Beranda / Uncategorized / Dosa Kecil Menjadi Besar

Dosa Kecil Menjadi Besar

KASURAU – Para ulama sepakat bahwa ada yang namanya dosa besar dan ada yang namanya dosa kecil. Namun mereka berbeda pendapat dalam menentukan mana yang dosa besar dan berapa jumlahnya. Dalil-dalil tentang adanya dosa besar lumayan banyak.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah telah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ.
Artinya: “Jauhilah oleh kalian tujuh dosa penghancur (dosa besar). Para sahabat bertanya: “Apa saja yang tujuh itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Berbuat syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang sah, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling di hari pertempuran (jihad) dan menfitnah wanita baik yang beriman”. (HR Bukhari dan Muslim)

Imam Bukhari juga meriwayatkan dalam hadits lain dari Abdullah bin Amr bahwa Nabi saw telah bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : الْكَبَائِرُ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَالْيَمِينُ الْغَمُوسُ.
Artinya: dari Abdullah bin Amr, dari Nabi saw, Beliau bersabda: “Dosa-dosa besar itu adalah berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua, membunuh dan sumpah palsu.” (HR Bukhari)

Juga dalam hadits lain dari Abu Bakrah bahwa Rasulullah saw telah bersabda tentang dosa besar:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ ، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ.

Artinya: dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya, Rasulullah bersabda: “Maukah kalian aku beritahu dosa-dosa yang paling besar yang 3?” Mereka menjawab: “Iya wahai Rasulullah…”. Rasulullah saw berkata: “Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua…” Rasul saw saat itu sedang berbaring, lalu duduk dan bersabda: “Ketahuilah, perkataan menipu dan kesaksian palsu…” Beliau mengulang-ulangnya beberapa kali sampai kami mengatakan: “Seandainya Beliau diam…” (HR Bukhari dan Muslim)

Sebagian sahabat Rasulullah saw seperti Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar menyatakan dosa besar itu ada tujuh macam. Sedangkan Ibnu Abbas menyatakan bahwa dosa besar bisa mencapai 70 macam. Abu Shalih menyebutkan dari Ibnu Abbas bahwa dosa besar adalah dosa-dosa yang berkonsekwensi adanya had atau hukum-hukum yang telah ditetapkan di dalam Al Quran dan Hadits. Sa’id bin Jubair menyatakan bahwa dosa besar adalah semua dosa yang ancamanya adalah adzab neraka dari Allah.

Abu Thalib Al Makky menyatakan bahwa dosa besar itu 17 macam. 4 dosa terdapat di dalam hati, yaitu: syirik, ngotot berbuat maksiat, putus asa terhadap rahmat Allah dan merasa aman dari makar Allah. 4 dosa di lidah, yaitu: Kesaksian palsu, menuduh orang lain berzina, kesaksian palsu dan sihir. 3 dosa di perut, yaitu: Minum tuak (makanan haram), memakan harta anak yatim dan memakan harta riba. 2 dosa di kemaluan, yaitu: Berzina dan hubungan sesama jenis. Kemudian 2 dosa di tangan, yaitu: Membunuh dan mencuri. Lalu 1 dosa di kaki yaitu berpaling dari pertempuran di medan jihad. Dan terakhir satu dosa di seluruh tubuh yaitu durhaka kepada kedua orang tua.

Diluar dosa-dosa besar yang disebutkan di atas, maka bisa dikategorikan sebagai dosa kecil. Seperti kebohongan kecil, ghibah, kezhaliman kecil kepada orang lain, berkata-kata yang kotor dan lain-lain. Namun, orang-orang beriman tentunya tidak cukup dengan mengenal dan mewaspadai dosa-dosa besar. Karena iblis dan syetan ketika hendak memperdaya mereka, tidak langsung diperdaya dengan dosa besar. Melainkan dengan dosa-dosa kecil. Melalui tipu dayanya, lama-kelamaan mereka bisa dijerumuskan ke dalam dosa besar. Atau bahkan dosa-dosa kecil bisa berobah dan beralih menjadi dosa besar.

Ada beberapa faktor yang yang perlu diwaspadai oleh setiap mukmin, karena akan menyebabkan dosa-dosa kecil bisa menjadi dosa besar, antara lain adalah:

Pertama, sering dan berketerusan berbuat dosa kecil. Maka dosa tersebut tidak lagi merupakan sebuah dosa kecil. Ia telah menjadi dosa besar. Karena dosa-dosa kecil yang banyak telah menjadi dosa yang besar. Ibarat kerikil yang kecil, bila menumpuk banyak dan menggunung maka tidak lagi dianggap kecil. Dalam atsar disebutkan bahwa tidak ada dosa kecil kalau berketerusan dilakukan, dan tidak ada dosa besar bila segera meminta ampun dan beristighfar kepada Allah. Sesungguhnyanya sebuah dosa besar yang telah dihentikan dan tidak lagi dilanjutkan, jauh lebih besar peluangnya mendapatkan ampunan dari pada dosa kecil yang berketerusan dikerjakan.

Baca :   Artis Cantik Terry Putri Alhamdulillah Mantap Berhijab Karena Umur Hanya Sesaat

Kedua, memandang remeh dosa kecil tersebut. Dan beranggapan tidak ada apa-apa di sisi Allah. “hanya dosa kecil aja, kok…” begitu perasaan di dalam hati. Maka dosa tersebut bisa menjadi dosa besar. Karena, pada hakekatnya itu merupakan sebuah kesombongan. Ibnu Mas’ud menyatakan:

قال عبد الله بن مسعود: إن المؤمن يرى ذنوبه كأنه في أصل جبل يخاف أن يقع عليه وإن الفاجر يرى ذنوبه كذباب وقع على أنفه قال به هكذا (رواه الترميذي)
Artinya: “Seorang mukmin memandang dosanya bagaikan dirinya berada di bawah bukit besar yang hampir menimpanya. Sedangkan seorang pendosa memandang dosa-dosanya bagaikan seekor lalat yang hinggap di puncak hidungnya, sehigga dia hanya mengibasnya dengan tangannya…” (Riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh Albany).

Ketiga, bila pelaku dosa mengetahui dan menyadari akan keagungan Allah, lalu ia tetap melakukan dosa. Bilal bin Sa’ad menyatakan: “Jangan dilihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah betapa agungnya Yang engkau maksiati (yaitu Allah).”

عَنْ أَنَسٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم الْمُوبِقَاتِ.
Artinya: Sahabat Rasulullah saw, Anas bin Malik pernah mengatakan: “Sesungguhnya kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang kalian anggap itu lebih halus dari pada rambut. Padahal kami di masa Rasulullah menganggapnya sebagai bagian dari dosa besar.” (Riwayat Bukhari dan Ahmad).

Keempat, merasa bahagia dan bangga dengan dosa yang telah diperbuat. Bila seseorang telah melakukan sebuah dosa kecil, tapi ia bahagia dan bangga melakukannya, maka dosa tersebut tidak lagi kecil. Seperti orang yang dengan senangnya telah merusak nama baik orang lain, atau bahagia telah mengerjai dan mempermalukan orang lain, atau bangga telah berani berbuat sebuah dosa sementara orang lain tidak. Semua situasi ini telah menyebabkan dosa kecil menjadi besar.

Kelima, menceritakan kepada orang lain dosa yang telah dilakukan secara tersembunyi. Seperti seseorang yang telah melakukan dosa di malam hari, tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Lalu disiang hari dia ceritakan dosa tersebut kepada orang lain. Atau dosa lain yang sudah lama dan sudah ditutup oleh Allah, kemudian dia sendiri yang membongkarnya kepada orang lain. Perbuatan semacam ini bisa merubah dosa tersebut menjadi besar dan tidak diampuni oleh Allah. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah telah bersabda:

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : كُلُّ أَمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الْمَجَاهرةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْه.

Artinya: “Seluruh umatku diampuni (Allah) kecuali orang-orang yang mujahir. Yang termasuk mujaharah adalah seseorang berbuat sebuah amalan (dosa) di malam hari, kemudian pagi harinya dia berkata: “Wahai fulan, tadi malam saya melakukan ini dan itu…” padahal Allah telah menutpnya di malam hari, tapi dia membukanya di siang hari…” (HR Bukhari dan Muslim)

Keenam, bila pelakunya adalah orang yang alim, tokoh terpandang, menjadi teladan bagi umat dan rujukan dalam ilmu dan amal. Karena perbuatannya akan menjadi alasan bagi orang lain dalam berbuat. Karenanya, seorang yang alim dan panutan memiliki beban yang lebih berat dari pada muslim biasa. Semakin alim seseorang dan semakin tinggi keimanannya, serta semakin tinggi posisinya, semakin tinggi pula standar perilakunya. Tugas utamanya adalah meninggalkan dosa dan menyembunyikannya bila terjatuh kepada dosa. Ia mesti menghindari dan meminimalisir keberadaannya di tempat-tempat maksiat dan syubuhat, atau bersama orang-orang fasiq pecandu maksiat, tidak makan dan minum dengan tangan kiri, tidak memakai cicin emas dan kain sutera bagi laki-laki, tidak bergunjing dan membicarakan aib muslim yang lain, tidak berdebat untuk mencari popularitas dan lain sebagainya.

Setiap mukmin mesti waspada terhadap dosa-dosa kecil. Dan biasanya orang tidak tersandung oleh batu besar. Tidak boleh meremehkan yang kecil, karena gunung pada hakekatnya kumpulan batu kerikil…
Wallahul Musta’aan, Wallahu A’laa wa A’lam bishshawab.

Irsyad Syafar, Lc, M.Ed


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Inilah 6 Jenis Haji Selain Haji Mambrur Yang Banyak Terjadi Dilapangan

Rasulullah saw bersabda: العمرة إلى العمرة كفارة ما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: