Beranda / Uncategorized / Muslim Harus Kaya, Inilah Kekayaan Para Sahabat Rasulullah SAW

Muslim Harus Kaya, Inilah Kekayaan Para Sahabat Rasulullah SAW

KASURAU – Bahasan ini di ambil dari tulisan ustadz Jazuli Juwaini, MA yang berjudul “Saudagar Di Era Salaf dan Kholaf”. Bahasan ini sangatlah baik bagi setiap muslim agar dapat memutar kembali kehidupan Rasulullah saw dan para sahabat ketika dahulu.

Bahasan ini juga tentunya bertujuan memotivasi seorang muslim untuk dapat mencari harta yang halal dan penuh dengan keberkahan. Karena hanya dengan begitulah kita dapat mengantarkan diri sendiri dan orang-orang terdekat kita ke surganya Allah SWT.

Di dalam Al Quran tak sedikit pula akan kita temukan pujian Allah SWT pada orang-orang kaya, diantaranya:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan), yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur: 37)

Imam Al-Qurthubi berkata, “Dianjurkan bagi seorang pedagang (pengusaha) untuk tidak disibukkan/dilalaikan dengan perniagaan (usaha)nya dari menunaikan kewajiban-kewajibannya. Oleh karenanya, ketika tiba waktu shalat fardhu, hendaknya dia (segera) meninggalkan perniagaannya (untuk menunaikan shalat), agar dia termasuk ke dalam golongan orang-orang (yang dipuji Allah Subhanahu wa Ta’ala) dalam ayat ini.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Orang-orang miskin (dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) pernah datang menemui beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang (kaya) yang memiliki harta yang berlimpah bisa mendapatkan pahala (dari harta mereka), kedudukan yang tinggi (di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala), dan kenikmatan yang abadi (di surga), karena mereka melaksanakan shalat seperti kami melaksanakan shalat dan mereka juga berpuasa seperti kami berpuasa, tetapi mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji, umrah, jihad, dan sedekah, sedangkan kami tidak memiliki harta.…” Dalam riwayat Imam Muslim, di akhir hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah karunia (dari) Allah yang diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (no. 807 dan 5970) dan Muslim (no. 595).

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari ucapan para sahabat tersebut tentang pahala dan keutamaan besar yang diraih oleh orang-orang kaya pemilik harta yang menginfakkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan di akhir hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji perbuatan mereka. Oleh karena itu, Imam Ibnu Hajar –ketika menjelaskan hadits ini– berkata, “Dalam hadits ini (terdapat dalil yang menunjukkan) lebih utamanya orang kaya yang menunaikan hak-hak (Allah Subhanahu wa Ta’ala) pada (harta) kekayaannya dibandingkan orang miskin, karena berinfak di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits di atas) hanya bisa dilakukan oleh orang kaya.” (Kitab Fathul Bari: 3/298)

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Baca :   Fraksi PKS DPRD Padang Berjanji Akan Perjuangkan Penolakan Siloam

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”

Karena itu bagi seorang muslim memiliki harta sebanyak-banyak sangat dianjurkan, tapi Islam mengingatkan bahwa harta yang dikumpulkan itu bukanlah tujuan, tapi sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan menegakkan kalimah Allah di muka bumi. Dan telah menjadi sebuah kenyataan bahwa perjuangan tidak akan berjalan dengan optimal tanpa dibarengi dengan ketersediaan harta benda.

Rasulullah selain dengan harta beliau sendiri ditambah dengan harta ummul mukminin Khadijah menyumbangkan harta untuk perjuangan kaum muslimin. Khalifah Abu Bakar hampir seratus persen menyumbangkan harta kekayaan untuk Islam, Amirul mukminin Umar bin Khattab dengan perjuangan Islam berkontribusi lima puluh persen dari harta kekayaannya, dan yang paling melegenda sahabat nabi paling kaya Abdurrahman bin Auf tidak pernah berhenti bersedekah dengan hartanya untuk Islam sampai ajal menjemputnya. Justru dengan harta bendanya inilah beliau menjadi salah satu sahabat yang dijamin rasulullah masuk surga. Pendek kata, semua perjuangan Islam dari dulu hingga sekarang tidak pernah lepas dari dukungan materi. Karena itu mengumpulkan harta benda untuk tercapainya sebuah perjuangan menjadi wajib hukumnya. Dan, ternyata semua harta benda para sahabat yang memiliki kontribusi besar dalam memperjuangkan Islam itu didapat dari hasil perniagaan atau wirausaha.

Berikut kita lihat kekayaan para sahabat Rasulullah saw:
 

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq (632-634 M)
2. Umar bin Khatab (581-644M)
3. ‘Utsman bin ‘Affan (574-656M)
4. ‘Abdurrahman bin ‘Auf Al-Qurasyi (wafat tahun 32 H)
5. Zubair bin Awwam (wafat 36 H/656 M)


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Awas ! Ini Tanda – Tanda Jin Menyukai Anda

SerambiMINANG.com -Jin merupakan mahluk Allah dan mereka juga hampir sama dengan kita walaupun berada di …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: