Beranda / Surau / Pemikiran Islam / Umat Islam, Aset Terbesar Indonesia Yang Terpinggirkan

Umat Islam, Aset Terbesar Indonesia Yang Terpinggirkan

umat-islamserambiMINANG.com – Agama Islam merupakan penyumbang investasi terbesar di negeri ini. Bermula ketika Islam masuk pada abad ke 7 M (menurut teori Makkah yang dikemukakan oleh Buya Hamka) mulai memainkan perannya. Jalur perdagangan, pernikahan, pendidikan, dan dakwah menjadi proses Islamisasi di Nusantara. Semua prosesnya dilakukan penuh perdamaian, belum ada satupun yang menemukan bahwa Islam masuk lewat kekerasan ataupun penjajahan.

Sebelum masuknya agama Islam, di Nusantara telah berkembang dua agama yakni Hindu dan Budha. Namun, masuknya Islam menjadi antitesis dari dua agama tersebut. Salah satu penyebab Islam mudah diterima oleh masyarakat ialah dikarenakan dalam Islam tak mengenal sistem kasta seperti agama sebelumnya. Sehingga, hal ini menjadi daya tarik sendiri. Ditambah lagi, dengan adanya para pedagang dari Arab, Gujarat, Persia yang melakukan interaksi dengan penduduk pribumi, menetap dan akhirnya melakukan pernikahan. Dan terjadilah proses Islamisasi.

Memasuki abad ke 16-17 M, ketika bangsa Eropa melakukan pelayaran samudera, yang mana mereka harus mencari jalur baru perdagangan sekaligus mencari daerah penghasil rempah-rempah. Pencarian jalur baru ini disebabkan diblokadenya kota Konstantinopel oleh Turki Ustmani.

Nusantara menjadi ladang yang subur untuk disinggahi. Dikarenakan potensi sumber daya alam (rempah-rempah) yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang Eropa. Maka disanalah awal penjajahan bangsa Eropa terhadap Nusantara.

Penjajahan oleh bangsa Eropa memiliki tiga tujuan yakni Gold (kekayaan), Glory (kejayaan), Gospel (penyebaran agama kristen). Dari tiga tujuan ini, bisa diambil kesimpulan bahwa Kristen masuk ke Nusantara dikarenakan faktor penjajahan. Karena adanya penjajahanlah Kristen masuk dan berkembang. Berbeda dengan Islam.

Ketika bangsa Eropa masuk, di Nusantara telah berkembang pesat kesultanan-kesultanan, seperti : Kesultanan Samudera Pasai, Aceh, Demak, Ternate-Tidore dan lainnya. Mereka menjadi tameng utama dalam melawan dan mengusir penjajah. Sebab, monopoli perdagangan yang bangsa Eropa lakukan sangat menyengsarakan rakyat. Dan islamlah yang mengambil peran untuk mengusir penjajahan (imperialisme dan kolonialisme). Nama-nama seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, Fatahillah, hingga Teuku Umar dan Cut Nyak Dien merupakan tokoh-tokoh perlawanan Islam terhadap penjajahan. Walau geraknya hanya sebatas wilayah, namun sangat menyulitkan bangsa penjajah. Bahkan Aceh merupakan daerah yang terakhir ditaklukkan oleh kolonial Belanda.

Baca :   Dahsyat Nya Puasa Senin Kamis Dan Puasa Nabi Daud

Memasuki zaman pergerakan (awal abad ke 20) mulai muncul organisasi-organisasi pergerakan. Dan sekali lagi Islam kembali menjadi corong utamanya. Jikalau Budi Utomo yang diklaim sebagai tonggak kebangkitan nasional, sebenarnya ada organisasi yang jika dilihat dari cakupan keluasan pengaruhnya, yakni Sarikat Islam yang awalnya bernama Sarikat Dagang Islam. Sebab, Budi Utomo hanya teruntuk pada kalangan Priyayi di pulau Jawa. Selain itu, para tokoh-tokoh (founding father) negeri ini juga banyak yang berasal dari kalangan Islam. Sebut saja HOS Cokroaminoto, Agus Salim, Soekarno, M Hatta, Muhammad Natsir, Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, Syafruddin Prawiranegara dan sebagainya. Mereka merupakan bagian dari beberapa tokoh sentral dalam merintis negara ini.

Saat ini, memasuki HUT ke 70 Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita mesti paham bahwa negara ini dibangun oleh pikiran, hati, harta, darah bahkan jiwa kaum muslimin. Bahkan ketika pertempuran 10 November di Surabaya, seorang pejuang (Bung Tomo) mengumandangkan kata-kata penggelora semangat, Merdeka atau Mati. Allahu Akbar, Allahu Akbar. Semoga tak ada lagi Islamphobia di negeri ini. Sebab, Islam adalah aset terbesar negeri ini. Kita mesti tahu akan hal itu.
By : Elfit Gusrizal


Tentang Elfit Gusrizal

Alumni Univeristas Negeri Padang

Lihat Juga

Menanggapi Tulisan Berjudul Warisan (Afi Nihaya Faradisa). Andri : Ini hanya paranoid belaka!

Tulisan yang berjudul “warisan” yang ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa di akun facebooknya menuai pro …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: