Beranda / Uncategorized / Tantangan, Jiddiyah, dan Kesabaran

Tantangan, Jiddiyah, dan Kesabaran

KASURAU – Ikhwatal iman, saudara-saudara ku yang saya cintai karena Allah

Saudaraku diantara sunnatullah, ketentuan Allah yang pasti adalah menghadapi tantangan.

Ketika miskin, tantangannya adalah kemiskinan. Ketika kaya, tantangannya adalah kekayaan. Ketika belum menjadi presiden, tantangannya bagaimana menjadi presiden. Ketika menjadi presiden, tantangannya bagaimana melaksanakan janji-janji, dsb. Oleh karena itu saudaraku tantangan bukan cuman di 2009 ini tapi madal hayah (sepanjang hidup).

Manusia yang paling berhasil menghadapi tantangan adalah Nabi Muhammad saw, segala kesulitan, dilahirkan yatim, penggembala kambing, diuji dengan amanah harta, bisnis dipercaya oleh khadijah, beliau berhasil, diuji dengan kekayaan dan kekuasaan, dimana saat perang diberi hak oleh Allah berupa ghanimah beliau juga berhasil.

Tapi kenapa kaum muslimin banyak tidak mampu menghadapi tantangan, rahasia keberhasilan nabi dalam menghadapi seluruh tantangan, baik kesulitan maupun kesedihan, selain atas izin Allah, adalah dengan al-jiddiyah, kesungguhan, militansi, juga dengan kesabaran.

Tantangan sendiri bisa kita bedakan menjadi dua;

a. Tantangan Internal

Berdasarkan pengalaman seorang ‘presiden’ yg paling adil setelah Rasul dan Abu Bakar R.A., beliau adalah Umar R.A. mengatakan;

“Kemaksiatan kami, lebih kami takuti dari pada ancaman dan tantangan eksternal musuh-musuh kami.”

Sampai-sampai dalam surat at-Takhrim, istri nabi sampai diancam cerai oleh Allah, yang pada mulanya akibat gejolak rumah tangga Nabi, beli sampai hampir mengharamkan madu. Padahal kisahnya sepele menurut kita, tapi ternyata justru sangat besar pengaruhnya internal ini.

Jenis tantangan internal adalah;
1. Krisis, yaitu keadaan yang tidak ideal yang terjadi saat ini. Krisis ekonomi, krisis akhlak, dsb.
2. Adamu wuhudil ghayyah (tidak jelasnya orientasi)
3. Adamul wahdah (tidak bersatu)

b.Tantangan Eksternal

Jenisnya antara lain;

1. Ruhuttanafush (semangat bersaing)

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah dan keduanya memiliki kebaikan. Bersegeralah terhadap apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta janganlah merasa lemah. Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah engkau mengatakan, ‘ seandainya aku melakukannya, niscaya akan begini dan begitu.’ Tapi katakanlah,’Ini adalah ketentuan dari-Nya, Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya.’ Karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ membuka (pintu) tipu daya syaitan.” (HR. Muslim)

2. Al muamaratu dauliyah (konspirasi global) yang menyebabkan kita berjuang sendiri-sendiri, konspirasi global kaum kafir menghendaki agar kita jangan sampai pernah bersatu, karena kekuatan ummat Islam kalau bersatu tentu amat dahsyat.

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana menumbuhkan militansi dalam diri kita, untuk menghadapi tantangan, di antaranya adalah kesungguhan untuk memupuk keimanan;

“ Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS Al-An’aam 82)

Selain itu kita tak akan sanggup menghadapi tantangan jika tidak dengan kesabaran.

Sabar adalah satu sifat yang dia merupakan separuh dari keimanan kita, yaitu sifat sabar, jika kita memiliki sifat sabar kita mengantongi separuh sifat orang beriman, separonya adalah syukur. Cabang-cabang sabar sangat beragam dan seluruh sifat keimanan mengalirnya kalau tidak ke sabar ya ke syukur.

Sesungguhnya manakah yang disebut sebagai sifat sabar, sejarah memberikan gambaran kepada kita;

Pada 3 H terjadi peristiwa perang susulan dari perang Badar yang mengalami kemenangan gilang gemilang, yaitu perang uhud, singkat cerita keadaan terbalik dari perang Uhud, 700 pasukan islam menghadapi 3000 kafir quraisy, Nabi Muhammad saw mengalami musibah yaitu salah satunya paman yang sangat beliau cintai meninggal dunia, 70 menjadi syuhada, beberapa luka ringan dan berat, termasuk Rasulullah, sampai topeng besi beliau robek sampai ke rahang. Bahkan diberitakan rasulullah wafat, saat muncul berita seperti itu ada beberapa sahabat nabi mendengar berita seperti ini langsung lemas, saat ditanya kenapa antum lemas, mereka bekata kita berperang untuk membela nabi, setelah nabi terbunuh apalagi yang diperjuangkan, ada lagi yang berpikir, wah ini gawat, sy harus menyusul abu sufyan untuk apa? Untuk meminta perlindungan agar jangan dibunuh, ini pikiran-pikiran yang berkembang pada sahabat nabi saat itu.

Baca :   Gubernur Sumbar Maafkan Fauzi Bahar

Begitu tahu desas desus Nabi Muhammad sudah terbunuh, Abu Sufyan kembali, ditengah perjalanan, terlintas di benak kafir quraisy kenapa kita tidak kembali ke Uhud untuk memastikan kematian Nabi, selagi mereka terlintas spt itu, Nabi Muhammad telah mengejar abu sufyan, padahal dengan sisa-sisa pasukan yang teluka, kaum kafir quraisy melihatnya menjadi gemetar dan kembali ke mekah terusir.

Kisah ini diabadikan dalam al-Quran;

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” QS Ali-Imran 146

Menurut ayat ini mereka yang sabar mempunyai 3 sifat

1. Famaa wahanu, tidak terkena wahn, saat mengalami musibah fii sabilillah.. misal kita jadi aktivis dakwah, selalu menjadi motivator, pionir, dsb suatu ketika karena aktifnya lupa kepada kewajibannya, dalam rumah tangga untuk menafkahi anak istri, sehingga terjadi gejolak rumah tangga. Di kantor sebagai pegawai, saking aktivnya berdakwah lupa atau tersita waktu untuk bekerja menyelesaikan pekerjaan kantor, akibatnya ditegur oleh atasannya, ini musibah. Yang disebut wahn klo terjadi musibah, muncul pikiran saya ga usah aktif lagi daripada ditegur. Oleh hadits disebut cinta dunia tidak siap berkurban, meskipun menuntut kematian.

2. Wamaa dhoufu, tidak melemah fisiknya, setelah itu mereka tidak lantas loyo, tetep latihan, tetep mempersiapkan diri, ada panggilan jihad siap menyambutnya.

3. Wamaas takanu, tidak istikanah, istikanah berarti tidak bergerak, tidak lantas diam tidak mau bekerja lagi tidak mau aktf lagi, orang yang sabar meskipun ditimpa musibah ia akan tetap bergerak, tetap bekerja, tetap aktif, orang yang seperti ini layak kita sebut sebagai orang yang sabar.

Ikhwah fillah rahimakumullah..

Sabar nilainya semakin tinggi, manakala musibahnya juga besar. Apabila kita memandang sesuatu benda bernilai sangat berharga, maka kita akan rela berkorban dan berusaha dengan penuh kesungguhan (jiddiyah) dan kesabaran untuk mendapatkan, menjaga, dan mempertahankan benda tersebut.
Sebaliknya, bila kita memandang benda tersebut tidak cukup berharga untuk kita perjuangkan, maka jangan harap bahwa kita akan tergerak untuk berkorban dan berjuang dengan penuh kesungguhan, begitu pula dengan dakwah ini.

Marilah kita senantiasa memupuk sikap sungguh-sungguhan, dan sabar dalam menghadapi segala tantangan dalam perjuangan ini. Wallahu’alam.

Evanz


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Jangan Sampai Hilang, Pewarisan Tarbiyah

serambiminang.com – Usia perjalanan dakwah tarbiyah di Indonesia boleh dikatakan tidak lagi muda. Dimulai pada …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: