Beranda / Uncategorized / Janganlah Kau Buat Sengsara Orang Lain Dengan Membuang Waktunya

Janganlah Kau Buat Sengsara Orang Lain Dengan Membuang Waktunya

Janganlah Kau Buat Sengsara Orang Lain Dengan Membuang Waktunya

SerambiMINANG.com – Sering kita dengar ungkapan “waktu adalah pedang”. Uangkapan ini tentu bukan tanpa dasar, karena kita tidak akan dapat menggeser waktu ketika pedang telah berada tepat dileher kita. Begitupula dalam kehidupan, waktu adalah hal yang sangat penting. Membuangnya secara percuma sama saja dengan menyia-nyiakan umur kita untuk semakin lambat menuju surganya Allah SWT.

Muhammad Abduh mengatakan bahwa perhatian terhadap waktu, komitmen terhadap janji, dan disiplin di dalamnya adalah menunjukkan pemahaman seseorang terhadap waktu dan nilai waktu bagi dirinya dan saudaranya.  Hal ini tentunya mengingatkan kita, sudah sejauh manakah pemahaman kita terhadap waktu sendiri, apalagi hal ini tidak hanya berhubungan dengan diri sendiri tapi juga orang lain.

Fenomena baru yang kita temukan hari ini adalah dimana komitmen terhadap waktu semakin menurun dan merosot tajam. Tidak jarang kemudian kita temukan pada hari ini ketika membuat janji maka harus memiliki toleransi waktu 30 menit sampai dengan 60 menit,bahkan kemudian ada yang menjadikan hal ini menjadi sebuah rutinitas dan kebiasaan dan lebih parahnya hal ini dilakukan oleh kalangan aktivis dakwah. Tentu akan sangat berbahay ketika hal ini terus dibiarkan  sehingga menjadi prinsip dan landasan padahal hal tersebut adalah perbuatan yang tercela.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Abdullah bin al-Hamsa’ bahwa dia berkata, “Saya telah melakukan transaksi jual beli dengan Rasulullah SAW sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Kemudian, masih ada sesuatu yang tertinggal, dan kami sepakat untuk bertemu di suatu tempat, tetapi saya lupa. Baru tiga hari kemudian, saya ingat. Kemudian saya pun datang ke tempat yang kami janjikan, ternyata Rasulullah SAW masih berada di tempat itu. Kemudian beliau berkata, “Wahai anakku, engkau telah menyengsarakanku. Aku sudah tiga hari berada di sini.”

Baca :   Gubernur Sumbar Ajak Masyarakat Jadikan Dakwah Sebagai Pekerjaan Utama

Dari hadist ini sangatlah jelas bahwa, ketika tidak bisa menepati janji atau kemudian hadir dalam tepat waktu sungguh menyengsarakan orang lain. Tentunya kita tidak ingin menjadi bagian dari meyengsarakan hidup orang lain karena hal yang bernama waktu.

Konsekuensi besar dari masalah ini adalah akan timbul sikap hilangnya kepercayaan antar pribadi dan hilangnya waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat serta terbuangnya waktu lain dengan sia-sia. Kemudian yang harus dipahami bersama dan menjadi bahan perenungan, bahwa sifat ingkar janji adalah salah satusifat dari orang munafik.

Semoga hal ini dapat menjadi nasehat bagi kita bersama, utamanya para aktivis dakwah. Karena objek dakwah kita memerlukan teladan, dan ini adalah hal utama yang akan mereka lihat dan menjadi penilaian utama ketika bertatap muka.

Wallahualam
Disarikan dari buku Muhammad Abduh, Madza, Ya’ni Intimaa’i lid-Da’wah
Abu Faguza Abdullah


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Jangan Sampai Hilang, Pewarisan Tarbiyah

serambiminang.com – Usia perjalanan dakwah tarbiyah di Indonesia boleh dikatakan tidak lagi muda. Dimulai pada …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: