Beranda / Uncategorized / e. Persiapan Sosial

e. Persiapan Sosial

KASURAU – Menikah menyebabkan pelakunya mendapatkan status sosial di tengah masyarakat. Jika sewaktu lajang dia masih menjadi bagian dari keluarga bapak ibunya, sehingga sering belum diperhitungkan dalam kegiatan kemasyarakatan, setelah menikah mereka mulai dihitung sebagai keluarga tersendiri.

Membiasakan diri terlibat dalam kegiatan kemsyarakat merupakan cara melakukan persiapan sosial. Apabila laki-laki dan perempuan muslim telah mencapai usia dewasa hendaknya mereka mengambil peran sosial di tengah masyarakat sebagai bagian utuh dari cara mereka belajar berinteraksi dalam kemajemukan masyarakat. Jika sebelum menikah tidak terbiasa melakukan interaksi sosial, biasanya muncul kekagetan ketika telah berumah tangga dengan sejumlah tuntutan sosial yang ada.

Islam adalah agama yang senantiasa menyuruh kita memeiliki kepedulian dan keterlibatan soisial. Allah telah berfirman :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan Nya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguihnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (An Nisa : 36).

Perintah menyembah Allah, larangan berlalku syirik, dihubungkan kemudian dengan perintah berlaku sosial secara baik. Berbuat kebajikan dalam kehidupan masyarakat yang sempit dan luas, sejak dari kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan lain sebagainya. Tetangga yang dekat dan yang jauh bisa dimaknai dalam konteks jarak, atauopun dalam konteks kekerabatan.
Abu Dzar berkata, bahwa Rasulullah saw telah berpesan kepada dirinya, “Hai Abu Dzar, jika engkau memasak maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikan tetanggamu” (riwayat Muslim).

Demikian juga Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah saw memberikan nasihat kepada para wanita, “Hai para wanita muslimah, janganlah kalian merasa rendah diri jika akan memberi hadiah kepada tetangga, walaupun hanya dengan kikil (ujung kaki) kambing” (riwayat Bukhari dan Muslim).

Hal ini menunjukkan bahwa Islam amat mengharagai keserasian dan kerukunan hidup bertetangga. Memberikan perhatian, mengirimkan hadiah, adalah salah satu contoh bagaimana Islam mengajarkan interaksi positif bersama mereka. Oleh karena itu, belajar berinteraksi dengan realitas kehidupan masyarakat merupakan salah satu l;angkah yuang perlu diambil oleh laki-laki dan perempuan agar nantinya tidak canggung ketika telah hidup berumah tangga dan bermasyarakat.

Apalagi bagi mahasiswa dan mahasiswi yanbg terbiasa hidup di kos selama mereka kuliah. Selama tinggal di lingkungan kos, mereka adalah pihak yang terisolir dari masyarakat. Ketika ada acara-acara sosial kemasyarakatan mereka tidak pernah dilibatkan, karena dianggap sebagai tamu terhormat oleh masyarakat. Dalam batas tertentu, mahsiswa dengan menara gading kampusnya, telah diletakkan pada posisi untauchable oleh masyarakat.

Tatkala melaksanakan rapat RT para mahasiswa tidak diundang, demikian juga ketika ada jadual ronda, kerja bakti dan lain sebagainya, mereka cenderung tidak dilibatkan. Sebagaimana juga ketika ada arisan ibu-ibu, pertemuan dasawisma, pertemuan PKK dan lain sebagainya acara kaum wanita, para mahasiswi yang tinggal di lingkungan itu tidak pernah dilibatkan. Dampaknya selama empat atau l;ima tahun mereka kos, terisolir dari kehidupan masyarakat dis ekitarnya. Mereka hanya mengenal dunia kampus dengan segala macam aktivitas dan isealismenya.

Baca :   Apakah Anda Seorang Suami Yang Baik?

Begitu mereka menikah dan tinggal di sebuah lingkungan masyarakat, mereka sudah dihitung sebagai keluarga mandiri yang,m mendapatkan tuntutan peran yang utuh dalam masyarakat sebagaimanba keluarga yang lainnya. Kadang ada semacam kejutan tertentu pada mereka karena selama ini tidak terbiasa dengan ronda, arisan atau rapat tingkat RT, bahkan acara sosial lainnya seperti melayat orang meninggal, menghadiri pesta pernikahan atau aqiqah tetangga dan lain sebagainya.

Sangat diperlukan pembelajaran dari awal dalam konteks sosial;, agar tidak terjadi kekagetan dalam mengarungi hidup berumah tangga. kadang-kadang dalam hidup bermasyarakat diperlukan “ilmu basa-basi”, agar mampu mensosialisasikan diri di tengah komunitas masyarakat luas. Perlu wajah sosial, murah senyum, mudah mendahului menyapa oirang, dan lain sebagainya yang merupakan bagian dari bumbu-bumbu hidup dengan baik bersama tetangga dan lingkungan terdekat.
Demikianlah beberapa persiapan yang diperlukan oleh setiap pihak yang akan melangsungkan pernikahan. Semuanya bertujuan agar kehidupan keluarga yang dilewati paska pernikahan akan membawa kebahagiaan, kebaikan dan diliputi oleh suasana sakinah mawadah wa rahmah.

Selamat mempersiapkan diri. Sebagai penutup, marilah kita sejenak merenung dengan memperhatikan untaian kata yang ditulis oleh seorang penyair berikut ini:

Syair Renungan Singkat untuk Suami Isteri

Untuk Suami

Pernikahan atau perkawinan
Menyingkap tabir rahasia
Isteri yang kamu nikahi tidaklah semulia Khadijah, tidaklah setaqwa A’isyah
Pun tidaklah setabah Fatimah
Isterimu hanyalah wanita akhir zaman
Yang punya cita-cita menjadi shalihah

Pernikahan atau perkawinan
Mengajar kita kewajiban bersama
Isteri menjadi tanah, engkaulah langit penaungnya
Isteri kiasan ternak, engkau gembalanya
Isteri bak murid, engkaulah sang mursyid
Isteri bagai anak kecil, engkaulah tempatnya bermanja
Saat isteri menjadi madu, teguklah ia sepuasnya
Seketika isteri menjadi racun, engkaulah penawar bisanya
Seandainya isteri tulang yang bengkok
Berhati-hatilah meluruskannya

Pernikahan atau perkawinan
Menginsyafkan kita perlunya iman dan taqwa
Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah Ta’ala
Karena memiliki isteri tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa
Kamu bukanlah Rasulullah, pun bukanlah
Sayyidina Ali Karramallahu wajhah

Cuma suami akhir zaman
Yang berusaha menjadi shalih

Untuk Isteri

Pernikahan atau perkawinan
Membuka tabir rahasia
Suami yang menikahi kamu
Tidaklah semulia Muhammad
Tidaklah setaqwa Ibrahim, ataupun segagah Musa
Apalagi setampan Yusuf
Suamimu hanyalah lelaki akhir zaman
Yang punya cita-cita membangun keturunan yang shalih

Pernikahan atau perkawinan
Mengajari kita kewajiban bersama
Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya
Suami adalah nakhoda, kamu navigatornya
Suami bak balita yang nakal, kamu penuntun kenakalannya
Saat suami menjadi raja, kamu nikmati
Anggur singgasananya
Seketika suami menjadi bisa, kamulah penawar obatnya
Seandainya suami masinis yang lancang
Sabarlah mengingatkannya

Pernikahan atau perkawinan
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa
Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah Ta’ala
Karena memiliki suami tak segagah mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa
Kamu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna dalam
menjaganya, pun bukanlah Hajar yang begitu setia
Dalam sengsara,
Cuma wanita akhir zaman
Yang berusaha menjadi shalihah

Wallahualam


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Bolehkah Menikahi Wanita Yang Hamil Duluan Dari Perzinaan Dengan Orang Lain dan Keharmonisan Rumah Tangga

KaSURAU – Saya pria berumur 33 thn dan sudah beristri yang ingin saya tanyakan : …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: