Beranda / Uncategorized / Menata Kembali Tarbiyah Kita

Menata Kembali Tarbiyah Kita

KaSURAU -Ikhwah fillah, mungkin sebagian dari kita saat ini merasakan ada sesuatu yang berkurang dalam kehidupan tarbiyah kita, halaqah menjadi seperti rutinitas tanpa makna, ataupun ghirah menjadi semakin redup. Kalau kondisi ini tidak disikapi secara bijak dan tepat, futur dan insilakh pun membayangi kita.

Bagaimanakah sikap kita terhadap jamaah ini ? Begitu banyak hujjah naqli dan aqli mengenai urgensi berjamaah, yang seharusnya bisa terus memantapkan langkah pribadi kita untuk terus bersama jamaah. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa masa terbaik adalah masa ketika Rasulullah SAW masih hidup, kemudian masa sahabat, masa tabi’in, masa tabi’ut tabi’in, sampai dengan masa sekarang, grafik kualitasnya semakin menurun. Bisa jadi, memang ada kelemahan dan kekurangan dalam jama’ah ini, akan tetapi menjadi tugas kita bersama sebagai a’dha jama’ah untuk senantiasa menjaganya supaya tetap dalam kebenaran. Hilangkan rasa ragu, dan perkuat rasa percaya diri, bahwa jama’ah kita insya Allah masih berada dalam rel kebenaran dan insya Allah akan senantiasa dilindungi oleh Allah SWT.

Bagaimanakah cara menjaganya ? Insya Allah, istiqomah adalah jawaban. Istiqomah dalam amal-amal kebaikan. Tidak ada kata istirahat atau cuti dalam beramal. Allah SWT memerintahkan kita untuk berinfaq fiis sarraai wadz dzarraai, dalam keadaan lapang maupun sempit (Ali Imran :134). Kita diperintahkan untuk berdzikir dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring (Ali Imran :191). Atau, hikmah ketika perang Badar usai dengan kemenangan gemilang kaum muslimin, kemenangan itu kemudian melenakan. Kevakuman menyebabkan masing-masing bicara tentang perannya, juga peran kaumnya, bahkan sampai terjadi pula masing-masing diantara sahabat mengangkat pedang hanya karena kebanggaan semu atas peran pribadi dan sukunya, hanya karena termakan hasutan para munafiqin durjana.

Baca :   Lewati Persawahan, Mahyeldi Sahur di Rumah Sederhana Milik Bu Ratna

Jadi, kevakuman amal, istirahat ataupun cuti akan kontraproduktif, karena sesungguhnya apabila kita tidak disibukkan oleh amal kebaikan, maka kita akan disibukkan oleh hal-hal yang sia-sia, bahkan penjagaan diri terhadap kemaksiyatan pun akan semakin lemah.

Ikhwah fillah, memang berjamaah penuh dengan keutamaan dan keberkahan. Akan tetapi, sesungguhnya pertanggungjawaban atau hisab kelak dihadapan Allah itu fardhiyah, sendiri-sendiri dan tidak ada hisab jama’i. Belum tentu kesuksesan amal jama’i itu inheren dengan kesuksesan amal fardhiyah masing-masing a’dha. Oleh karena itu, mari kita perbaiki diri, berusaha menyelaraskan antara amal jama’i dengan amalan fardhiyah untuk mempersiapkan bekal untuk menghadapi hisab dihadapan Allah kelak.

Selanjutnya, kitapun juga mengevaluasi ketaatan. Apakah sudah benar-benar sam’an wa tha’atan sepenuhnya, atau masih parsial. Pilih-pilih ketaatan, yang sesuai dengan kehendak kita baru dilakukan, yang tidak sesuai kita tinggalkan. Inilah bibit ketidaksolidan dan bibit ketidaktsiqahan pada jama’ah.

Ikhwah fillah, ada banyak hal yang bisa kita lakukan, bahkan waktu yang tersedia pun sesungguhnya tidak cukup untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai orang beriman dan sebagai a’dha jama’ah. Dan sosusi itu adalah kembali kepada barak-barak tarbiyah, menghidupkan kembali agenda-agenda tarbiyah di halaqah-halaqah kita, memeliharanya dan mengembalikan pada ashalah-nya.

Semoga bermanfa’at.


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Jangan Sampai Hilang, Pewarisan Tarbiyah

serambiminang.com – Usia perjalanan dakwah tarbiyah di Indonesia boleh dikatakan tidak lagi muda. Dimulai pada …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: