Beranda / Berita / Moral dan modern

Moral dan modern

Moral-and-modernMoral dan modern seolah menjadi momok dalam perkembangan pemikiran tentang kehidupan yang ‘maju’. Maju dalam artian yaitu menuju masyarakat yang modern. Maju atau modern sendiri memiliki interpreatasi yang berbeda-beda dalam sudut pandang masyarakat.

Sebagai salah satu contoh adalah pengalaman saya pada sebuah kasus. Suatu komunitas penggemar club sepakbola yang mengadakan nonton bareng dan include juga didalamnya “sexy dancer”.

Beberapa orang dari komunitas lainpun sontak mempertanyakan yang dimaksud dengan “sexy dancer” tersebut. Lalu dijawab bahwa kegiatan itu sudah lama diadakan, bahkan walikota dan gubernurpun pernah menghadirinya. Tujuan kami hanyalah untuk memajukan provinsi ini. Dan kami juga tau batasan-batasan. Begitulah sedikit inti dari tulisan ini.

Pada dasarnya pembelaan yang dilakukan oleh komunitas yang diceritakan di atas merupakan gambaran pandangan hidup yang dimiliki oleh pemuda tersebut, dan lebih tepatnya pandangan tentang moral.

Pandangan hidup seperti ini bukanlah hal langka di negeri ini. Bahkan kita masih ingat dengan bagaimana dukungan pemerintah terhadap kontes ratu kecantikan (Miss Indonesia/Miss Universe). Lalu apa salahnya??

Dalam sudut pandang terhadap kebenaran tentu kita akan mengacu kepada apa dan siapa kebenaran itu disandarkan. Kegiatan-kegiatan seperti ini yang terjadi dalam masyarakat yang penduduknya mayoritas Islam tentu perlu dipertanyakan. Kemana kebenaran tentang “sexy dancer” dan “Miss Universe” terebut disandarkan. Pada umumnya hal-hal tersebut katanya bertujuan untuk mengahrumkan nama bangsa, atau ada yang mengatakan me’maju’kan daerah atau negara.

Dalam nilai dan norma kehidupan masyarakat Indonesia sekalipun ini tidak memiliki pembenaran, melainkan nilai dan norma yang telah tergerus arus. Dan dalam Islam jelas membuka aurat apalagi mengumbarnya tidak memiliki titik pembenaran.

Memang benar dan tidak diragukan lagi bahwa memajukan atau mengharumkan nama bangsa atau daerah adalah hal yang sangat terpuji. Tapi kadang kala seringkali cara-cara yang digunakan tidak terpuji. Tidak terpuji yang dikatakan ini tentu bukan tanpa ‘standar’.

Standarnya jelas yaitu keyakinan yang mayoritas manusia di bumi Indonesia ini yaitu Islam. Suatu kesalahan yang amat keliru dan telah populer di masyarakat adalah maju dan modern itu dengan mengikuti negara ‘modern’ dengan mentah-mentah bahkan yang di ikuti adalah yang mentahnya.

Baca :   Ternyata Ahok Mengamalkan Ajaran Nabi SAW Saat Memimpin

Modern atau maju seringkali dinisbatkan kepada negara-negara maju seperti di Amerika, Eropa(selanjutnya disebut barat) dll. Tapi malah yang ikuti kebanyakan adalah yang ‘mentah’nya. Seringkali kegagalan dalam memahami modernitas justru membawa arah hidup masyarakat menjadi tidak baik. Salah satu contoh kecilnya adalah tren berpakaian yang mulai meninggalkan budaya ‘Indonesia’ itu sendiri bahkan agama.

Barat, secara pencapaian pesatnya perkembangan kemajuan Sains dan IPTEK adalah sangat layak ditiru, bahkan perlu mempelajarinya dari mereka. Tapi tentang nilai, moral dan terutama pandangan tentang agama maka barat bukanlah tempatnya untuk ditiru, apalagi mentah-mentah.

Namun anehnya ada beberapa kalangan yang dengan sangat kerasnya mengatakan bahwa pakaian yang sesuai syariat Islam (Agama mayoritas Indonesia) adalah pakaian arab dan tidak melestarikan budaya lokal. Bahkan pada saat yang sama tidak ditemui satupun dari kelompok yang sentimen tersebut untuk mengomentari hal yang sama terhadap budaya barat yang masuk ke berbagai lini kehidupan di masyarakat.

Moral dan modern seolah tak memiliki titik temu dalam pengertian yang salah kaprah. Kehidupan modern sering di identikan dengan kebebasan yang sebebas-bebasnya. Dan tidak ada yang berhak menilai baik atau benar melainkan itu disepakati bersama meskipun harus mengubah tata nilai dan norma yang sudah ada.

Pengertian seperti ini tidak ditemui melainkan dalam kehidupan masyarakat barat, ataupun yang terpengaruh olehnya. Dan disinilah tidak ada dasar yang baku antara ‘Moral dan modern’. Bahkan dalam kehidupan masyarakat barat ‘agama’ memiliki ruang yang sempit dalam kehidupan publik.

Bahkan tidak jarang kita dengar trauma yang begitu mendalam bagi masyarakat barat dengan kata “religion’’. Sejarah inilah yang menjadi titik tolak perubahan peradaban masyarakat barat secara umum.

Bagaimana sejarah lahirnya barat modern dan ‘’anti-agama’’nya, sangat berpengaruh pada pemikiran yang cukup meng-hegemoni di tengah-tengah kehidupan masyarakat, juga Indonesia. Pembahasan tentang ini InsyaAllah akan dibahas pada Tulisan selanjutnya.

 

Allahu wa’lam


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

LGBT: Antara Kebebasan Individu dan Makhluk Sosial

“Saya pikir negara mencampuri urusan pribadi terlalu jauh, ini adalah intervensi yang berlebihan. Diamana Negara …

Tinggalkan Balasan