Beranda / Uncategorized / a. Persiapan Moral dan Spiritual

a. Persiapan Moral dan Spiritual

KASURAU – Kesiapan secara mental dan spiritual ditandai oleh mantapnya niat dan langkah menuju kehidupan rumah tangga. Tidak ada rasa gamang atau keraguan tatkala memutuskan untuk menikah, dengan segala konsekuensi atau resiko yang akan dihadapi paska pernikahan.

Bagi seorang laki-laki, harus ada kesiapan dalam dirinya untuk bertindak sebagai qawwam dalam rumah tangga, untuk berfungsi sebagai bapak bagi anak-anak yang akan lahir nantinya dari pernikahan. Ada kesiapan dalam diri untuk menanggung segala beban-beban yang disebabkan oleh karena posisi sebagai suami dan bapak.

Bagi seorang akhwat muslimah harus ada kesiapan dalam diri untuk membuka ruang baru bagi intervensi seorang mitra yang bernama suami. Kesiapan untuk mengurangi sebagian otoritasnya atas diri sendiri lantaran tunduk pada prinsip syura dan ketaatan pada suami nantinya.

Sebelum memutuskan untuk menikah, persiapkan diri dari segi moral amat signifikan. Ingatlah pernyataan Allah bahwa wanita-wanita yang beriman adalah untuk laki -laki yang beriman dan wanita-wanita yang pezina adalah untuk laki-laki yang pezina. Yang keji hanya akan layak mendapatkan yang keji.

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau permpuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin” (An Nur : 3).

Bagaimana mungkin ada di antara anda yang berani memutuskan untuk berzina, sedangkan pasangan bagi orang yang berzina hanyalah pezina pula ? Na’udzubillahi min dzalik. Perhatikan ungkapan ayat berikut :

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An Nur : 26).

Jika anda ingin mendapat pasangan yang baik, jadikan diri baik. Jika seorang laki-laki ingin mendapatkan isteri yang shalihah, ia harus menjadikan dirinya shalih terlebih dahulu, dan sebaliknya. Bagaimana bisa seorang laki-laki menuntut isterinya sekualitas Fatimah, sedangkan ia sendiri tidak sekapasitas Ali ? Bagaimana mungkin berharap memiliki isteri setabah Sarah dan Hajar, sedangkan ia tidak sekokoh Ibrahim as ?

Bagi wanita muslimah, jika ingin memiliki suami sehebat Az Zubair, anda harus menyiapkan diri untuk memiliki kapasitas Asma’ binti Abu Bakar. Jika mengharapkan memiliki suami setegar Muhammad as anda harus menyiapkan diri untuk menjadi Khadijah ra.

Baca :   Sekdaprov : Tak Benar Gubernur Dalangi Demo, Fauzi Bahar Harus Minta Maaf

Kadang dijumpai fenomena masyarakat kita yang tidak adil menilai diri sendiri. Ia berada dalam kondisi kebebasan pergaulan, entah sudah berapa banyak dia ganti-ganti pasangan atau pacar, atas nama mencari kecocokan untuk berkeluarga. Ia sudah melakukan kegiatan layaknya suami isteri dengan pasangan-pasangan yang berhasil dibujuk dan dirayu. Berapa banyak yang menjadi korban, entah dengan kesadaran dan kemauan sendiri, ataupun karena ketertipuan.

Sementara itu, ketika saatnya menikah ia menginginkan wanita perawan yang suci, yang belum pernah dijamah laki-laki, yang setia, tidak akan selingkuh dan senantiasa menjaga keutuhan rumah tangga. Bagaimana ia bisa memiliki harapan setinggi itu, menuntut utuhnya selaput dara, menuntut kesucian pasangan, sedangkan dirinya bergelimang dalam kemaksiyatan.

Sedemikian juga, bagaimana mungkin seorang wanita mengharapkan calon suaminya seorang laki-laki yang perjaka, suci tak pernah menjamah perempuan lain, jika dirinya sendiri sering menjadi jamahan sekian banyak laki-laki yang memacarinya? Jika dirinya berganti-ganti pasangan dalam rangka menikmati kesenangan nafsunya, dengan apa ia berharap memiliki suami yang setia kepada dirinya ? Inilah penilaian yang tidak adil terhadap diri sendiri.

Jika ingin memiliki suami yang setia, jadikan diri anda wanita yang setia. Jika ingin memiliki isteri yang suci, jadikan diri anda lakai-laki yang suci. Jika ingin mendapatkan pasangan hidup yang menjaga kehormatan diri, jadikan diri anda orang yang menjaga kehormatan diri. Mulailah dari diri anda sendiri, ibda’ binafsika.

Adapun cara mempersiapkan moralitas adalah dengan meningkatkan pengetahuan agama dan pembinaan diri secara kontinu melalui forum ta’lim, training, berguru secara khusus, membaca, silaturahim dan banyak wasilah lain. Bersamaan dengan itu jadilah diri cinta beramal shalih, dan ihsan. Tidak lupa senantiasa bergabung dengan lingkungan yang baik. Semoga Allah memudahkan langkah usaha itu dan membimbing kita menjadi pribadi taqwa, yang merupakan status tertinggi seorang hamba.

Persiapan spiritual ini bisa anda lakukan dengan berbagai tuntunan ibadah baik yang wajib maupun yang disunnahkan. Berdoa kepada Allah senantiasa agar mendapatkan kekuatan dan kemantapan hati dalam meniti hidup sehingga tidak melenceng dari keenaran. Istighfar, mohon ampunan kepada Allah, merupakan cara untuk melakukan evaluasi atas kelemahan diri.

Lebih penting lagi adalah upaya kolektif untuk senantiasa berada dalam kebaikan. Ada upaya secara bersama-sama dari komunitas kaum muslimin untuk mencapai kematangan diri sesuai dengan arahan Islam.

b. Persiapan Konsepsional (KLIK)


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Bolehkah Menikahi Wanita Yang Hamil Duluan Dari Perzinaan Dengan Orang Lain dan Keharmonisan Rumah Tangga

KaSURAU – Saya pria berumur 33 thn dan sudah beristri yang ingin saya tanyakan : …

Tinggalkan Balasan