Beranda / Berita / Jokowi Hebat, Gantikan Gandum Impor dengan Singkong

Jokowi Hebat, Gantikan Gandum Impor dengan Singkong

Jokowi-Hebat-Gantikan-Gandum-Impor-dengan-SingkongserambiMINANG.com – Presiden Joko Widodo meminta pengusaha tepung untuk dapat mengoptimalkan bahan baku lokal seperti singkong dan sorgum. Selama ini industri terigu terlalu bergantung dengan bahan baku impor khususnya gandum.

Hal ini disampaikan Jokowi dan Menteri Perindustrian Saleh Husin saat bertemu dengan Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO), di Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/10/2015).

“Tentunya karena gandum 100% impor, Presiden ingin bisa berpartisipasi produk lokal. Dengan cassava (singkong) bisa 10-20%. Dengan sorgum bisa juga,” ungkap Ketua Umum Aptindo, Franciscus Welirang.

Akan tetapi, tentunya perlu ada kepastian dari pasokan singkong dalam negeri. Menurut Franciscus, seiring dengan kemungkinan tumbuhnya industri, kebutuhan gandum juga semakin besar.

“Kita membicarakan masalah, kalau saya tahu-tahu butuh cassava 5.000 ton per tahun. Jadi itu tentu jadi masukan kepada Presiden. Kita coba cari jalan secara bagaimana komposit. Karena terigu kan tumbuh terus,” jelasnya.

Di samping itu ada beberapa kendala yang dialami pengusaha tepung terigu. Misalnya soal Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dibebaskan untuk penjualan terigu impor bahan baku pakan ternak. Sehingga harus ditanggung oleh pengusaha tepung terigu.

Baca :   Ketua FPI mewanti-wanti Jokowi agar tak beri kesempatan PKI bangkit kembali

“Karena waktu kami menjual terigu ke pakan ternak, kami kan ke industri pakan ternak itu kan 0%. Walaupun itu 0%, keluaran kami, kami tidak bisa kreditkan. Jadi PPN yang kami berikan ke pakan ternak itu secara praktis kami bayarkan semuanya,” kata Franciscus.

Hal tersebut sudah berlangsung selama 7 tahun. Menurutnya ini tidak adil, meskipun pakan ternak dianggap sebagai kelompok industri strategis.

“Kami didiskriminasikan kenapa? Kami membayar. Kalau mereka impor bebas PPN. Nggak fair. Dan itu sudah 7 tahun kami menanggung terus. Karena pakan ternak masuk dalam kelompok produk strategis. Kami kan nggak strategis. Dan itu ujung-ujungnya kami yangg menanggung,” paparnya.

Terkait dengan paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, Franciscus menilai sudah cukup tepat. Pemerintah menunjukkan upaya yang bersahabat dengan kalangan dunia usaha. Hanya tinggal menunggu realisasi.

“Harapannya kan tenang berusaha. Dan salah satu itu kan Presiden bicara deregulasi dan itu tinggal melihat realiasi saja,” pungkasnya (detik)


Tentang Wiky Rahmat Putra

Mahasiswa tahun akhir Fakultas Peternakan Universitas Andalas

Lihat Juga

Serangkaian Skenario Melemahkan Umat Islam Era Presiden Jokowi

Tahun 2017 baru berjalan satu bulan, namun kezhaliman dan serangan kepada islam dan umat islam …

Tinggalkan Balasan