Beranda / Uncategorized / Lebih Cepat Meraih Kemenangan Belum Tentu Lebih Baik

Lebih Cepat Meraih Kemenangan Belum Tentu Lebih Baik

KASURAU – Bismillahirahmannirrohiim

Assalamu ‘alaykum wr wb

Ba’da tahmid wa sholawat,

Dalam surat al-Anfal ayat 45-46 Allah Swt berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Di ayat lain Allah Swt juga berfirman yang artinya : “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff : 4)

Ikhwan dan akhwat fillah, ayat di atas adalah ayat yang sangat masyhur dan sering dinukil oleh asatidz dari surat al-Anfal dan Ash-Shaff. Dalam ayat tersebut, Allah Swt memberikan beberapa petunjuk untuk dapat meraih kemenangan yang telah dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang beriman, yaitu agar senantiasa berteguh hati, banyak berdzikir, tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berbantah-bantahan, dan bersabar. Allah Swt juga memerintahkan agar umat Islam bersatu padu dalam barisan yang rapi sebagai upaya mewujudkan kekuatan untuk meraih kemenangan.

Ikhwan dan akhwat fillah, kezhaliman hanya dapat dimusnahkan dengan perlawanan dan perjuangan. Demikian pula, tegaknya Islam hanya dapat diwujudkan melalui dakwah dan jihad. Namun demikian, adalah sunnatullah bahwa dalam sebuah perjuangan menegakkan kalimatillah dan memberantas kezhaliman, para da’i dan mujahid akan dihadapkan pada banyaknya musuh yang akan menentangnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw melarang umat Islam untuk mengharap bertemu dan berhadapan dengan musuh. Akan tetapi jika musuh datang, umat Islam diperintahkan agar menghadapinya dengan keteguhan hati, senantiasa bersabar, banyak berdzikir serta meminta pertolongan dan keselamatan kepada Allah Swt.

Ikhwan dan akhwat fillah, kita harus yakin bahwa cepat atau lambat Allah swt akan memberikan kemenangan bagi umat Islam. Akan tetapi perlu diingat bahwa lebih cepat meraih kemenangan belum tentu lebih baik, karena bisa jadi dalam keterlambatan ada hikmah dan manfaat yang sangat banyak. Bagi orang-orang yang beriman, apa dan bagaimana pun yang ditakdirkan Allah adalah yang terbaik. Jika kemenangan itu cepat datangnya, maka orang yang beriman akan bersyukur, dan itu tentu baik. Sebaliknya jika kemenangan itu tak kunjung datang, maka yakinlah bahwa Allah swt menciptakan kondisi tersebut sebagai ladang amal dan ujian bagi keimanan kaum Muslimin untuk melihat siapa-siapa yang dapat bersabar dan tidak berputus asa.

Ikhwan dan akhwat fillah, kita semua tentu sangat mengharapkan tuk meraih kemenangan. Namun demikian, kemenangan dakwah tidak akan dapat terwujud tanpa terpenuhinya syarat2 yang telah ditentukan oleh Allah, salah satunya adalah adanya persatuan dan kesatuan umat Islam. Sebab, proyek dakwah yang besar ini tidak dapat dipikul oleh seorang atau sebagian kaum muslimin saja, melainkan harus dipikirkan dan dilaksanakan secara bersama dalam satu ikatan amal jama’i. Dalam ayat yang telah saya sampaikan pada mukadimah, Allah Swt telah memerintahkan kita untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta tidak berbantah-bantahan. Dan untuk mencapai kemenangan, kaum muslimin harus berada dalam barisan yang rapi agar memiliki kekuatan yang kokoh. Namun demikian, ternyata hal ini tidak dapat diwujudkan dengan mudah. Telah nampak adanya fenomena ketidakkompakan di antara para kader dakwah. Hal ini tentu akan dapat menjadi permasalahan yang lebih serius jika tidak segera ditangani dengan baik.

Ikhwan dan akhwat fillah … dalam perkembangannya, perjalanan dakwah ini telah banyak menjumpai banyak kendala di lapangan dan berbagai permasalahan yang tak pelak akan menyertai setiap langkah para aktivis dakwah. Melihat hal tersebut, makin dirasakan perlunya kerjasama dalam tim untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Dan agar kerja tim dapat berhasil dengan baik, para anggotanya perlu memiliki kemampuan berinteraksi dan mengadakan hubungan antarpribadi yang baik. Kemampuan ini sangat membantu dalam menghidupkan amal jama’i dalam tataran halaqoh atau yang lebih besar dari itu.

Muhammad Abu Ayyasy dalam bukunya “Strategi Perang Rasulullah” menyebutkan beberapa pilar-pilar jihad sebagai kunci untuk meraih kemenangan, yaitu :

1. Quwwatul Iman; Kekuatan Iman

Basis keimanan inilah kunci kemenangan di setiap medan pertempuran. Bahwa sesungguhnya kemenangan itu adalah milik Allah, dan akan Allah berikan kepada setiap tentara-Nya yang memperkuat aspek keimanan. Tsiqah, percaya bahwa pertolongan Allah akan turun. Ini juga sifat yang harus dibangun. Yakin bahwa Allah akan menepati janji-Nya, yakin bahwa kemenangan dan kekuatan akan dianugerahkan Allah kepada pasukan-Nya, yakin bahwa Allah membeli pengorbanan para mujahid dengan surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan, sebuah keyakinan bahwa kematian yang paling baik adalah kematian di saat ia dalam perjuangan menegakkan kalimat Allah. Semangat keimanan inilah yang Rasulullah bangun sebelum memberangkatkan pasukannya ke medan perang.

Baca :   Kemuliaan Bersama Da'wah

Allah SWT berfirman.
“Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka memberikan bai’at kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Lalu, Dia menurunkan ketenangan kepada mereka dam memberikan balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. Dan harta rampasan perang yang banyak yang mereka ambil. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (QS Al-Fath [48]: 18-19)

Begitu juga Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 125–126, Al-Hujurat ayat 15, Ghafir ayat 51, dan firman Allah lainnya yang menegaskan aspek keimanan sebagai pilar kekuatan mujahid dan syarat turunnya pertolongan Allah SWT.

Bahkan, ketika sebuah perjuangan, apa pun bentuknya ketika meninggalkan aspek keimanan ia akan kehilangan ruh perjuangan itu sendiri, atau akan berdampak kekalahan. Hati dengan keimanan, akal yang persenjatai dengan ilmu, jiwa para mujahid yang selalu dekat pada Allah, inilah password Rasulullah dan kaum muslin contohkan kepada kita.

2. Ittihad Ash-Shufuf; Kesatuan Barisan

Allah SWT memberikan statemen kecintaan-Nya dengan format barisan kaum muslim yang rapi guna mengokohkan barisan kekuatan. Unsur-unsur yang harus ditegakkan di antaranya:

a. Kekuatan hubungan yang kuat antar-kaum muslim

Itulah kenapa Rasulullah telah hijrah dari Mekah ke Madinah mempersaudarakan antara prajurit dakwah, Muhajirin, dan Anshar. Membangun persaudaraan keimanan (al-ukhuwah al-imaniyah). Tujuannya untuk saling merasakan beban dakwah bersama, berjuang bersama dalam perjuangan, saling menguatkan dalam perjuangan suci. Dari sinilah titik tolak kekuatan kaum muslim. Adanya jalinan hubungan yang kuat antarprajurit inilah yang sanggup menjadikan umat Islam dan pasukan muslim laksana satu jasad dan satu tubuh yang saling melengkapi dan saling berkaitan. Tidak ada hubungan yang lebih kuat daripada akidah, dan tiada akidah yang lebih kuat daripada Islam.

“Berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian ketika kalian bermusuhan. Lalu, Allah mempersatukan hatimu, sehingga berkat nikmat-Nya kalian. menjadi bersaudara. (dan ingat juga) ketika kamu berada di pinggir neraka, lalu dia menyelamatkanmu darinya, demikianlah Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada kalian agar mendapat petunjuk.” (QS Ali lmran [31: 103)

b. Kepercayaan antara Pemimpin dan Pasukan

Adanya saling percaya dalam tubuh pasukan merupakan salah satu aspek kemenangan perjuangan Islam. Saling percaya antarprajurit, prajurit terhadap pemimpin maupun pemimpin terhadap pasukan itu sendiri. Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah ketika dalam perang Badar. Rasulullah menerima saran dan kritik dari para sahabat tentang memilih strategi tempat dalam bermarkas.

c. Adanya Ketaatan dan Kepatuhan

Inilah aspek terpenting dari kemenangan dakwah. Taat terhadap instruksi komando adalah kewajiban bagi setiap pasukan. Hal ini ditunjukkan oleh para sahabat dalam menyikapi setiap komando strategis dari Rasulullah selaku panglima tertinggi dalam setiap peperangan, dan mereka mendapat kemenangan. Namun, ketika para sahabat berada di puncak gunung Uhud terpesona dengan harta yang hampir saja ditinggalkan oleh kaum musyrik (ghanimah), kaum muslim hampir saja mengalami kekalahan yang sangat telak. Ketaatan adalah harga mahal yang harus dibayar untuk setiap fase perjuangan.

Allah SWT berfirman.
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul, serta ulil amri di antara kalian. Jika kalian berselisih paham dalam sesuatu hal, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar mengimani Allah dan Hari Akhir.” (QS An-Nisa’ [4]: 59)

Ikhwan dan akhwat fillah …. itulah dua pilar yang paling utama yang disampaikan oleh Muhammad Abu Ayyasy sebagai kunci untuk meraih kemenangan. Dua pilar ini harus senantiasa kita kokohkan dan kita evaluasi.

Allahu a’lam


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Jangan Sampai Hilang, Pewarisan Tarbiyah

serambiminang.com – Usia perjalanan dakwah tarbiyah di Indonesia boleh dikatakan tidak lagi muda. Dimulai pada …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: