Beranda / Berita / Ketua MUI “Apakah Indonesia Negara Hukum Atau Belantara ?”

Ketua MUI “Apakah Indonesia Negara Hukum Atau Belantara ?”

KH-Cholil-Ridwan
KH-Cholil-Ridwan

serambiMINANG.com –KH. CHOLIL Ridwan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Parade Tauhid di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Ahad (16/8) mengajak umat Islam agar mempersiapkan diri untuk menghadapi kekuatan orang-orang kafir yang memusuhi Islam. Saat ini, musuh Islam tidak takut dengan umat Islam. Itu karena umat Islam Indonesia tidak siap menghadapi segala bentuk serangan orang-orang kafir, seperti yang terjadi Tolikara, Ambon, Poso dan wilayah lainnya.

“Ketika umat Islam di Tolikara sedang melaksanakan shalat Idul Fitri, saudara kita diserbu oleh gereja GIDI. Tolikara itu bukan di Eropa atau benua lain, tapi di Indonesia, negeri muslim yang besar pemeluknya. Inilah kelemahan kita yang tidak mempersiapkan diri dalam menghadapi musuh-musuh Islam,” kata KH. Cholil.

KH. Cholil mempertanyakan, ketika bendera zionis Israel berkibar di Tolikara, kemana Pemerintah RI? Apakah Tolikara bukan bagian dari NKRI? Kok bisa Gereka membuat aturan sendiri untuk melarang umat Islam melaksanakan shalat Idul Fitri.

“Jelas, ini adalah perbuatan yang melanggar hukum. Jelas-jelas mereka yang menyerbu umat islam di Tolikara dengan cara yang anarkis, tapi Pemerintah RI tidak berbuat banyak.”
“Apakah Indonesia negara hukum atau belantara? Maka wajib hukumnya, agar hukum ditegakkan di Tolikara. Tangkap aktor intelektual dan seret ke pengadilan! Jika aktor intelektualnya tidak ditangkap, dan GIDI tidak dibekukan, maka pemerintah Indonesia telah melanggar Undang-undang,” ujar KH. Cholil.

Baca :   Fahri Hamzah: Dia Kira Dirinya Siapa Itu Rektor (Rektor UNJ), Pakai UU ITE Pecat Mahasiswa

Lebih lanjut, KH. Cholil menjelaskan, saat ini umat Islam di Afrika Tengah sedang menderita. Mereka dihadapkan pada sebuah pilihan, mati atau masuk Kristen. Telah terjadi genocide alias pembunuhan massal terhadap saudara-saudara kita di Afrika Tengah. Ada upaya untuk menghapuskan umat Islam dari benua Afrika.

“Siapa yang tidak memperhatikan nasib umat Islam dimanapun berada, maka orang itu bukan muslim. Begitu juga, Presiden muslim yang tidak memperhatikan penderitaan saudaranya di Tolikara, Gaza, Afrika Tengah dan wilayah lainnya, maka diragukan keislamannya.” (Islampos)


Tentang hayati

Mahasiswa Tahun Akhir Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Padang

Lihat Juga

Menanggapi Tulisan Berjudul Warisan (Afi Nihaya Faradisa). Andri : Ini hanya paranoid belaka!

Tulisan yang berjudul “warisan” yang ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa di akun facebooknya menuai pro …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: