Beranda / Belajar Islam / Inilah Identitas Ramadhan Yang Wajib Diketahui Umat Islam

Inilah Identitas Ramadhan Yang Wajib Diketahui Umat Islam

identitas-ramadhanserambiMINANG.com – Bulan ramadhan punya identitas sendiri. Menjadi tanda dan ciri baginya. Membuat dia berbeda dengan bulan rajab, sya’ban dan lainnya. Identitas itu berupa suasana dan kesan yang ia identik dengan itu. Suasana itu menjadi aplikasi dalam keseharian setiap orang beriman.

Identitas pertama adalah ramadhan itu syahrush shiyam atau bulan puasa. Puasa dalam artian yang lebih luas. Yaitu menahan diri dari segala yang akan membatalkannya, mengurangi pahalanya bahkan yang merusak pahalanya. Juga menahan diri dari hal yang sia-sia dan berlebihan.

Maka orang yang berpuasa tidak saja berhenti dari makan dan minum. Tapi juga mengurangi pembicaraan yang tidak perlu, mendengar yang tidak perlu dan melihat yang tidak perlu. Artinya mengurangi dan menahan hawa nafsu.

Menahan hawa nafsu ini tidak saja disiang hari, tapi berlanjut menjadi identitas selama ramadhan, siang dan malam. Karenanya, saat berbuka datang, tidak terjadi tindakan balas dendam. Apalagi sampai bertambah-tambah jadwal makan di malam hari. Itu artinya puasa hanya memindahkan jadwal makan siang ke malam hari. Tidak terjadi penghematan dan tidak menahan hawa nafsu.

Adalah aneh di negeri umat Islam, setiap kali ramadhan datang, kebutuhan beras melonjak, kebutuhan daging bertambah. Begitu juga gula, bawang, cabe dan lain-lain. Padahal jadwal makan sebulan berkurang sebanyak 30x makan. Harusnya terjadi surplus sembako, namun ternyata tidak. Berarti ada identitas ramadhan yang belum hadir pada sebagian besar umat Islam.

Identitas ramadhan yang kedua adalah ramadhan itu syahrul qiyam. Artinya bulan shalat malam.

Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang shalat malam pada Ramadhan karena iman (keyakinan kepada Allah) dan mengharapkan pahala dariNya (ihtisab) maka akan diampuni dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari)

Imam Nawawi menyatakan bahwa shalat malam itu adalah shalat tarawih. Baik yang mengerjakan 8 rakaat ataupun 20 rakaat. Yang penting pada malam-malam ramadhan diisi dengan shalat sunat. Dikerjakan dengan penuh khusyuk, tenang dan hati yang tunduk. Bukan terburu-buru apalagi kebut-kebutan dengan bacaan yang tidak lagi mengindahkan kaedah tajwid.

Bila malam ramadhan tidak qiyam atau tarawih, maka hilanglah salah satu identitas ramadhan.

Identitas ketiga ramadhan adalah syahrul Quran. Artinya ramadhan itu adalah bulan Al Quran. Maksudnya setiap mukmin menyibukkan dirinya dengan Al quran. Mulai dari membacanya, menghafalnya, memahami kandungannya dan juga mengamalkannya. Berusaha dengan penuh kesungguhan, minimal bisa mengkhatam Al Quran sebanyak satu kali.

Allah telah memuliakan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al Quran:

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)… ” (QS Al baqarah: 185)

Baca :   Rahasia Itu.... Penuh Makna

Rasulullah saw sendiri pada bulan ramadhan mendapat kunjungan khusus dari malaikat Jibril, untuk mengecek hafalan dan bacaan Al Quran Beliau.

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menceritakan:

وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

Jibril menemuinya (nabi) pada tiap malam malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril) bertadarus Al Quran bersamanya. (HR. Bukhari)

Identitas keempat bulan ramadhan adalah syahrul juud wal karam. Artinya bulan kedermawanan. Maksudnya selama ramadhan setiap mukmin menjadi lebih pemurah dan dermawan. Ringan tangan membantu sesama dan berbagi serta peduli.

Berbagi makanan untuk berbuka, mengundang faqir miskin dan anak yatim untuk berbuka, bersedekah dan mengeluarkan zakat, adalah suasana orang beriman di bulan ramadhan.
Dari Zaid bin Khalid Al Juhani Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang itu. (HR. At Tirmidzi)

Rasulullah telah memberikan contoh dan keteladanan dalam hal ini. Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, menceritakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin menjadi-jadi saat Ramadhan apalagi ketika Jibril menemuinya. Dan, Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan dia bertadarus Al Quran bersamanya. Maka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar sangat dermawan dengan kebaikan melebihi angin yang berhembus. (HR. Bukhari)

Identitas kelima bulan ramadhan adalah syahrul ijtihad wal mujahadah. Artinya bulan bersungguh-sungguh dalam kerja dan perjuangan. Sejarah umat Islam telah mencatat betapa banyaknya kemenangan dan peperangan yang dilakukan para pejuang muslim di bulan Ramadhan, semenjak masa Rasulullah. Diantaranya perang Badar pada tahun 2 H, penaklukan kota makkah tahun 8 H, penyerahan Thaif tahun 9 H, masuknya Islam ke Yaman tahun tahun 10 H, penaklukan andalusia (spanyol) tahun 92 H, perang zallaqah di Portugal tqbun 459 H, penaklukan tentara mongol pada perang Ain Jalut pada tahun 568 H dan lain-lain.

Maka ramadhan adalah bulan bekerja dengan baik, bersungguh-sungguh dan lebih produktif. Bukan bulan tidur dan bermalas-malasan.

Banyak lagi identitas ramadhan yang lain. Seharusnyalah setiap muslim menghadirkan identitas ini selama ramadhan. Sehingga suasana ramadhan memang berbeda dan istimewa dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain.


Tentang Irsyad Syafar

Seorang Guru Ilmu Tafsir, Lulusan Megister Education Universitas Cairo, Mesir

Lihat Juga

Puasa Melatih Sensitivitas Syukur Kita

serambiMINANG.com – Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: