Beranda / Surau / Pemikiran Islam / Emansipasi Wanita Dalam Kaca Mata Islam dan Barat

Emansipasi Wanita Dalam Kaca Mata Islam dan Barat

serambiMINANG.com – ‘JASMERAH’, Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Istilah ini barangkali sudah tidak asing bagi kita. Istilah yang dikeluarkan presiden pertama RI ini nampaknya perlu kita renungkan. Ada apa dengan sejarah, ataukah problema bangsa hari ini salah satunya disebabkan oleh kebutaan akan sejarah? Hal ini berkemungkinan besar iya. Bisa jadi karena kebodohan akan sejarah moral bangsa ini makin lama makin bobrok. Katanya emansipasi wanita, tapi apakah sama makna emansipasi wanita dengan praktek komodity syahwat bernama (aurat) wanita? Barangkali kesenjangan ini juga karena tidak tahu sejarah. Kemerdekaan seperti inikah yang tertuang dalam pembukaan UUD 45 yaitu kemerdekaan yang terjadi ‘atas berkah rahmat Allah’?

Pada hari ini berkah dan rahmat Allah tidak lagi menjadi patokan dan acuan dalam mengisi kemerdekaan. Perlahan kemerdekaan itu digerus oleh liberalisasi global ala peradaban barat. Begitu di agung-agungkannya peradaban barat ini, baik oleh orientalis barat ataupun pribumi. Ketika disebut peradaban Islam seolah kita diposisikan sebagai orang yang kolot, tidak modern. Bahkan kaum wanita dengan sok kerennya mengatakan ini ‘kebebasan’ ber ekspresi, HAM. Ya, walaupun menjadikan diri mereka sebagai komoditi syahwat dengan sedikit pemolesab kata-kata. Kita lihat saja sejarah, dimanakah akar peradaban barat yang menghasilkan dan menjadikan wanita-wanita tersebut seolah hanya seperti komoditas nafsu yang dibalut emansipasi wanita.

Peradaban barat, secara umum sebagai peradaban yang telah lepas dari nilai-nilai moral yang ‘tetap’ yang sifatnya ‘keagamaan’, mereka sekarang menganut prinsip relativisme dan humanisme.

Karena itu mereka tidak pernah bertemu dengan kebenaran, karena konsep mereka adalah ‘re-search’, mencari dan terus mencari. Setiap mereka bertemu kemungkaran, mereka ingkari, dan mereka mencari lagi sesuatu yang akhirnya mereka sendiri tidak menemukan apa-apa.

Ini jelas berbeda dengan Islam, yang menganut ‘kepastian’ nilai. Sejak abad ke 7 Islam sudah memberikan garis yang tegas, bagaimana dalam memandang dan mendudukkan posisi wanita, baik secara individual, keluarga dan masyarakat. Wanita yang ketika itu dipandang sebagai warisan ditempatkan Islam sebagai makhluk yang setara dengan laki-laki. Bahkan Allah dalam Al Quran memposisika laki-laki untuk menjaga makhluk yang namanya perempuan. “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri)” -surat An Nisa ayat 34. Banyak ayat dalam al qur’an yang menggambarkan bahwa laki-laki dan wanita yang beramal salih, maka mereka akan mendapatkan balasan masing-masing. Wanita adalah setara dengan laki-laki. Bandingkan dengan bagaimana wanita dengan peradaban lain dalam memandang wanita. Di india, perempuan harus ikut mati jika suaminya mati. Apakah demikian yang dinamakan dengan emansipasi wanita ?

Philip J. Adler, dari East Carolina University dalam bukunya world civilizations (2000), menggambarkan bagaimana kekejaman barat dalam memandang dan memperlakukan wanita. Sampai abad ke 17 di Eropa, wanita masih dianggap jelmaan setan atau alat bagi setan untuk menggoda manusia. (Mungkin terpengaruh oleh kristen tentang konsep eva yang digoda oleh setan untuk menjerumuskan adam). Sejak awal penciptannya wanita memang sudah tidak sempurna. Dalam bukunya, Adler mengutip penulis jerman abad ke 17, : it is fact that women has only a weaker faith (In God). Adalah fakta bahwa wanita itu lemah dalam kepercayaan kepada Tuhan. Dan itu, sesuai dengan konsep etimologis mereka tentang wanita, yang dalam bahasa mereka disebut ‘female’ berasal dari bahasa yunani ‘femina’. Femina berasal dari kata ‘fe’ dan ‘minus’. Fe artinya fides, ‘faith’ (kepercayaan atau iman) sedangkan minus artinya kurang. Jadi femina artinya orang yang imannya kurang. Karena itu kata penulis jerman abad ke 17 itu, wanita itu memang secara alami merupakan makhluk jahat.

Baca :   Janganlah Merusak Ciptaan ALLAH

Pandangan seperti ini memiliki konsekuensi yang sangat serius.

Pada saat itu wanita banyak menjadi korban pembantaian, karena di anggap sebagai jelmaan setan. Banyak yang dibantai karena mereka di anggap tukang sihir. Adler mengungkap data, pada periode 1572-1629, 152 orang dituduh tukang sihir dibantai, dengan cara digantung atau dibakar, dari jumlah itu hanya 8 orang yang laki-laki. Di dua desa hanya ada 2 wanita saja yang tersiksa.

Pembantaian wanita di eropa ini terjadi abad ke 17, 10 abad setelah islam menyelesaikan konsepnya tentang wanita dan mengangkat wanita menjadi makhluk terhormat. Sekarang, setelah barat terjatuh dalam satu kutub ekstrem, mereka sekarang terjatuh kedalam kutub ekstrem yang lain.

Jika dulu mereka menindas wanita sebuas-buasnya, maka sekarang mereka melepaskan wanita sebebas-bebasnya, sampai nyaris tanpa batas yang dinamakan dengan emansipasi wanita. Mereka memandang bahwa wanita adalah keindahan dan harus dinikmati oleh masyarakat. Kecantikan harus di umbar, karena budaya mereka budaya syahwat. Untuk melampiaskan nafsu-nafsu mereka dibuatlah kontes kecantikan, yang menilai segala aspek yang disebut cantik. Meskipun dipoles dengan sedikit ‘intelektualitas’, namun pada hakikatnya dalam kontes kecantikan wanita dihargai karena fisiknya. Fisik adalah sesuatu yang given. Manusia diberi penghargaan karena hal alamiah yang ada dalam dirinya bukan karena ‘usahanya’. Ini jelas bertentangan dengan Islam.

Dalam konsep cantik ini sangat banyak para wanita yang terpengaruh, hingga mempoles wajah sedemikian rupa, baju-baju yang menampakan aurat dengan sangat jelas, pergaulan syahwat, mengumbar-umbar aurat, dsb. Bahkan konsep islam pun akan dirasa tabu oleh kebanyakan wanita yang berpedoman ke barat (meskipun ia tidak sadar).

Wanita hari ini berada pada dua nilai. Berpedoman kepada barat (sadar atau tidak sadarl) atau berpedoman dengan Islam yang menjunjung tinggi martabat wanita.

Nah bisa dipastikan bahwa budaya barat hari ini adalah produk peradaban terbelakang (moral). Kemunduran dan kamajuan suatu peradaban menurut Ibnu Khaldun terkait dengan sumber daya manusia yang secara tidak lansung terkait erat dengan faktor moral. Penekanan pada aspek manusia ini disandarkan pada Surat Ar Ra’du ayat 13 “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Dan pada ayat ke 41 “kerusakan yang merajalela adalah karena ulah tangan manusia sendiri”. Dua ayat ini menekankan pentingnya peran manusia dalam kemajuan dan kemunduran peradabannya. Dalam hadits lain juga dikatakan bahwa rusaknya negara dilihat dari rusaknya kaum wanita pada negara tersebut. Pertanyaannya standar rusak dalam kategori ini telah diselewengkan sesuai standar barat, sehingga tidak ada lagi nilai moral yang pasti.

Rujukan:
Adian Husaini. 2009. Membendung Arus Liberalisme di Indonesia. Jakarta: Al Kautsar
Umer Chapra. 2010. Peradaban Muslim. Jakarta: Amzah


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: