Beranda / Surau / Dakwah / Istiqomah dan Taat Kepada Panglima

Istiqomah dan Taat Kepada Panglima

panglimaserambiMINANG.com – Allah SWT berfirman: “Tidakkah kamu memperhatikan para pemuka Bani Israel setelah Nabi Musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab, “Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali sebagian kecil mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS Albaqarah: 246)

Adalah orang-orang bani israil setelah mendapatkan kemuliaan dari Allah dengan diselamatkanNya mereka bersama Nabi Musa dari kejaran Firaun dan pasukannya, mereka hidup dalam kebaikan dan keistiqamahan. Nabi Musa memimpin dan menunjuki mereka kepada kebaikan. Menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Membimbing mereka dibawah perintah Allah.

Sehingga Bani Israil kembali hidup dengan tentram, tenang dan merdeka terbebas dari perbudakan. Bahkan negeri-negeri mereka dikembalikan Allah kepada mereka. Mereka masih tetap istiqamah dengan petunjuk (manhaj) Taurat beberapa lama sampai sepeninggal Musa dan Harun yang menggantikannya.

Namun kemudian, mereka kembali menyimpang dan melanggar kitab suci mereka dan berbuat kezaliman, membangkang kepada Allah. Akibatnya perlahan-lahan Allah kalahkan mereka oleh musuh-musuh mereka. Satu persatu negeri mereka terjajah dan dicaplok bangsa lain.

Dan memang sudah menjadi sunnatullah bahwa umat yang menyimpang dari manhajNya akan mudah dijajah oleh bangsa lain dan porak-poranda terpecah belah.

Sebagaimana Rasulullah juga sudah menegaskan yang artinya: “Dan tidaklah mereka melanggar janji kepada Allah dan kepada RasulNya, melainkan akan Allah menangkan musuh mereka terhadap mereka…” (HR Ibnu Majah dan Bazzar, dishahihkan Albany)

Dalam suasana dan situasi yang sudah semakin buruk tersebut, sekelompok pemuka Bani Israil menyadari bahwa mereka sudah semakin terjajah dan tertindas. Hina dan rendah dibawah kendali musuh. Nyaris mereka dan anak-anak keturunan mereka terusir dari negeri sendiri. Mereka mulai menyadari bahwa mereka harus melawan dan merdeka kembali.

Semangat mereka bangkit menggebu-gebu untuk berjuang melawan para penjajah. Ketika itu mereka meminta kepada Nabi mereka yang ada waktu itu (Nabi Syamoel atau Syam’un), agar menunjuk seorang panglima untuk memimpin mereka berperang melawan penjajah.

Sang Nabi waktu itu sangat menyadari bahwa perang yang nanti akan dihadapi bukanlah perang mudah. Membutuhkan panglima yang kuat dan handal. Dan Beliau juga sangat memahami bahwa dunia semangat tidak sama dengan dunia nyata perjuangan. Kalimat menggebu-gebu belum tentu sama dengan aplikasi di lapangan.

Karenanya, sang Nabi memastikan dulu motif berperang yang diusung oleh pemuka-pemuka bani Israil ini. Allah isyaratkan kondisi ini dalam firmannya:Nabi mereka berkata, “Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami)..”

Jawaban penuh semangat mereka telah satu kata. Yaitu memerdekan negeri dan keturunan. Namun firasat sang Nabi tidak meleset. Begitu perang diwajib Allah kepada mereka, kebanyakan mereka berpaling dan lari.

Baca :   Menteri Agama Meminta Maaf Pada Umat Islam Atas Pernyataannya Selama Ini

“Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali sebagian kecil mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim…”.

Disini sebuah pelajaran yang sangat penting, yaitu bersemangat meneriakkan kebenaran itu satu hal, dan Istiqamah dengan kebenaran itu adalah hal lain. Dan yang terakhir inilah yang akan menghindarkan seseorang dari murka Allah.

Ujian perjuangan belum selesai. Seruan jihad sudah bergema. Pasukan sudah bersiap. Tapi ada satu kata yang sangat mahal dalam perjuangan. Yaitu, siapa panglimanya.

Para pemuka dan orang-orang hebat bani Israil sudah meminta kepada sang Nabi agar menunjuk seorang panglima untuk mereka. Mereka sudah menunggu dan juga berharap salah seorang dari mereka akan diberikan jabatan tersebut. Karena kepedean mereka dengan posisi dan kehebatan mereka. Tetapi ternyata sang Nabi tak memilih satupun diantara mereka. Berdasarkan petunjuk Allah, panglima perang diamanahkan kepada Thalut, kerena keunggulannya dalam ilmu dan kekuatan pisik.

Ini adalah ujian kedua yang tidak kalah beratnya. Yaitu bersedia patuh dan taat dipimpin oleh panglima yang sudah ditetapkan dan dipilih. Apalagi jika sang Panglima memiliki kriteria yang memadai untuk memimpin.

Namun, itulah realita yang selalu muncul. Ada jiwa-jiwa lemah yang tak rela mematuhi pemimpin. Berusaha mencari alasan dan dalih.

“Mereka berkata, “Kok Thālūt yang memperoleh kepemimpinan atas kami? padahal kami lebih berhak atas kepemimpinan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?”

Memang, tantangan paling berat bagi jiwa adalah saat merasa layak atas sesuatu, lalu tidak mendapatkannya.

Padahal tahapan paling awal dalam membangun kekuatan umat adalah kesiapan untuk mematuhi panglima/pimpinan.

Perang belum mulai. Pasukan sudah akan berhadap-hadapan. Tapi rangkaian ujiannya telah berjalan. Keberadaan dalam barisan pejuang belumlah jaminan kemenangan.

Kekokohan jiwa dan kuatnya loyalitas menjadi pondasi utama untuk menang. Dan itu perlu diuji dan dibuktikan. Panglima memerintahkan jangan ada satupun yang minum air sungai, kecuali sekedar cidukan dengan tangan. Siapa yang melanggar berarti keluar dari barisan pasukan. Ternyata cukup banyak pasukan yang melanggar perintah panglima. Hanya sedikit yang tidak ikut minum. Para pelanggar inipun kemudian tak berdaya untuk menghadapi pertempuran. Sedangkan orang-orang yang istiqamah dan taat kepada panglima, mampu bertahan dan kemudian malah memenangkan peperangan, walaupun mereka dalam posisi minoritas.

“Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Sedangkan orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Betapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al baqarah: 249)

Akhirnya Allah berikan kemenangan kepada pasukan yang istiqamah dan loyal kepada panglimanya.


Tentang Irsyad Syafar

Seorang Guru Ilmu Tafsir, Lulusan Megister Education Universitas Cairo, Mesir

Lihat Juga

Serangkaian Skenario Melemahkan Umat Islam Era Presiden Jokowi

Tahun 2017 baru berjalan satu bulan, namun kezhaliman dan serangan kepada islam dan umat islam …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: