Beranda / Uncategorized / Relatifitas

Relatifitas

KaSURAU,  Pak, Alphard dan rolex itu bukankah termasuk barang atau mobil mewah..???  Sang Ustadz menjawab, “Relatif  atau tergantung siapa yang memandang”…., begitulah dialog dari sebuah acara disalahsatu TV. Penulis sedikit tergelitik dengan dialog tersebut, sehingga sedikit meluangkan waktu untuk berpikir dan membuat catatan kecil ini.

Maaf Ustadz… dalam hal ini saya sedikit tergelitik dengan pernyataan Ustadz, kalau alphard itu bukan termasuk barang mewah tapi relatif, sedikit tulisan ini untuk menanggapi pendapat ustadz.

Yuk berpikir sejenak . . . . . . .

Jika kita melihat permasalahan tersebut di atas, maka ada hal yang amat penting yang terkadang terlupakan oleh kita, yaitu system nilai. Didalam system nilai, apapun bentuknya, harus ada standar/acuan/rujukan/tolok ukur dari sebuah system nilai. Sehingga begitu kita mendiskusikan sebuah produk “nilai” dari sesuatu, maka harus mengacu kepada standar yang ada, dimana standar ini bisa diperoleh dari hasil kesepakatan, atau berasal dari kajian yang dalam terhadap sesuatu. Segala sesuatu didunia ini pasti, dan harus ada standar, karena jika tidak maka akan hancurlah system nilai yang ada karena tidak ada kejelasan. 

Contoh. Kapan seseorang itu bisa disebut kaya atau miskin, tentu ada parameter yang bisa dijadikan acuan utk menentukan pernyataan diatas. Contohnya Untuk orang miskin, orang didaerah tertentu bisa disebut miskin jika berpenghasilan < 2 Jt, Inilah yang dinamakan standar atau acuan. Begitu juga sebaliknya. Contoh lain, Jika kita ingin menimbang ukuran 1 kg maka acuan kita adalah timbel ukuran 1 kg. Jika kita ingin mengukur ukuran 1 meter maka yang dijadikan acuan adalah meteran 1 meter. Sehingga jika sudah jelas standarnya atau acuannya maka tidak akan ada lagi perselisihan antara penjual dan pembeli. 
Ada batasan batasan dimana kapan sebuah system nilai itu bersifat absolut dan kapan system nilai itu bersifat relatif.  Suatu ketika kami pernah berdialog dengan aktifis pendukung JIL (yang selalu merelatifkan segala hal) di salahsatu forum terbuka. Ketika ada momen dialog, kami bertanya “mana yang lebih cantik antara Dian sastro  dan Omas (maaf bukan bermaksud utk meren- dahkan). Dari pertanyaan tersebut ternyata tidak ada satupun pendukung JIL itu yang berani mengatakan relatif. Dari contoh analogi di atas, jelas sekali bahwa ada batasan-batasan tertentu dimana ada nilai  yang masuk ke area relatif, ada yang tidak. Karena sekali lagi bahwa seluruh system nilai apapun bentuknya, pasti punya standar acuan. Lain lagi jika pertanyaannya adalah, “mana yang lebih cantik antara Dian Sastro dengan Syahrini..??”  Mungkin pendukung JIL ini baru berani bilang relatif.
Sebuah standar nilai bisa di adopsi dari nilai yang berkembang dalam masyarakat (bahasa Arabnya Urf), karena system nilai itu berkembang dan mengikuti atau linier dengan latarbelakang dari sebuah komunitas, baik itu menyangkut ekonomi, pendidikan, budaya, adat, dan sebagainya.

Baca :   Out Of The Box !!

Apalagi jika kita mengaku sebagai aktifis dakwah yang tentunya sudah mendapatkan limpahan materi tentang zuhud, melalui kisah kisah Rasulullah SAW dan sahabat, bagaimana mereka menjalankan kehidupannya bagaimana gaya hidupnya (life style), sehingga tentunya aktifis dakwah pasti mempunyai “standar” didalam mensikapi kehidupan. Betul para sahabat yg dijamin masuk surga, mereka sebagian besar termasuk golongan berpunya, tetapi tetap gaya hidup/life style mereka sederhana. Sampai sampai utusan dari romawi tidak mengetahui siapa Khalifah arab waktu itu karena penampilan Umar yang biasa saja dan tak berbeda dengan rakyat kebanyakan.

Menurut hemat kami, boleh kaya tetapi life style tetap sederhana (tentunya kita masih ingat kisah Abdurahman bin Auf kaaan…). Apalagi ketika melihat fakta bahwa komunitas dakwah sebagian besar masih dalam taraf ekonomi biasa biasa saja. Ditambah lagi lagi jika sudah menyandang sebagai pejabat publik yang kedudukan itu diperoleh dari sebagian usaha dan keringat kader-kader dakwah. 

Tidak elok rasanya jika berpenampilan borju dan mewah. Kecuali jika yang bersangkutan pada awalnya adalah pengusaha (dan bukan pejabat publik), maka tidak menjadi masalah seperti apapun penampilannya.

Sehingga bisa kita simpulkan bahwa ketika kita hidup dibumi Indonesia, dan ketika ditanya, apakah mobil Alphard termasuk mobil mewah…..???  maka kurang bijak rasanya jika kita jawab dengan kata “…..RELATIF…”

Oleh : Asdeddy Syam


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Awas ! Ini Tanda – Tanda Jin Menyukai Anda

SerambiMINANG.com -Jin merupakan mahluk Allah dan mereka juga hampir sama dengan kita walaupun berada di …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: