yang lebih penting dari itu semua adalah niat dari pernikahan itu bermula. Apakah dikarenakan harta?Kalau memang materi menjadi pilihan utama maka siap-siap lah menderita. Sebab ia bisa saja hilang dan musnah kapan saja. Jika landasan pernikahan itu dikarenakan fisik semata maka alangkah cepatnya ia bisa memudar seiring bertambahnya usia. Tidak juga oleh syahwat. Syahwat tidak akan pernah bisa memuaskan seseorang betapa pun banyak wanita yang disimpannya. Hanya dengan motivasi beribadahlah pernikahan yang penuh dengan ujian itu akan terasa nikmatnya dan lebih barokah.

Pertengkaran adalah sebuah keniscayaan sebab ia adalah bumbu-bumbu penyedap dalam rumah tangga. Tanpanya semua akan menjadi hambar. Dengan demikian bila ada permasalahan rumah tangga seharusnya suami dan istri berusaha menyelesaikannya berdua bila memang masalahnya bisa diselesaikan berdua. Ibaratnya “tutup pintu rapat-rapat” dari masuknya pihak ketiga dan jangan sampai orang lain tahu masalah tersebut.Jangan tergesa-gesa melibatkan pihak luar, orang tua misalnya karena dapat memperkeruh suasana bukan memperbaiki keadaan.Melibatkan orang tua apalagi orang tua yang masih awam tidak memiliki pandangan dalam agama belum tentu menyelesaikan masalah malah bisa menambah panas dan keruhnya permasalahan. Terkecuali orang tua itu seorang yang arif paham agama dan pandangannya lurus barulah memungkinkan masalah yang ada disampaikan padanya bila memang sepasang suami istri tidak bisa lagi menyelesaikannya berdua.

Baca :   Menikah, Haruskah Bermewah-Mewah (Sebuah Perenungan)

Rumah tangga orang-orang yang memiliki keutamaan dalam agama juga tidak lepas dari masalah perselisihan pertengkaran dan kemarahan. Namun berbeda dengan orang- orang yang tidak mengerti agama , maka orang yang memiliki keutamaan dalam agama tidak membiarkan setan menyetir hingga menjerumuskannya kepada apa yang disenangi oleh setan. Bahkan mereka berlindung kepada Allah dari makar setan, berusaha memperbaiki perkara mereka, menyatukan kembali kebersamaan mereka dan menyelesaikan perselisihan di antara mereka.

Selain Rasulullah, Ali Bin Abi Thalib juga pernah mengalaminya. Suatu hari Ali marah kepada Fathimah maka ia pun keluar dari rumah menuju masjid dan berbaring di sana. Bertepatan dengan kejadian tersebut Rasulullah SAW datang ke rumah putrinya Fathimah namun beliau tidak mendapatkan Ali di rumah.“Di mana anak pamanmu itu?” tanya beliau. “Telah terjadi sesuatu antara aku dengan dia dia pun marah padaku lalu keluar dari rumah. Dia tidak tidur siang di sisiku” jawab Fathimah. Rasulullah SAW berkata kepada seseorang: “Lihatlah di mana Ali. ”Orang yg disuruh itupun datang dan memberi kabar: “Wahai Rasulullah! Dia ada di masjid sedang tidur.”Rasulullah SAW mendatangi Ali yang ketika itu sedang berbaring. Beliau dapatkan rida`-nya telah jatuh dari punggungnya sehingga pasir mengenai punggungnya. Mulailah beliau mengusap pasir tersebut dari punggung Ali seraya berkata: “Duduklah wahai Abu Turab. Duduklah wahai Abu Turab!”. Lihat apa yang dilakukan Ali ketika bertengkar dengan istrinya. Ia berlari menuju mesjid, menuju rumah Allah. Ia tidak melanjutkan pertengkaran dengan Fathimah malahan ia beristighfar dan mencari ketenangan bersama Allah.

Jika kita sudah menikah rawatlah cinta itu hingga sampai ke syurgaNya. Jangan biarkan hal-hal sepele seperti pertengkaran dan sejenisnya membesar dan menenggelamkan biduk rumah tangga kita. Sebab ia hanya siklus sementara. Suatu saat akan berganti. Sama halnya dengan mendung yang kelak akan mendatangkan cahaya mentari setelah hujan mereda. Jika ada kekurangan pada pasangan, maka ketahuilah pasti ada juga kelebihannya. Rasulullah pernah bersabda: Yang paling baik dari kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya”. Pujian dan sanjungan kepada pasangan juga tidak boleh disampingkan. Ia akan mengokohkan istana cinta.

Oleh : Fauzul Izmi
Penulis buku Potret Ikhwan Sejati, Catatan Cinta Untuk Murobbi dan lain sebagainya


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Awas ! Ini Tanda – Tanda Jin Menyukai Anda

SerambiMINANG.com -Jin merupakan mahluk Allah dan mereka juga hampir sama dengan kita walaupun berada di …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: