Beranda / Surau / Teladan / Dunia Dalam Berita

Dunia Dalam Berita

Dunia-Dalam-BeritaserambiMINANG.com – Dunia dalam berita. “Warga Jakarta Pusat dihebohkan dengan aksi teror yang terjadi di sarinah, 7 orang tewas dan 4 orang pelaku berhasil dislumpuhkan, suasana gaduh, dua polisi tertembak dan ada korban luka-luka” beginilah kira-kira pemberitaan yang sering berselancar di dunia maya kemaren. Di jagad social media juga tak kalah hebohnya. Seperti di facebook, twitter, whatsapp, dll.

Para pengguna social media bahkan lebih aktif dalam menanggapi berita tersebut meski hanya memperburuk suasana emosional para pembaca yang lain. Ada yang memberi analisisnya lalu di posting di akun-akun social media. Ada yang memberikan empati dan berbagai macam respon yang ditunjukan oleh para pengguna akun social media tersebut.

Tidak hanya di dunia maya, pemberitaan aksi teror jakarta juga menjadi topik hangat oleh beberapa stasiun televisi swasta nasional. Salah satu stasiun televisi swasta nasional memberitakannya dengan sedikit dramatis. “……….bayangkan pemirsa betapa gaduh dan menegangkannya situasi saat ini……”, hingga barangkali kegaduhan dan ketegangan para konsumen berita dan juga pengguna social  media lebih tinggi dibanding warga yang menyaksikan lansung kejadian tersebut.

Inilah sedikit potret kehidupan media-media di tanah air, apakah itu social media, media televisi, media cetak dan lain-lain. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang menyebabkan informasi yang diterima semakin cepat. Dan bersilewerannya informasi di tengah-tengah kita sering kali membuat kita bertindak bahkan menjadi “bodoh” .

Bahkan hal ini didukung oleh media-media yang sering kali membumbui informasi-informasi berita ini dengan kepentingan. Apakah itu kepentingan politik, ekonomi, organisasi dll. Salah satu contoh adalah penyampaian berita oleh salah satu televisi swasta di tanah air ini. Sebut saja “TV Petunjuk Arah”.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, reporter TV swasta ini membacakan berita dengan dibumbui kata-kata yang tidak perlu sehingga memicu gejolak emosi (memicu kegaduhan) pendengar berita. “……bayangkan pemirsa betapa gaduh dan menegangkannya situasi saat ini…” seperti inilah kira-kira salah satu potongan kalimat yang tidak mesti disampaikan dalam pemberitaan karena hanya akan merusak pemaknaan berita oleh pendengar, disamping kita berduka atas para korban.

Baca :   [Video] MasyaAllah, Abou Diaby, Bek Arsenal Seorang Hafiz Quran dan Bersuara Merdu

Sebenarnya kejadiannya hanyalah aksi teror dengan baku tembak oleh pihak yang bersangkutan lalu beberapa korban berjatuhan. Bahkan banyak beredar di dunia maya foto-foto yang menunjukan bahwa kegaduhan itu tidak segaduh yang diberitakan ditelevisi, atau sekurang-kurangnya tidak segaduh makna yang ditangkap oleh konsumen media.

Dalam beberapa foto yang di ambil bahkan warga yang seharusnya dilindungi ke tempat yang aman justru  menonton polisi yang bersembunyi dibalik mobil mengantisipasi tindakan pelaku teror. Pada gambar lain bahkan lebih tidak relevan dengan kejadian, seorang pedagang yang masih berjualan di sekitar lokasi kejadian bahkan tidak terusik.

Inilah yang disebut dunia dalam berita. Artinya adalah dunia yang direpresentasikan dalam oleh media-media yang dimuat dalam bentuk berita tidak serta merta bisa lansung diterjemahkan lansung kepada realitas. Dunia dalam berita yang dimaksud disini adalah pemberitaan fakta yang tidak lagi murni, sehingga makna fakta yang diterima oleh konsumen berita tersebut berpeluang besar tidak lagi murni seperti adanya.

Tentu tidak semua pemberitaan seperti itu, tetapi masyarakat kita terbiasa dengan pancingan-pancingan emosi tersebut. Bahkan dengan sosial emosional yang telah terpengaruh media seperti ini sering kali dijumpai jugement ataupun pemberian label tanpa mencermati informasi yang diterima. Tak sabar untuk mengomentari informasi yang diterima. Sebagai contoh pada peristiwa aksi teror di Jakarta Pusat, bahkan sebelum kejadian selesai telah berkeliaran analisis-analisis yang cenderung tidak berhubungan dan barangkali hampir tidak berguna.

Padahal kita hanya perlu bersabar untuk menunggu klarifikasi dari pihak yang profesional seperti Kepolisian, TNI, BNPT, dll.  Tetapi masalahnya banyak yang tidak sabar untuk mencermati fakta yang muncul. Sebagai umat islam kita seharusnya lebih hati-hati dan sabar, karena bisa saja posisi kita yang tidak sabar dan tidak mau mengklarifikasi menjatuhkan kita pada sikap dusta. “Cukuplah seseorang dianggap pendusta ketika ia menceritakan (menyebarkan) setiap apa yang ia dengar” (HR Muslim)

Dengan berhati-hati dan klarifikasi (Tabayyun) semestinya kita tidak jatuh pada dusta dalam mencermati  “Dunia Dalam Berita”. (16/01)


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

Adakah Media Yang Objektif ??

Adakah media yang objektif?? Barangkali hal ini perlu kita pertanyakan, terlebih di era informasi yang …

Tinggalkan Balasan