Beranda / Opini / Aku Kamu dan Media

Aku Kamu dan Media

Aku-kamu-dan-mediaserambiMINANG.com – Paska reformasi, kebebasan rakyat sipil tidak terbendung, arus informasi demikian derasnya bermunculan beraneka rupa media massa. Pemerintah tidak lagi punya sensor dan tidak lagi punya control penuh terhadap pergerakan arus media di tengah-tenga masyarakat. Dengan segala keburukan dan kebaikannya media massa tumbuh dan berkembang cepat ditengah-tengah masyarakat, media serasa jadi kebutuhan pokok bagi masyarakat modern.

Ditambah dengan kebebasan yang sah sebagai kekuatan utama, media massa bahkan mengganas mulai memanfaatkan eksistensinya untuk berbagai macam kepentingan, menggiring opini public, mengendalikan arus social, dan mempengaruhi sosio emotional masyarakat.

Kebebasan pers tertuang jelas dalam undang-undang no 40 th 1999 bahwa seorang wartawan memiliki kebebasan mencari, memperoleh, dan menyebarkan informasi. Bahkan Edmund Burke (dalam Agenda mendesak bangsa, selamatkan Indonesia : Amien Rais) menyebut media massa merupakan pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislative dan eksekutif. Meski kebebasan sudah di anut oleh media, tapi siapa bilang media memiliki kebebasan utuh, bebas dari kepentingan contohnya. Setidaknya ada 3 pendekatan media dalam menyajikan berita yaitu ekonomi politik, organisasi, dan kulturalis.     

Pertama pendekatan ekonomi politik. Sesuai namanya “ekonomi politik” maka isi media itu lebih ditentukan oleh kekuatan ekonomi politik diluar pengelola media itu sendiri. Kedua pendekatan organisasi, dalam hal ini isi media lebih ditentukan oleh eksistensi dari organisasi media tersebut, seperti latar belakang, ideology, dan tujuan organisasi tersebut. Ketiga, pendekatan kulturalis. Dalam pendekatan kulturalis ini justru lebih rumit yaitu gabungan antara pendekatan ekonomi politik dan organisasi (Moh. Fadhilah zein)

Dalam pendekatan yang terakhir ini cenerung sering terjadi perdebatan karena isi media selain dipengaruhi oleh organisasi juga dipengaruhi oleh kekuatan ekonomi politik dari luar yang bisa saja tidak sejalan dengan organisasi. Dan kemungkinan media dengan pendekatan ketiga ini bisa saja berubah haluan beritanya.

   Dengan kebebasan pers yang sangat luas seperti ini, dan disokong oleh kepentingan-kepentingan yang mempengaruhi media tersebut maka kemurnian fakta akan pemberitaan itu bisa bermakna relative. Dan pengertian fakta itu akan di asumsikan berbeda oleh masing-masing media. Berita tidak lagi hanya memberitakan fakta. Tapi fakta diberitakan menurut media massa, bukan media massa yang memberitakan menurut fakta. 

Artinya media massa tidak lagi pada tugas yang seharusnya di embannya, media tidak lagi memberikan berita yang berimbang.

Memang tidak semua media massa dengan pemberitaan yang tidak berimbang seperti yang disebutkan, tapi media-media yang berusaha berada pada jalur yang benar terbenam dengan media-media mainstream raksasa. Media-media kecil sampai medium bermunculan dalam mengimbangi arus media mainstream yang syarat akan kepentingan, bahkan juga tidak sedikit muncul berita-berita yang berlainan dari blog pribadi, facebook, dll.

Apakah salah ada kepentingan dalam pemberitaan media? Tentu segala hal memiliki kepentingan masing-masing, tapi pertanyannya apakah kepentingan itu berdiri dengan jalan yang benar atau tidak? Apakah media memberitakan sesuai fakta atau fakta yang diberitakan sesuai “kepentingan “ media ? Jika fakta diberitakan sesuai kepentingan media maka bisa saja fakta tidak lagi mengacu kepada kebenaran berita itu sendiri, ataupun kalau itu benar maka pemberitaan dengan kepentingan akan menjadi tidak adil terhadap pihak lain. Namun hal berbeda tentu akan terjadi jika kepentingan itu adalah kebenaran.    Pendekatan kebenaran dan keberimbangan pemberitaan media juga tidak terlepas dari ideology dari media itu sendiri, disamping juga jurnalis-jurnalis yang mendukung ideology tersebut. Bukan tanpa alasan mengapa media memilih judul berita berbeda pada konteks kasus yang sama dengan korban yang berbeda. Hal ini bisa kita lihat tragedy pembakaran gereja yang diberitakan oleh salah satu media online yang cukup terkenal dengan judul berita “3 gereja dibakar diawal ramadhan”.

Namun dalam konteks lain yaitu kejadian pembakaran masjid yang diberitakan juga oleh kompas dengan judul berita yang terkesan sedikit berbeda “Rumah ibadah dirusak dan dibakar” .Dalam konteks pemberitaan seperti ini ada ketidakberimbangan berita yang disajikan.

Baca :   Terlalu Cepat Menyimpulkan

Tidak dapat dipungkiri efek kesan psikologis yang ditimbulkan disini seolah menyiratkan satu golongan yang lebih buruk, syarat provokasi, kekerasan atau satu golongan lain juga buruk tapi kata-kata melindunginya atau bahkan keburukan yang dilindungi untuk menjaga kesan baik.

Ini tidak tertuliskan secara tersurat, melainkan efek makna yang didapat ketika pembaca membaca berita tersebut. Sebagai contoh sebutan Pekerja Seks Komersial tentu lebih lembut ketimbang Pelacur, atau Pencuri Uang Negara, koruptor tentu berbeda dengan sebutan tikus kantor. Kata mamang terkadang bisa dianggap sepele, tapi tanpa sadar dengan kata-kata saja “opini Publik “ bisa terbentuk, meski itu perlahan.

Dan ketika opini public mulai terbentuk maka seolah semua yang disampaikan media adalah kebenaran, bahkan dengan tanpa rasionalitas membenarkan sebuah pemberitaan.

Dalam menelaah kebenaran suatu pemberitaan media, pembaca dituntut untuk lebih rasional terhadap penilaian media massa. Pembaca tidak hanya dituntut skeptic tapi lebih dari itu. Yaitu melihat sumber berita secara lansung, keabsahan media dan jurnalis, logis atau tidaknya berita tersebut, dan siapa yang menyampaikan.

Dalam penelaahan ini sering kali pembaca serta merta percaya kepada suatu media hanya karena merasa satu ideology, satu organisasi. Lantas apakah dengan merasa sama begitu saja pemberitaan bisa dibenarkan? Pertanyaan simple saja sejauh mana kita mengenal dan mendalami karakter mereka (red: media)

Ini juga merupakan sedikit pertimbangan untuk pembaca secara umum dan khusus yang aktif di dunia maya yang dengan semangatnya membagikan dan melakukan judge terhadap berita yang disuguhkan media. Hanya bermodalkan sedikit tahu tentang situs media dan merasa (barangkali) satu ideology, atau organisasi. Lantas apakah dengan seperti itu tidak perlu ditelaah sumber dan kebasahan berita? Selain itu kita juga harus mengenal bagaimana track record media tersebut dari kevalidan sebuah berita. Karena setiap perbuatan akan ada pertanggungjawabannya.

Wassalam

 


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

Adakah Media Yang Objektif ??

Adakah media yang objektif?? Barangkali hal ini perlu kita pertanyakan, terlebih di era informasi yang …

Tinggalkan Balasan