Beranda / Surau / Dakwah / Bagaimana Kita Menyambut Ramadhan? Berbekallah!

Bagaimana Kita Menyambut Ramadhan? Berbekallah!

ramadhanserambiMINANG.com – Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(QS Al Baqarah ayat 183).

Bagaimana kita menyambut Ramadhan? Menyambut Ramadhan yang paling utama adalah dengan zadul iman, bekal iman. Karena itulah yang diseru untuk puasa adalah orang-orang yang beriman (QS Al Baqarah ayat 183). Yang tidak beriman tidak diseru untuk puasa karena tiada guna puasa itu buat mereka.

Berbeda dengan ibadah lain, ibadah puasa itu ibadah pasif. Pasif dalam pengertian tidak aktif. Cuma diminta menahan lapar dahaga. Apakah itu gampang? Kenyataannya itu tak mudah.

Bahkan untuk waktu Indonesia yang sekitar 12 Jam dari sahur hingga saat buka itu terasa lama. Itu benar-benar terasa lama kecuali kita mempunyai iman yang mendalam. Apalagi saudara-saudara kita di Eropa, Amerika, Australia, atau di negeri “4 musim” lainnya bila musim summer, puasanya bisa sampai sekitar 18 jam. Alamak…lamanya! Tanpa iman, sungguh puasa itu sangat berat. Karena itu, iman sangat dibutuhkan sebagai bekal berpuasa.

Dengan iman Allah akan mendatangkan pertolongan. Sahabat saya di Eropa bercerita bahwa pernah musim summer saat puasa Ramadhan sering turun gerimis. Orang-orang Eropa suka bingung. Ini summer kenapa gerimis? Bagi orang beriman hal tersebut justru semakin menambah keyakinan kepada pertolongan Allah.

Bekal Ramadhan berikutnya adalah zadur ruhi, bekal ruhani. Artinya kita perlu menyiapkan ruhani atau spiritualitas terbaik kita agar bersesuaian dengan suasana Ramadhan. Karenanya kita mesti ancang-ancang dari sekarang menyiapkan spiritualitas kita.

Ruhani atau spiritualitas untuk menyambut Ramadhan bisa kita dapatkan dengan puasa sunnah, tilawah al Qur’an, shalat-shalat sunnah, doa, shadaqah, dan lain-lain. Apa pun yang bernuansa mengingat negeri akhirat, termasuk dzikir, merupakan sarana meningkatkan ruhani atau spiritualitas kita. Dengan ruhani yang baik, kita berharap memiliki frekuensi yang sama dengan Ramadhan yang atmosfirnya ruhani banget. Dengan demikian bisa terjadi persenyawaan kita dengan Ramadhan sehingga kita berpeluang menyerap berkah Ramadhan.

Bekal Ramadhan berikutnya adalah zadul ‘ilmi, bekal ilmu. Artinya kita perlu mengetahui seluk beluk Ramadhan. Karena ilmu adalah cahaya, maka ilmu tentang Ramadhan akan menerangi kita selama berada di bulan Ramadhan. Dengan demikian, penting bagi kita mendapatkan panduan tentang ibadah Ramadhan.

Baca :   Kisah Pengakuan Polisi Yang Bertaubat

Dengan ilmu kita tahu mana yang sunnah dan yang bukan, mana yang prioritas dan yang sebaiknya ditinggalkan selama bulan Ramadhan. Itu akan membuat kita mampu memetik buah-buah Ramadhan yang ranum, sangat lezat, dan bergizi untuk ruhani kita. Jangan sampai kita memasuki Ramadhan dengan gelap tanpa lampu penerang karena tak punya ilmu; tubruk sana tubruk sini, tak karuan. Karena itu, tarhib (penyambutan) Ramadhan diselenggarakan untuk membekali umat dengan ilmu agar ibadah puasa dan ibadah lainnya berkualitas.

Bekal Ramadhan berikutnya adalah zadul jasadi, bekal fisik. Memang tak seperti haji, tapi bila sakit ya.. wassalam! Karena itu hati-hati. Selama Ramadhan diperkenankan untuk olahraga dalam kadar yang pas, tetapi tidak boleh berlebihan. Ada baiknya sebelum Ramadhan kita sudah menjaga kebugaran.

Bekal Ramadhan berikutnya adalah zadul maal, bekal harta. Ini penting agar kita bisa sahur, berbuka, dan bershadaqah. Meskipun bila kesulitan harta tak berarti lalu kita tidak melakukan puasa. Hanya bila kita telah berbekal harta, tentu sahur dan berbuka kita akan kondusif dan menyenangkan.

Apalagi bila ingin i’tikaf, ibadah berdiam di Masjid, selama 10 hari terakhir Ramadhan, tentu bekal harta menjadi sangat penting. Tidak boleh kita meninggalkan keluarga tanpa belanja meski tujuannya untuk i’tikaf.

Teladanilah tukang es dari Mampang Jakarta. Ia menabung. Saat i’tikaf tiba, ia membekali keluarganya uang belanja yang cukup sehingga keluarganya tidak telantar. Dengan cara yang ihsan tersebut, hasilnya juga ihsan. Hasilnya, i’tikafnya di bulan Ramadhan diberkahi. Anak-anak tukang es yang i’tikaf tersebut ada yang jadi pilot, bahkan ada yang kuliah S2. Subhanallah.

Dengan zadul iman, zadur ruhi, zadul ‘ilmi, zadul jasadi, dan zadul maal, maka kita bisa memiliki zadut taqwa, bekal takwa. Bekal takwa inilah sebaik-baik bekal. Takwa ini kita perlukan agar kita memiliki solusi dalam kehidupan (QS 65:2).

Juga dapat rizqi dari segala arah (QS 65:3).

Dan kita akan mendapatkan kemudahan dalam segala urusan-urusan kita (QS 65:4).

Bahkan, kesalahan kita akan dihapus dan dilipatgandakan pahala kita (QS 65:5).

Bukankah fasilitas ini sungguh istimewa dan sangat mengasyikkan?


Tentang Dedhi Suharto

Dedhi Suharto, Ak., M.Ak., CIA, CISA adalah opek lulusan STAN 1999 (akuntan) dan lulusan Program S-2 Maksi UI 2008, yg suka nulis. Setelah Qur'anic Quotient(2003) Negarawan Qur'ani (2009), buku ke-3nya Puisi Qur'ani (PQ) Pesona Ramadhan terbit 2010. Penulis Novel Based on True Story ALLAH ITU DEKAT (AID)

Lihat Juga

Inilah 4 Manfaat Puasa Asyura

serambiMINANG.com – Tak terasa, saat ini kita tengah berada di bulan pertama tahun 1438 Hijriyah. …

Tinggalkan Balasan