Beranda / Belajar Islam / Pengumpulan Al-Quran (6)

Pengumpulan Al-Quran (6)

mushaf-quran-2serambiMinang.com – Proyek kodifikasi Al-Quran kali ini berbeda dengan proyek kodifikasi edisi pertama; kodifikasi edisi pertama adalah proses pendokumentasian Al-Quran dengan al-ahruf as-sab’ah (tujuh bahasa ibu) yang berkembang pada saat itu.

Artinya, para sahabat tidak terbebani membaca Al-Quran dengan satu dialek bahasa, yakni dialek Quraisy.

Mereka diberi keleluasaan membaca Al-Quran dengan tujuh bahasa ibu yang berkembang pada waktu itu dan yang familiar bagi mereka. Ketika tampuk kekuasaan Islam digenggam oleh bangsa Quraisy maka bahasa arab dialek suku Quraisy menjadi yang paling dominan, sebagaimana dimaklumi oleh banyak kalangan.

Bahkan, jauh sebelum itu bahasa hadits dan sunnah nabawiyah juga menggunakan dialek Quraisy. Sehingga, dialek Quraisy hampir menjadi bahasa resmi, sementara bahasa-bahasa Arab lainnya mulai menghilang.

Manusia saat itu lebih mudah berkomunikasi dengan menggunakan dialek Quraisy. Tetapi masih ada juga sisa-sisa bahasa selain dialek Quraisy yang pada masa berikutnya menjadi fokus perselisihan di antara kaum muslimin. Pada puncaknya adalah saat mereka berjihad di luar negara Arab.

Baca :   Allah Memiliki Seratus Rahmat (3)

Hal ini menjadi maklum karena semakin jauh meninggalkan masa kenabian maka perbedaan dan perselisihan akan semakin runcing dan tajam.

Pada saat seperti inilah para sahabat memandang bahwa perlu dilakukan kodifikasi jilid dua dan membakukan Al-Quran menggunakan satu bahasa, yaitu dialek Quraisy untuk meredam perselisihan mengenai Al-Quran yang mungkin akan memuncak sebagaimana perselisihan yang terjadi di kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani tentang kitab suci mereka.

Utsman Radhiyallahu Anhu sebagai khalifah waktu itu sangat mendukung dan segera merealisasikan proyek pembakuan bahasa Al-Quran hanya dengan satu dialek bahasa Arab, yaitu dialek Quraisy.

Setelah proyek itu rampung, Utsman menitahkan untuk membakar semua mushaf yang ada selain dialek Quraisy meskipun di dalamnya terdapat Al-Quran.

Perhatikan dengan seksama, bahwa makna-makna yang terkandung dalam dialek bahasa-bahasa lain juga terekam dengan jelas dalam dialek Quraisy.

Artinya, pembakuan Al-Quran dengan satu dialek bahasa Arab tidak berarti terjadi penambahan atau pun pengurangan di dalam Al-Quran.

(Syarah Shahih Al-Bukhari)


Tentang Bani Sulaiman

Lihat Juga

Jangan Sampai Al-Quran Yang Tidak Lengkap Beredar, MUI Temukan Al-Quran Tidak Lengkap Di Toko Buku

serambiMINANG.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Madiun, Jawa Timur bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama …

Tinggalkan Balasan