Beranda / Surau / Dakwah / Inilah 2 Hal Yang Tidak Boleh Dianggap Remeh Dalam Dakwah

Inilah 2 Hal Yang Tidak Boleh Dianggap Remeh Dalam Dakwah

Inilah 2 Hal Yang Tidak Boleh Dianggap Remeh Dalam Dakwah

SerambiMINANG.com – Dakwah memegang peranan penting dalam kehidupan kita, tidak hanya berkaitan dengan diri pribadi tapi juga berkaitan dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Allah SWT sendiri mengatakan di dalam Al Quran betapa beruntungnya orang-orang yang hidupnya selalu di isi dengan dakwah.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Diantara fenomena hari ini ditemukan adalah semakin banyaknya aktivis dakwah menganggap remeh dakwah itu sendiri sehingga menimbulkan banyak gejolak dalam perjalan dakwah itu sendiri. Fenomena yang terjadi hari ini kemudian bagaimana kita mencoba menganalisanya sehingga dapat diobati dan kemudian dapat diperbaiki sehingga dakwah dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Muhammad Abduh, dalam bukunya yang berjudul Madza Ya’ni Intimaa’i lid-Da’wah mengatakan, ada 2 hal yang kemudian tidak boleh dianggap remeh dalam berdakwah;

Pertama, Hilangnya Keteladanan dalam Ibadah dan Kewajiban

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Jundub bin Abdullah Al Azdi Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang mengajari manusia kebaikan, kemudian ia melupakan dirinya seperti lilin yang menerangi orang lain tetapi membakar dirinya sendiri.”

Tentunya harus kita pahami bersama bahwa aktivis dakwah, da’i, ustadz atau pendakwah lainnya adalah teladan bagi orang-orang yang menjadi objek dakwahnya dan objek dakwah ini tidaklah harus orang yang kemudian didatangi lalu diberikan nasehat, di forum-forum, ceramah-ceramah, tabligh akbar, dan lain sebagainya, tapi objek dakwah ini sini adalah termasuk orang-orang yang hanya melihat bagaimana keseharian kehidupan kita.

Tentunya hal ini akan menjadi sebuah tantangan besar bagi seorang pendakwah apabila apa yang diucapkannya tidak sama dengan apa yang diaplikasikannya di lapangan. Mengajak orang untuk shalat berjamaah, menghafal Al Quran, memberitahukan urgensi menepati janji, dan lain sebagainya namun dilain sisi, justru sebagai pendakwah justru selalu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang disampaikan. Tidak pernah menemukannya shalat berjamaah, hafalan Al Qurannya sedikit, bacaan Al Qurannya buruk, dan apalagi sering tidak menepati janji. Hal ini tentunya akan mencoreng nama baik dakwah itu sendiri. Dan bisa berakibat buruk pada objek dakwah dengan semakin jauh dari islam itu sendiri bukan semakin mendekat.

Baca :   Apa Amalan Unggulan Kita?

Kedua, Hilangnya Keteladanan Dalam Dakwah

Diantara fenomena lainnya yang ditemukan hari ini adalah ditemukannya seorang mas’ul, qiyadah atau pemimpin yang seharusnya menjadi telada dengan memberika contoh-contoh yang baik pada aktivis dakwah atau pendakwah tapi justru kita tidak menemukan hal tersebut. Terkadang justru keteladanan dalam perannya sebagai pemimpin justru ditemukan dari orang-orang yang belum tersentu oleh dakwah sama sekali.

Tentunya hal ini akan sangat mengecewakan para mad’u, aktivis dakwah, bahkan objek dakwah itu sendiri. Banyak diantara mereka lebih mementingkan maslahat atau kepentingan pribadi daripada kepentingan dakwah itu sendiri. Mereka juga lebih memperhatikan dunia dengan kesibukannya yang memenuhi ruang hati dan pikiran.

Dalam dakwah, banyak para pemimpin membatasi diri pada pertemuan-pertemuan mingguan, dengan selalu mengatakan ini dan itu sebagai seorang aktivis dakwah, namun pada kenyataannya dia adalah orang yang paling akhir dalam bekerja, hanya bisa melarang ini dan itu, tidak pernah mau bergerak di lapangan untuk menanggung bban dakwah.Hal ini tentu saja telah menyebarkan kelambanan dan kemalasan kepada orang-orang atau aktivis dakwah yang berada disekitarnya.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh al-Walid bin ‘Uqbah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, ada sekelompok manusia dari penghuni surga menghampiri sekelomok penghuni neraka seraya bertanya, “Mengapa kalian masuk neraka? Padahal demi Allah, kami tidak memasuki surga ini melainkan karena belajar dari kalian. Penghuni neraka menjawab, “Sesungguhnya kami dahulu hanya berbicara dan tidak melaksanakannya.”

Hadist ini semoga menjadi perenungan kita bersama, sebagai seorang pemimpin dakwah, aktivis dakwah atau lainnya. Hadist ini tentunya tidak memiliki maksud untuk justru menghentikan langkah dalam melakukan dakwah, justr seharusnya hadist ini kemudian menjadi cambuk bagi para aktivis dakwah bahwa apa yang telah disampaikan haruslah sesuai dengan apa yang diperbuat.

Yakinlah bahwa dengan memberikan teladan yang baik, akhlak yang baik, akan menumbuhkan kesan yang bagi objek dakwah yang berada di sekitar kita dan dengan demikin dakwahpun akan mendapatkan sambutan yang baik oleh objek dakwah.

Semoga menjadi renungan kita bersama
Disarikan dari buku Muhammad Abduh, Madza Ya’ni Intimaa’i lid-Da’wah
Abu Faguza Abdullah


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Jangan Sampai Hilang, Pewarisan Tarbiyah

serambiminang.com – Usia perjalanan dakwah tarbiyah di Indonesia boleh dikatakan tidak lagi muda. Dimulai pada …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: