Beranda / Berita / Putra BJ Habibie Kembangkan Pesawat R80

Putra BJ Habibie Kembangkan Pesawat R80

Putra-BJ-Habibie-Kembangkan-Pesawat-R80

SerambiMINANG – Banyak orang yang menunggu kapan pesawat R-80 yang merupakan pengembangan dari pesawat N250 buatan Bacharudin Jusuf Habibie, atau yang lebih familiar disapa BJ Habibie, bisa beroperasi.

PT Regio Aviasi Industri (RAI), perusahaan industri pesawat terbang tempat BJ Habibie duduk sebagai ketua dewan komisarisnya, sedang membuat pesawat R-80 yang sudah dimulai dari 2013 lalu.

Komisaris PT RAI, Ilham Habibie, yang merupakan putra BJ Habibie mengatakan, pembuatan desain awal pesawat R-80 akan selesai pada tahun ini.

Saat selesainya fase awal akhir tahun nanti, PT RAI akan menentukan komponen-komponen yang akan dipakai oleh pesawat R-80. Pria yang lahir di Aachen, Jerman, itu mengatakan, komponen-komponen pesawat berkapasitas 80 penumpang tersebut hingga kini belum ditentukan.

Ilham menuturkan, pemilihan pesawat baling-baling untuk transportasi udara di Indonesia memiliki keuntungan tersendiri. Menurut dia, meskipun pesawat lebih lambat daripada pesawat bermesin jet, pesawat baling-baling lebih hemat dalam penggunaan bahan bakar.

Hal tersebut disesuaikan juga dengan kontur wilayah serta rute-rute diIndonesia yang cenderung pendek-pendek. Jadi, menurut dia, akan lebih efektif menggunakan pesawat berbaling-baling ketimbang pesawat bermesin jet.

Untuk lebih lengkapnya, berikut wawancara lengkap VIVA.co.id dengan Ilham Habibie di kantornya, kawasan Mega Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ide pengembangan R80 awalnya?

Idenya mulai dengan bagaimana kita melanjutkan yang pernah dimulai dan dituntaskan pada 1990-an dengan N250, ini adalah pesawat terbang yang dikembangkan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), dan dihentikan secara paksa karena keputusan politis oleh International Monetary Fund (IMF) pada 1998. Jadi pemikiran bapak (BJ Habibie) terutama waktu itu, bagaimana caranya kita meneruskan yang pernah dimulai sampai tuntas. Karena negara dan bangsa ini selamanya akan memerlukan pesawat terbang.

Baca :   Petugas Pajak Dibunuh Ketika Sedang Melakukan Tugasnya

Rakyatnya banyak, struktur negara kita kepulauan dan hutan dan gunung, infrastruktur kita masih tak lengkap seperti kereta api dan jalan darat. Bandar laut masih terbatas, bagaimana pun kita perlu pesawat.

Jadi N250 saat itu dikembangkan untuk disesuaikan dengan kebutuhan domestik, tapi tentunya ada pasar untuk di luar. Tapi untuk R80 sebetulnya boleh dikatakan dalam konteks yang serupa, kita memperhatikan kebutuhan dalam negeri, tapi sekaligus juga tidak abaikan kebutuhan luar negeri.

Tentunya kita ingin suatu saat ekspor pesawat kalau sudah dimulai R80.
Tapi secara generik, memang pemikirannya mirip dengan N250, tapi R80 seolah penerjemahkan dengan N250 di abad ke-21.

Bisa dikatakan R80 itu penyempurnaan N250?

Secara prinsip. Kalau lihat pesawatnya kita mulai desain dari nol. Jadi bukan kita ambil yang ada dan menyempurnaan dari yang ada, kita benar-benar mulai dari nol. Karena memang teknologinya yang sudah tak bisa dimanfaatkan lagi, pesawat terbangnya berbeda sekali dari segi besarnya, terutama awalnya dimulai dari 50 (seat) kemudian dikembangkan menjadi 64 (seat), ini mulai dari 80 (seat) jadi 100 (seat). Jadi pesawat ini beda. (Viva)

 


Tentang Robby Adhitya

Lihat Juga

Sering Terkena Delay Naik Lion Air? Ini Alasannya Menurut Sang CEO

serambiMINANG.com – Keterlambatan jam penerbangan (delay) menjadi satu hal yang identik dengan maskapai Lion Air. …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: