Beranda / Wawasan Islam / Menjadi Perusak Optimisme, Kamu kah Itu?

Menjadi Perusak Optimisme, Kamu kah Itu?

menjadi-perusak-optimisserambiMINANG.com – Dalam buku Pilar-Pilar Asasi, Syaikh Rahmat Abdullah menulis tentang fabel tikus dan kucing.

Ceritanya demikian.

Sekumpulan tikus berkongres. Tema sentral: bahaya kucing yang mengancam kelestarian bangsa tikus. Banyak usulan cemerlang, tetapi semuanya termentahkan. Dari usulan mengkarantina anak-anak tikus, sampai perondaan yang kontinyu. Akhirnya, seekor tikus junior mengajukan usulan “jenius” yang mencengangkan.

“Leher setiap kucing diberi lonceng yang nyaring bunyinya agar anak-anak kita bisa segera masuk ke dalam lubang perlindungan.”

Usulan ini disambut dengan antusias sebagai usulan yang jenius.

Ketika semua puas, seekor tikus senior berujar, “Ar ra’yu shahih. Wa lakin man yualliqul jaras?”

“Usulannya benar, tetapi siapa gerangan yang akan menggantungkan lonceng itu?”

Semua tikus tertegun kembali dengan putus asa.

****

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari fabel di atas?

Dalam sebuah komunitas, akan selalu ada orang yang cenderung merusak optimisme kolektif. Kearifan dan pada saat yang bersamaan keputusasaan. Juga kecerdasan berbayang-bayang egosentris. Dalam implementasi, terkadang kelompok pesimistik mematahkan optimisme kolektif yang sudah terbangun rapih.

Mau buat acara bakti sosial dibilang nanti bisa riya. Mau ngisi pengajian dibilangnya “Emang kamu ini siapa mau ngajari mereka? Ustadz bukan, kiai bukan?”. Mau bikin pelatihan buat remaja biar kerjaannya gak cuma mabok-mabokan, dibilangnya “Trus kalo nanti mereka udah jago dan bisa cari duit sendiri, emang kamu bisa jamin mereka gak mabok lagi?”

Baca :   The Independence of Religious and External Auditors: The Case of Islamic Banks

Sepanjang zaman, akan selalu ada orang yang “settingannya” begitu. Mereka bisa berwujud seorang tokoh senior, pemuka agama, politisi, aparat keamanan, atau bahkan jihadis media sosial yang berseliweran di linimasa kita. Komentar mereka sekilas terdengar bijak tapi sebenarnya menyimpan fatalisme yang kuat. Fatalisme yang membuat kita takut untuk beramal dan akhirnya diam tanpa berbuat apapun. Akhirnya, kita berhenti pada tataran wacana dan tak pernah beranjak ke medan kerja nyata.

Lalu bagaimana cara kita menyikapinya?

Allah memberikan petunjuk di surat At Taubah ayat 105 yang artinya:

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Bekerjalah. Itu saja solusinya. Dalam ayat lain, Allah juga berfirman dalam Ali Imran 159 demi melengkapi ayat di atas:

“Jika kamu telah berazzam (bertekad) maka bertawakallah (berserahlah) kepada Allah.”

Bertekad, bekerja, bertawakkal. Itu golden rulenya.

Selamat beramal. Masih ada dua pekan lebih ramadhan.

Wallahu muwafiq illa aqwamit thariq


Tentang Wahid Nugroho

Buruh Negara, Kuli Berkas Golongan Rendah

Tinggalkan Balasan