Beranda / Surau / Teladan / Sikap Untuk Orang Bodoh

Sikap Untuk Orang Bodoh

sikap-untuk-orang-bodoh

serambiMinang.com – Islam adalah agama yang sempurna. Setiap sisi kehidupan di atur dalam syariat Islam. Dari kehidupan personal sampai kehidupan bermasyarakat bahkan sampai bernegara. Islam adalah aqidah, islam adalah ibadah, dan islam juga adalah muamalah. Islam juga merupakan ilmu pengetahuan, makanya setiap manusia yang mencoba untuk mencari-cari kesalahan Islam (red; Orientalis) itu tidak berpengaruh terhadap Islam itu sendiri. Islam yang di ajarkan oleh Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam telah diwariskan hingga kita merasalan sampai saat sekarang ini. Landasan ilmu dalam pewarisan ini sangat kuat, dan di ampu oleh orang-orang yang berilmu pengetahuan lagi bertaqwa kepada Allah. Dalam keilmuan Islam ini banyak kita temui bagaimana para ulama menuntut ilmu ke Islaman bahkan ada yang sampai berkeliling dunia hingga dua kali, hingga pantaslah rasanya menjadi ulama besar pada zamannya yang juga ilmu yang diwariskannya bermanfaat sampai sekarang, beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, dan masih banyak ulama lain dengan kisah yang luar biasa dalam perjalanan menuntut ilmu. Namun hari ini tidak jarang di jumpai orang-orang yang baru menuntut ilmu, atau bahkan hanya bermodalkan “internet” dengan gampangnya membantah bakan mendebat para ulama. Atau bahkan hanya bermodalkan “Taqlid” pada seorang panutannya saja ada yang terjatuh pada sikap merendahkan para ulama, semoga Allah melindungi kita dari tidak beradabnya terhadap ahlul ilmi tersebut. Permasalahannya adalah kebodohan dan merasa sudah memiliki segalanya. Imam Syafi’i rahimahullah dalam menghadapi orang jahil (bodoh) seperti yang dinukil “Diwan As-Syafi’i” karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i” memberikan pencerahan dalam syair-syairnya bagimana sikap untuk orang bodoh:

 

يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ

Orang bodoh berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan

فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا

Akupun enggan untuk menjawabnya

يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا

Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran

كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا

Baca :   Irsyad Syafar, Anak Minang Lulusan Terbaik Universitas Kuwait Dengan IPK 3,82

Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian.

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ عَلَى الْغَلَبَةِ

“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan

Imam Syafi’i berkata:

”Aku mampu berhujah dengan 10 orang yang berilmu, tetapi aku pasti kalah dengan seorang yang jahil, karena orang yang jahil itu tidak pernah faham landasan ilmu.”

MENELADANI SIKAP IMAM SYAFI’I MENGHADAPI ORANG JAHIL

Imam Syafi’i adalah adalah seorang ulama besar yang banyak melakukan dialog dan pandai dalam berdebat. Sampai-sampai Harun bin Sa’id berkata :

“Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandainnya dalam berdebat”. (Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 109 oleh Ibnu Abdil Hadi).

* Imam Syafi’i berkata :

ﺍﺫَﺍ ﻧﻄَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻔِﻴْﻪُ ﻭَﺗُﺠِﻴْﺒُﻬُﻔَﺦٌﺮْﻳَ ﻣِﻦْ ﺍِﺟَﺎﺑَﺘِﻪِ ﺍﻟﺴُّﻜُﻮْﺕُ

“Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi”

ﻓﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳﻤُﻮْﺕُ

“Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati”

ﻗﺎﻟُﻮْﺍ ﺳﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ

“Apabila ada orang bertanya kepadaku,“jika ditantang oleh musuh, apakah engkau diam ??”

Jawabku kepadanya : “Sesungguhnya untuk menangkal pintu-pintu kejahatan itu ada kuncinya.”

ﻭﺍﻟﺼﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟﺼﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

“Sikap diam terhadap orang yang bodoh adalah suatu kemulia’an. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan”.

Lalu Imam Syafi’i berkata :

ﻭﺍﻟﻜﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟﻌﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ

“Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ?? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ??”

[“Diwan As-Syafi’i” karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i]

Demikianlah para ulama memberi teladan kepada para penuntut ilmu dalam memberi sikap untuk orang bodoh. Allahu wa’lam.


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Tinggalkan Balasan