Beranda / Sastra / Balada Si Kerbau Imut

Balada Si Kerbau Imut

kerbau-imutserambiMINANG.com – Anak kerbau itu bewarna coklat muda, bercampur putih di bahagian bawahnya. Wajahnya yang imut-imut sungguh lucu, masih polos dan harap maklum masih menyusui. Tatapan matanya lugu, menggemaskan dan dengan segala tingkah polahnya yang lucu, sang kerbau di kampung itu disayangi orang banyak.

Sementara nun di seberang sana seekor kerbau betina yang besar, sedang bersedih. Kehilangan anak yang meninggal setelah beberapa hari dilahirkannya, dan sudah beberapa hari pula hatinya resah, galau tak berkesudahan. Kerbau ini tinggi besar, dengan postur tersebut berjalan gagah, tentunya akan membuat kawan dan lawan terpesona. Namun, kali ini apa daya dia sedang tak bersemangat, hatinya gundah. Berbagai peristiwa yang berjalan dalam kehidupannya, sungguh membutuhkan jiwa besar dan mental yang kuat.

Sungguh ketika hari itu, kerbau betina ini dipertemukan dengan seekor anak kerbau yang imut-imut dan lucu, hatinya sangat gembira. Ingin segera dia mendekap “si kecil”, apa daya sikecil dimaksud belum dilepas oleh sekelompok orang yang berkerumun. Dan ketika kerbau imut telah dilepas, penantian kerbau betina tak sia-sia, di tengah sorak sorai masyarakat yang entah darimana datangnya berkerumun, naluri keibuan si kerbau segera saja timbul, hampiri kerbau kecil yang imut.

Sementara itu, di lain pihak naluri kedahagaan kerbau kecil yang telah berhari-hari tidak diberi makan ataupun susu oleh sang “owner”, menuntunnya segera mencari puting susu kerbau betina. Sayangnya manusia telah merusak sesuatu yang sangat alamiah tersebut, kepala kerbau imut sebelumnya telah diberi tanduk sakti. Di kepala itu telah diikatkan dua pisau yang sangat tajam, entah untuk apa. Maka terjadilah pemandangan mengharukan sekaligus memilukan, haru karena mulut kerbau kecil bertemu puting susu, pilu karena pada saat yang bersamaan tanduk-tanduk yang tajam itu telah merobek-robek perut kerbau betina.

Baca :   Menantang Tuhan

Bahkan ketika kerbau betina ambruk sekalipun, dia masih membiarkan kerbau imut itu menyusu. Darah berceceran, membasahi kerbau imut, tetapi senyum tetap mengembang di bibir kerbau betina. Dia telah menyelesaikan tanggung jawabnya, menyusui “anaknya” yang sedang dahaga, meski harus meregang nyawa. Dan kerbau betina itupun pulang dalam keadaan tenang….

Lalu terdengar pekik kegirangan dari para penonton: “menang kerbau” teriak dan pekik bertalu-talu. Si kerbau imut tak mengerti dengan situasi, dia baru saja kekenyangan, dahaganya sudah terpenuhi. Dan ketika kesadarannya mulai pulih, betapa kecewanya dia melihat ibu tempat dia menyusui sudah terkapar tak bernyawa.

Syair lagu si Sam dari Grup Band Dlloyd mengiringi kesedihannya: “katakan salahku dan apa dosaku, sampaiku begini”. Si kecil ini baru paham bahwa mereka telah dipertandingkan dengan licik. Dia mulai bertanya-tanya, buat apa pertandingan ini? Bukankah siapa saja yang akan menang di antara kami, pemenangnya tetap saja kerbau? Karena kami sama-sama kerbau? Entahlah, dia pusing memikirkannya. Emosinya naik turun, tiba-tiba saja dia merasa menjadi pecundang.

Lapangan pertempuran di atas bukit itu ditinggalkannya, dia berlari kencang, melenguh panjang: “muaaaaaaaaaahhhhh”. Sia-sia, sungguh sia-sia. Di usia kerbau imut yang masih muda, sisa-sia hidup akan dijalaninya dengan penuh penyesalan.


Tentang Androecia Darwis

Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang

Lihat Juga

Lantaran Curi Kerbau Nyawa Nyaris Melayang

serambiMINANG.com – Jajaran Polres Kampar mengamankan tiga orang pria yang diduga melakukan pencurian Kerbau di …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: