Beranda / Uncategorized / Siapakah Guru Yang Sebenarnya?

Siapakah Guru Yang Sebenarnya?

KASURAU –  Kita memang sedih bercampur prihatin melihat video anak-anak SD yang menyakiti teman satu kelasnya secara beramai-ramai. Tapi kita tidak bisa menyalahkan seseorang. Itulah potret sebagian anak-anak kita sekarang. Mulai terbiasa dengan perilaku yang buruk, kata-kata kotor, tidak jujur, berbohong, menipu dan bahkan kekerasan serta narkoba.

Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa pihak sekolah dan guru tidak pernah sama sekali mengajarkan mereka melakukan tindak kekerasan tersebut. Malah sebaliknya, setiap hari guru masuk ke dalam kelas, pasti senantiasa mengajarkan kebaikan kepada mereka. Tetapi mengapa ini hasilnya?

Pertanyaannya adalah, siapah guru mereka yang sebenarnya? Siapakah yang telah mewarnai bahkan mempengaruhi otak dan fikiran mereka sehingga berani berbuat begitu?

Guru mereka adalah yang paling sering menarik perhatian mereka. Yang paling berkesan dalam benak dan akal mereka. Yang paling dominan mempengaruhi jiwa dan fikiran mereka. Apa dan siapakah itu? Dianya adalah segala apa yang sering mereka saksikan dan mereka lihat. Bukan apa yang mereka dengar. Sebab apa yang dilihat jauh lebih besar pengaruhnya dari apa yang didengar.

Guru bila mengajar dan membicarakan kebaikan di depan anak-anak didiknya, lalu kemudian anak-anak didik juga menyaksikan kebaikan itu hadir dalam perilaku dari para guru dan orang-orang disekitarnya, maka pastilah nilai-nilai kebaikan tersebut akan sangat mempengaruhi mereka. Berbekas di hati mereka dan kemudian ringan bagi mereka untuk mengamalkannya.

Akan tetapi, bila guru menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada mereka, lalu kemudian mereka tidak menyaksikan kebaikan itu hadir dalam perilaku keseharian, baik oleh guru apalagi masyarakat sekitarnya, maka nilai-nilai kebaikan itu tidak pernah mempengaruhi mereka dan tak akan berubah dari teori menjadi perilaku mereka.

Apalagi kalau kemudian di tengah masyarakat justru mereka mendapatkan perilaku sebaliknya, yang jauh dari nilai dan akhlak mulia. Maka apa yang mereka lihat dilingkungan inilah yang kemudian mewarnai perilaku mereka, bukan apa yang dikatakan oleh guru di depan kelas.

Baca :   Betapa Pentingnya Menjaga Lidah

Bahayanya sekarang, lingkungan mereka bukan lagi lingkungan kecil yang ada disekitar rumah atau tempat tinggal mereka saja. Lingkungan mereka telah menjadi sangat luas melewati batas-batas teritorial kota, kabupaten, provinsi bahkan negara. Dengan adanya media, dunia menjadi kecil. Sehingga mereka sekarang menyaksikan beragam perilaku dari berbagai tempat. Diwaktu yang sama kontrol dan pengawasan dari berbagai pihak, orang tua, sekolah dan pemerintah sangat lemah. Sementara apa yang dipertotonkan media kepada khalayak, dengan penuh kejujuran, sangat minim dengan nilai dan penanaman karakter.

Film-film kekerasan, drama dan sinetron cinta pengumbar syahawat, pergaulan bebas, iklan-iklan kecantikan, peristiwa pembunuhan, hamil diluar nikah, agenda hura-hura malam mingguan, idola-idolaan dan lain sebagainya. Semuanya menjadi makanan harian anak-anak kita. Belum lagi game-game online dengan berbagai jenisnya yang tersebar di berbagai warnet sampai ke pelosok negeri. Seberapalah lagi pengaruh guru di depan kelas untuk membentuk karakter anak? Apalagi kalau gurunya di sekolah tidak terlatih, kompetensi pedagogiknya lemah, kurang pandai dan tidak menarik dalam mengajar, kompetensi kepribadian dan sosialnya tak pernah disiapkan apalagi disertifikatkan. Pastilah mayoritas yang mereka pelajari akan kalah dan habis oleh apa yang mereka tonton dan saksikan setiap hari.

Guru anak-anak kita adalah lingkungannya, apa yang mereka saksikan disekitarnya dan apa yang sangat menarik perhatiannya. Dan sedihnya, hari ini anak-anak kita telah kehilangan figur-figur teladan yang dapat mereka contoh dan mereka tiru, yang dapat mereka jadikan “guru”.

Ustadz Irsyad Syafar, Lc, M.Ed


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Inilah 6 Jenis Haji Selain Haji Mambrur Yang Banyak Terjadi Dilapangan

Rasulullah saw bersabda: العمرة إلى العمرة كفارة ما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: