Beranda / Belajar Islam / Menjaga Hafalan Al-Quran

Menjaga Hafalan Al-Quran

membaca-alquranserambiMinang.com – Banyak hadits yang menerangkan tentang menjaga hafalan Al-Quran, mari kita simak bersama.

Abdullah bin Yusuf telah memberitahukan kepada kami, Malik telah mengabarkan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Sesungguhnya perumpamaan para penghafal Al-Quran adalah seperti seorang yang memiliki unta yang terikat; jika ia selalu menjaganya, maka unta itu pun akan selalu berada padanya, dan jika ia melepaskannya, niscaya unta itu akan pergi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Muhammad bin Ar’arah telah memberitahukan kepada kami, Syu’bah telah memberitahukan kepada kami, dari Manshur, dari Abu Wa`il, dari Abdullah, ia berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Janganlah seseorang mengatakan, Aku lupa ayat ini dan ini. Akan tetapi katakanlah Aku telah dilupakan. Selalu ulangi-ulangilah bacaan Al-Quran, sebab ia lebih cepat hilang dari dada seseorang dari pada hilangnya unta.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Utsman telah memberitahukan kepada kami, Jarir telah memberitahukan kepada kami, dari Manshur seperti hadits di atas. Bisyr juga meriwayatkan semisalnya dari Ibnul Mubarak, dari Syu’bah. Dan Ibnu Juraij juga meriwayatkannya dari Abdah, dari Syaqiq, ia berkata, ”Aku mendengar Abdullah (berkata), Aku mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Muhammad bin Al-Ala` telah memberitahukan kepada kami, Abu Usamah telah memberitahukan kepada kami, dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, Jagalah hafalan Al-Quran, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh ia cepat hilang daripada unta yang terikat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Baca :   Keberpihakkan Negara Pada Peran Ibu

Syarah Hadits

Hadits-hadits di atas menunjukkan beberapa pelajaran berharga, antara lain:

1. Penghafal Al-Quran harus menjaga hafalannya. Hafal Al-Quran merupakan karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, sehingga tidak seyogianya orang itu menyia-nyiakan karunia tersebut. Hafal Al-Quran adalah kenikmatan yang tiada duanya, apakah setelah kamu memperolehnya, lalu menelantarkannya?

2. Hadits ini menjadi dalil bahwa penghafal Al-Quran yang melupakan hafalannya itu patut dicela. Untuk itu, tidak baik mengucapkan نَسِيْتُ كَذَا (Aku lupa ini), tetapi sebaiknya mengatakan نُسِّيْتُ كَذَا atau أُنْسِيْتُ كَذَا (Aku dilupakan juz atau ayat ini), karena kata yang pertama mengandung konotasi adanya unsur kesengajaan dan cenderung mengabaikan hafalannya.

Jika seseorang ditanya, “Apakah kamu masih hafal Al-Quran?” Lalu ia menjawab, “Demi Allah, aku telah lupa.” Kita semua menangkap bahwa jawaban ini mengindikasikan kurang adanya perhatian terhadap Kitabullah.

Tetapi jika ia menjawab, “Aku dilupakan” maka konotasinya lupa itu bukan dari kehendaknya, bahkan tidak suka jika lupa dan ia masih memiliki perhatian terhadap Al-Quran.

Ini semua merupakan bentuk adab dan tatakrama dalam pembicaraan, karena Allah Ta’ala berfirman,

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى ** إِلَّا مَا شَاءَ اللهُ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى

Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa, kecuali jika Allah menghendaki. Sungguh, Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” (QS. Al-A’la: 7-8).

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bisa lupa jika Allah menghendakinya lupa.

(Syarah Shahih Al-Bukhari)


Tentang Bani Sulaiman

Lihat Juga

Menanggapi Tulisan Berjudul Warisan (Afi Nihaya Faradisa). Andri : Ini hanya paranoid belaka!

Tulisan yang berjudul “warisan” yang ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa di akun facebooknya menuai pro …

Tinggalkan Balasan