Beranda / Surau / Dakwah / Generasi Quote

Generasi Quote

Generasi-QuoteGenerasi Quote, barangkali nama ini cukup tepat disematkan untuk beberapa tren penyesatan opini masyarakat belakangan ini.

Dalam penempatan hukum misalnya kita sering kali temui quote-quote yang sebenarnya “beracun” malah dikemas dengan kalimat yang sangat menawan.

Bahkan sering kali ayat-ayat suci Al-Qur’an, Hadits, Perkataan para ulama dipelintir untuk mendukung quote-quote tersebut.

Tidak hanya itu, bahkan ada juga di antara kita yang mencukupkan keluasan Ilmu itu hanya dengan beberapa quote saja. Padahal ilmu itu tidaklah segamblang dan se abstrak quote yang belum tentu juga bisa di pertanggung jawabkan secara ilmiah.

Tentu tidak dipungkiri perkembangan teknologi informasi memberikan banyak manfaat dan juga mudharatnya. Namun dengan mencukupkan diri dengan hanya seutas artikel atau hanya yang sesuai “selera” saja, lalu menjadikan hujjah mati-matian.

Bahkan disebuah grup whatsapp yang menamakan grupnya “Liberal” saya pernah di paparkan sebuah wacana keraguannya terhadap otensitas Al-Qur’an, dan ketika itu hanya berlandaskan satu artikel. Dan yang lebih parah adalah yang memaparkan sekaligus mempertahankannya sebagai hujjah adalah seorang wanita muslim.

“Kebingungan akan kebenaran (mutlak)” seperti ini tidak seharusnya menggerayangi seorang muslim yang seharusnya dekat dengan budaya Ilmu pengetahuan.

Atau bahkan memang tidak ada lagi adab dalam Ilmu, seperti sindiran Akmal Sjafril dalam tulisannya “Duhai Tuan, apakah engkau mempelajari ilmu dengan meninggalkan adab? Adakah engkau mencatat pesan-pesan gurumu sambil meludahi pintu rumahnya?

Atau bahkan tidak pernah duduk di majelis ilmu manapun, lalu dengan sendirinya menjadi perpanjangan tangan tudingan orientaslis terhadap Islam?

Inilah fitnah yang hari ini tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas Islam sekarang, “Tidak berilmu dengan agamanya”. Bahkan hari ini, dengan gamblang seorang non muslim bisa memprotes ajaran Islam kepada seorang Muslim, bahkan juga didukung oleh muslim yang lain.

Baca :   Sudah Saatnya PKS Berbenah

Seorang muslim sejatinya mesti duduk di majelis-majelis ilmu, bukannya malah sibuk mengumpulkan quote-quote yang hanya sesuai hawa nafsu.

Ilmu seperti yang dikatakan Imam Malik rahimahullah “Ilmu itu didatangi bukan mendatangi”. Bahkan Syeikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan “Menuntut ilmu adalah bagian dari jihad di jalan Allah karena agama ini bisa terjaga dengan dua hal yaitu dengan ilmu dan berperang (berjihad) dengan senjata”.

Seorang Muslim tentu bisa mengambil hikmah dari mana saja, tapi mencukupkan ilmu hanya dengan artikel atau bahkan dengan quote saja tentu sangat jauh dari tradisi ilmu yang telah ada dalam Islam.

Seorang Muslim seharusnya melihat segala sesuatunya dengan kacamata Islam, bukan malah sebaliknya menggunakan kacamata barat untuk mengkritisi Islam yang tidak bisa dibenarkan secara Ilmiah dan berlandaskan subjektifitas belaka.

Inilah perbedaan yang barangkali begitu gamblang. Para orientalis yang belajar ke timur (mempelajari Islam, sosial, budaya) lalu membuat sudut pandang kritisnya terhadap timur dan mengambil yang bermanfaat untuk mereka kembangkan. Berbeda dengan anak negeri yang diberi beasiswa belajar Islam (Islamic Studies) ke barat lalu pulang dengan memakai kacamata barat untuk mengkritisi bahkan mendekonstruksi semua yang ada negerinya, terutama agama.

Wallahu wa’lam

 


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

LGBT: Antara Kebebasan Individu dan Makhluk Sosial

“Saya pikir negara mencampuri urusan pribadi terlalu jauh, ini adalah intervensi yang berlebihan. Diamana Negara …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: