Beranda / Surau / Pemikiran Islam / Mengungkap Otak Busuk Jaringan Islam Liberal (JIL)

Mengungkap Otak Busuk Jaringan Islam Liberal (JIL)

mengungkap-otak-busuk-jaringan-islam-liberalserambiMINANG.com – Dalam tulisan ini saya ingin melihat berpikir liberal yang benar benar liberal. Liberal dari segala arah, liberal dalam memutuskan tanpa tekanan, dan kesejatian liberal itu sendiri. Bagaimanakah cara berfikir Jaringan Islam liberal sebenarnya?

Dalam konteks berpikir liberal (berpikir Jaringan Islam Liberal) ada kata yang perlu digaris bawahi, yaitu Islam Liberal. Otomatis kalau ingin memikirkan Islam itu sendiri harus mengenal dulu Islam itu secara utuh, atau setidaknya apa yang menjadi pokok-pokok Islam itu sendiri. Karena disini Islam yang di jadikan objek pemikiran maka sewajarnya dikenal dulu Islam secara Objektif, baru dipikirkan secara bebas berdasarkan ke objektifitasnya.

Nah apakah lantas dengan seperti ini makna berpikir ‘Liberal’ itu hilang. Justru dengan seperti ini saya masih menganggap orang yang mengusung berpikir Liberal dalam Islam ( Jaringan Islam Liberal – JIL) masih ‘ada’ jiwa “Intelektual’’nya. Karena kalau dibebaskan dari dasar hingga cabang-cabangnya maka orang bodoh, orang gila, orang tidak kenal islam pun bisa dimasukan dalam pemikir ‘Liberal’, tentu mereka (sebut Jaringan Islam Liberal – JIL) tidak mau karena mereka menamkan diri intelektual bahkan ‘cendekiawan’.

Liberal secara gamblang dapat diartikan sebagai kebebasan, bebas, tidak ada keterikatan. Sedangkan dalam berpikir liberal yang di usung oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) objek yang diliberalkan adalah Islam itu sendiri. Dalam hal ini tentu timbul sebuah kerancuan dalam makna, dalam kaidah, ataupun dari sudut pandang defenisi “Islam Liberal” itu sendiri. Namun yang dibahas kali ini adalah “Berpikir Liberal”. Mengenai berpikir liberal (dalam konteks Jaringan Islam Liberal – JIL)  saya mengambil beberapa point untuk melihat apakah JIL benar-benar memiliki pemikiran yang liberal (bebas, merdeka) sejati atau tidak ;

1. Bebas memikirkan Islam

a. Bebas memikirkan Islam dari perspektif timur ataupun barat

Dalam konteks ini setelah dipandang Islam dalam kemurniannya maka dipandang juga dari perspektif besar pandangan Islam yaitu timur dan barat. Dan memikirkan islam tidak bisa serta merta memulainya tanpa mengenalinya secara objektif terlebih dahulu, agar peninjauan secara “intelektual” tetap ada.

Berpikir tentang Islam jika dimulai dari opini barat saja tentang islam dan senantiasa melihat Islam sebagai hal yang harus disesuaikan dengan barat, tanpa dimulai dengan pengenalan secara objektif tentang islam, maka inikah yang disebut Liberal ? kalau seperti ini arti kata liberal itu sendiri sebagai kebebasan akan hilang, atau tetap disebut ‘Liberal’ dengan syarat ke “Intelektual”an dari pemikir itu dicabut, karena dengan seperti itu semua orang bisa masuk dalam ranah berpikir Liberal seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dan pilihan lain kalau tetap dipaksakan dimulai dari Objektifitas Islam itu sendiri, maka manakah yang lebih tepat “Islam Liberal” atau “Agama Liberal” ?

b. Bebas memikirkan Islam berdasarkan perspektif Iman, keilmuan dan logika

Dalam hal perspektif iman, keilmuan dan logika juga sewajarnya dimulai dari objektifitas Islam itu sendiri. Kalau Islam dipandang hanya dari segi ketidak sukaan (nafsu, amarah), atau hanya dipandang dari opini dari yang memiliki kepentingan maka lagi-lagi hilanglah makna “Liberal” itu sendiri. Lalu kenapa masih dikatakan Islam Liberal ?

Keilmuan sangat mendukung dalam terciptanya ke-validan dalam berlogika, jika tidak berdasarkan keilmuan yang jelas maka kelas pemikiran “Liberal” akan setara dengan orang-orang tak berilmu, awam, bodoh, dsb.  Sebagai contoh nyata:

Baca :   Ternyata Ada Polwan Hafal Al Qur'an 20 Juz dan Bercita-Cita Kuliah di Mesir

“Ketika ada golongan (baca: Jaringan Islam Liberal – JIL)  yang dalam pembelaanya terhadap Ahmadyiah habis-habisan dengan dalih bahwa Mirza Ghulam ahmad tidak pernah mengaku sebagai Nabi”.

Jika dikaji dalam keilmuan Ahmadyah sendiri pernyataan seperti ini bertentangan dengan salah satu buku terpenting milik Ahmadyah yaitu “Tadzkirah” atau dalam bahasa Inggris “Tadhkirah”. Dalam catatan kakinya “In this revelation God has named me ‘rsul’[Messengers], for as has been set out in Barahin-e-Ahmadiyyah, God Almighty has made me a manifestation of all prophets, and has given me their name. I am Adam, I am Shit, I am Nuh, I am Ibrahim,….”(Ghulam Ahmad, Tadhkirah, Tilford: Islam International Publications, 2009, hlm 850).

Ini merupakan penghilangan ke “intelektual” itu sendiri, sehingga terkesan asal-asalan.

c. Bebas memandang islam dari sudut pandang orang yang berilmu pengetahuan (Ulama), Pembelajar Islam (Pembela, Pembenci)

Kalau Liberalis sejati akan memikirkan islam dengan sudut pandang yang luas (karena bebas) kalau seandainya sudut pandang yang dipakai hanya satu sudut pandang dan membatasi diri dengan satu sudut pandang maka ke”Liberalan” nya masih belum di anggap sempurna. Dan bagi Liberalis sejati seyogyanya mengambil sudut pandang yang betul-betul luas seperti yang dijelaskan sebelumnya.

d. Bebas memandang Islam dari segi empirik/peradaban/sejarah

Tidak bisa dipungkiri sejarah adalah cikal-bakal kehidupan disetiap zaman. Pola pemikiran/sudut pandang dalam keilmuanpun akan tersambung pada sejarah.

Jika keempat point ini benar-benar dijadikan sudut pandang yang menyeluruh dan luas dalam pemikiran orang-orang ‘Liberal’ maka barulah mereka disebut orang-orang dengan pemikiran ‘Liberal’ sejati. Dan berdasarkan keluasan pemikiran yang dilakukannya orang-orang ‘Liberal’ sejati yang jujur pada dirinya akan kembali pada kemurnian ajaran Islam, dan menjadi Pembela ISLAM.

2. Dalam memikirkan Islam jika hanya dipandang dari sudut pandang barat, dan menyalahkan sudut pandang timur (Ex; Orientalis menyalahkan Ulama) Maka apakah ini berarti kebebasan dalam berpikir? Atau hanya bebas dalam arti kata realtif.

Kebebasan (kemerdekaan) dalam berpikir tentu bisa memandang dalam sudut pandang yang lebih luas. Jika ada hal yang relatif maka penggandengnya ada Absolut. Jika mengatakan segala sesuatu hal adalah relatif maka ada ketidak seimbangan dalam pemikiran terjadi. Kesadaran akan adanya hal yang Absolut dan Relatif merupakan sebuah keluasan dalam berpikir, tidak hanya berada pada satu titik. Kalau hanya terkukung dalam kata relatif maka relatif itu sendiri merupakan penjara buat pemikiran. Dan Islam dalam kemurniannya merupakan ajaran yang memiliki ke Absolutan seperti Allah adalah Tuhan yang tidak ada Tuhan selainNya, dan Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Terakhir. Dan juga ada ke Relatifannya seperti dalam kehidupan dalam masyarakat yang terus berkembang yang tidak disebutkan secara eksplisit Al-Qur’an dan Hadits.Namun tetap merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Karena Islam adalah agama yang sempurna, cocok dengan setiap zaman.

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku pun telah ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maa’idah: 3)

“aku tinggalkan (wariskan) kepadamu dua perkara, kitabullah dan sunnah nabi, kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya” (HR Malik)

Allahu A’lam


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

Kalau Dulu Nenek Moyang Kita Meng-Islamkan Nusantara Sekarang Islam Yang Akan di Nusantarakan

serambiMINANG.com – “Lu kalau punya mobil nanti, jangan kaya gitu ya”. Demikian kira-kira celutukan rombongan …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: