Beranda / Uncategorized / Pertempuran Itu Belum Berakhir

Pertempuran Itu Belum Berakhir

kasurau – Bismillaahirrahmaanirrahiim

Tidak bermaksud untuk nguyahi segoro ‘menabur garam di lautan’, saya adalah garamnya dan antum adalah samudera yang luas, semoga tulisan ini menjadi oase di padang pasir, bukan hanya setetes air yang bahkan tidak mampu melepaskan dahaga seorang musafir.

Pertempuran itu belum berakhir

Kemenangan pasukan Muslim saat perang Badar serta merta menyuburkan perkembangan dakwah yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Saat perang Badar, pasukan Islam berjumlah 300-an. Sedangkan persiapan untuk menghadapi pasukan kafir di bukit Uhud, pasukan Islam menjadi 1000 orang.

Meski pendapat Rasulullah berbeda dengan hasil keputusan syuro’, beliau adalah orang pertama yang melaksanakan keputusan itu. Manusia paling mulia di muka bumi ini berkata: “Tidak pantas bagi seorang nabi, apabila telah memakai pakaian perangnya untuk meletakkannya kembali sebelum berperang, Sebelum Allah memberikan putusan antara diriku dengan musuhnya, atas ketabahan kalian, semoga kemenangan ditangan kalian”

Keputusan telah diambil, hasilnya harus dilaksanakan. Nabi pun keluar kota Madinah bersama pasukannya yang berjumlah 1000 orang. Tetapi dalam perjalanan, Abdullah bin Ubay bin Salul melakukan desersi dan mampu mempengaruhi sebanyak 300 orang. Sehingga tinggal 700 orang yang akan menghadapi kekuatan 3000 pasukan kafir Quraisy.

Kisah pertempuran di bukit Uhud ini insyaAllah kita sudah tahu semua. Karena ketidaktaatan pasukan panah, pasukan Islam menderita banyak kerugian. Bahkan hampir saja Rasulullah SAW terbunuh. Sekembalinya ke kota Madinah, para pasukan Islam ini justru diolok-olok oleh orang-orang munafiq yang desersi tadi. Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar”. QS 3 :168

Kemenangan demi kemenangan selanjutnya diperoleh. Perang Khandaq, Kisah Fathul Makkah, Perang Hunain… hingga mampu mengalahkan Adidaya Romawi dan Persia.

And Now

Siapapun yang menginginkan buah kemenangan (dengan ridho Allah tentunya), tidak akan menghindar dari sikap totalitas (tajarrud) sebagai kemutlakan dalam berdakwah. Lezatnya aroma pengorbanan dalam dakwah dapat diraih dari sikap mujahadah, qanaah, dan ridha dalam menghadapi setiap cobaan dalam dakwah.

Suatu saat kita mengalami euphoria dakwah. Saya menangis haru ketika Ustadz Hidayat Nur Wahid berhasil menjadi Ketua MPR 2004 lalu. Sebuah pencapaian yang tidak terbayangkan pada 5 tahun sebelumnya.

Baca :   Ketika Surat Cinta Untuk Senior Berisi Pesan Pengingat Kematian

Atau kita mengalami cobaan dakwah yang menurut kita sangat berat. Padahal mungkin belum ada apa-apanya bila dibandingkan cobaan para ikhwah pada masa lalu yang berakhir di tiang gantungan. Atau 40 ikhwah yang baru-baru ini dipenjarakan tanpa sebab yang jelas oleh rezim yang berkuasa di Mesir. Apabila dibandingkan dengan cobaan pada masa Rasul SAW dan sahabat? Kita belum ada apa-apanya.

Ikhwatifillah, untuk memenangkan pertempuran bukan dengan cara kita sendiri, tapi harus dilakukan secara kolektif. Keinginan-keinginan pribadi pun harus digilas menjadi sebuah keikhlasan yang kolektif, keikhlasan yang dilakukan oleh setiap individu dari sebuah jama’ah.

Nabi SAW bersabda:

“Kalian harus berjama’ah karena tangan Allah bersama jama’ah”

Serta sabda Nabi SAW yang lain:

“Janganlah engkau tanyakan kepadaku sesuatu yang aku biarkan untuk kamu, karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya karena banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka dengan Nabi mereka. Apabila aku melarang kamu dari sesuatu maka jauhilah ia dan aku memerintahkan sesuatu kepada kamu maka lakukanlah semaksimal mungkin; dan jika aku mencegah kamu dari sesuatu maka tinggalkanlah ia” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah)

Apakah kita akan meninggalkan teman kita ketika teman kita itu dalam keadaan terpuruk dan difitnah oleh banyak pihak? Apakah kita hanya akan menganggap teman kita sebagai ‘teman’ ketika dia dalam keadaan yang sesuai dengan pendapat kita. Teman sejati kita adalah teman dikala kita sedang di atas, kita sedang bias-biasa saja di tempat yang datar, atau ketika kita sedang terpuruk dan terperosok di jurang yang dalam dan gelap, dia tetap menganggap kita sebagai teman sejati.

Ikhwatifillah, kerugian besar yang diperoleh pasukan Muslim pada peristiwa Uhud, banyak memberikan pelajaran bagi Sahabat Rasulullah pada waktu itu. Sehingga kemenangan demi kemenangan dapat diraih pada masa selanjutnya hingga mampu menguasai dunia sebagai wujud khalifah fil ardh….

Dan bagi kita, pertempuran dalam dakwah masih akan berlanjut. Satukan gerak dan langkah kita untuk menggapai kemenangan… Lanjutkan! 😉

Wallahu a’lam bishshawwab…
Taufik


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Jangan Sampai Hilang, Pewarisan Tarbiyah

serambiminang.com – Usia perjalanan dakwah tarbiyah di Indonesia boleh dikatakan tidak lagi muda. Dimulai pada …

Tinggalkan Balasan