Beranda / Surau / Dakwah / Memahami Sabda Rasulullah SAW : Bila Kita Memahami Ramadhan maka Kita Ingin Semua Bulan adalah Ramadhan

Memahami Sabda Rasulullah SAW : Bila Kita Memahami Ramadhan maka Kita Ingin Semua Bulan adalah Ramadhan

ramadhan-semua-bulanserambiMINANG.com – Mari memahami Sabda Rasulullah: bila kita memahami Ramadhan maka kita ingin semua bulan adalah Ramadhan. Ada apa dengan Ramadhan sehingga ia dipandang sangat mulia? Mengapa pula kita diperintahkan di bulan Ramadhan berpuasa? Ada apa dengan puasa? Apa keistimewaannya dibanding dengan ibadah lainnya?

Demikianlah pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di benak saya, hingga lama-lama terlihat cahaya yang akhirnya terang benderang. Jadilah pesona Ramadhan.

Untuk itu akan saya jelaskan tentang keistimewaan Ramadhan, juga tentang keistimewaan ibadah puasa. Lalu akan saya jelaskan “perkawinan” keduanya.

Tentang keistimewaan Ramadhan, faktanya hanya Ramadhan SATU-SATUnya bulan yang ditulis dalam Al Qur’an. Ramadhan adalah bulan di mana pahala kebaikan diberikan berlipat ganda dan banyak keberkahan lainnya. Ramadhan adalah bulan di mana ada malam yang sangat istimewa yaitu Lailatul Qadar, malam seribu bulan yang setara 83 tahun lebih beberapa bulan. Malam yang beberapa ulama berpendapat sebagai malam ditetapkannya kembali takdir kita setahun mendatang. Boleh jadi takdir kita hanya sopir taksi tapi ditakdirkan kembali sebagai presiden negeri ini karena berkah Lailatul Qadar. Malam yang sangat luar biasa.

Di dalam hadits hasan riwayat an Nasa’i dan al Baihaqi, Nabi Muhammad SAW menyatakan: “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan penuh berkah. Di dalamnya diwajibkan kalian puasa. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu sorga, dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu segala setan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan… “

Jadi, puasa merupakan bagian berkah di dalam Ramadhan. Bahkan puasa itu berkah yang memberkahkan. Dengan kata lain, puasa adalah berkah utama.

Saya bahas dulu tentang puasa. Apa yang membedakan dengan lainnya?

Hadits Qudsi yang shahih diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al Bukhari dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menegaskan :

“Setiap amalan anak Adam kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya, ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.” (Lafazh hadits Imam Muslim)

Dalam Hadits Qudsi tersebut, Allah SWT menyatakan: “Puasa itu untukKu dan Aku yang membalasnya.” Untuk mengetahui keistimewaan puasa, kita perlu membandingkannya dengan ibadah lainnya. Misalnya ibadah membaca Al Qur’an. Setiap membaca huruf 10 hasanah. Katakanlah anda bisa membaca Al Qur’an berkali-kali dan anda berhasil membaca 1 trilyun huruf. Berarti anda mendapat 10 trilyun hasanah.

Apakah 10 trilyun tersebut banyak ataukah sedikit? Bagaimana kalau anda bisa membaca bertrilyun-trilyun huruf sehingga anda mendapat 10 kelipatannya? Apakah itu banyak ataukah sedikit?

Bila kita tidak membandingkannya dengan puasa, maka kita bisa berpendapat itu banyak. Trilyunan hasanah itu banyak bahkan sangat banyak. Tetapi bagaimana bila dibandingkan dengan pahalanya ibadah puasa?

Pernyataan Allah SWT bahwa “Puasa itu untukKu dan Aku yang membalasnya” menunjukkan bahwa pahala puasa itu TAK TERHINGGA, terserah Allah SWT. Oleh karena itu sekalipun anda dapat membaca Al Qur’an bertrilyun-trilyun selama komputer masih bisa menghitungnya tetaplah itu SEDIKIT DIBANDINGKAN PUASA yang diberi balasan PAHALA TAK TERHINGGA.

Demikian pula dengan sedekah yang berpahala 700 kali.

Sedekah sebanyak harta yang “dimiliki” Qarun, tetaplah SEDIKIT. Semua pahala ibadah lain tetap SEDIKIT BILA DIBANDINGKAN DENGAN PUASA. Karena itu saat menghadap Allah, orang yang berpuasa sejati akan kaget. Orang yang sejati puasanya kaget karena pahala puasanya hebat dan tak sanggup ia menghitungnya. Itulah makna: “..dan Aku yang membalasnya.”

Baca :   Puasa dan Keberkahan Ikhlas

Itu keistimewaan puasa dari sisi pahala. Dari sisi bentuk, maka puasa memang beda. Bila ibadah lain AKTIF, maka puasa itu PASIF. Apa rahasia dibalik pasif itu?

Saya akan kembali kepada hadits di atas lalu saya kaitkan dengan PUASA. Salah satu berkah Ramadhan adalah dibelenggu setan. Apa maknanya?

Ada yang bingung dengan “dibelenggunya setan” sehingga lebih suka memilih arti lain. Saya tidak. Bagi saya, itu luar biasa maknanya. Dibelenggunya setan bagi saya ya setannya dibelenggu. Tapi pasti ada yang berkata: Kok masih ada kejahatan di bulan Ramadhan? Di sinilah terungkap rahasia. Pada SELAIN bulan Ramadhan kita menghadapi 2 (dua) lawan sekaligus yaitu: setan dan hawa nafsu. Di bulan Ramadhan Allah berkahi dengan dibelenggunya setan. Jadi kita tinggal menghadapi hawa nafsu saja. Harapannya: kita mampu mengalahkannya karena setannya sedang dibelenggu.

Lalu siapa yang menyebabkan pembunuhan, penipuan, korupsi dan lain-lain terjadi di bulan Ramadhan? Kalau bukan setan, lalu siapa? Jawabnya gampang: ya.. hawa nafsu! Ingat, Allah tidak membelenggu hawa nafsu, hanya membelenggu setan. Jadi wajar kalau mungkin masih ada pelacuran di bulan Ramadhan, misalnya.

Nah, kini kita tinggal menghadapi HAWA NAFSU. Karena hawa nafsu menyukai aktivitas, maka kita butuh senjata yang sebaliknya: PASIVITAS. Ibadah yang pasif ini adalah ibadah PUASA. Oleh karena itu puasa adalah senjata yang paling COCOK untuk menundukkan hawa nafsu. Ibadah-ibadah yang lain karena bersifat aktif tidak cocok untuk menundukkan hawa nafsu. Hanya ibadah puasa, yang pasif, yang memenuhi syarat untuk dirancang menundukkan hawa nafsu. Itulah rahasia dibalik sifat pasifnya ibadah puasa!

Itulah sebabnya saya katakan: ibadah puasa Ramadhan adalah

“perkawinan” antara ibadah yang paling berkah dengan waktu/bulan berkah.

Lalu bagaimana bila kita tidak dapat memanfaatkan puasa dengan baik sehingga kita tak mampu menundukkan hawa nafsu selama Ramadhan? Akankah kita mampu menundukkan hawa nafsu di luar bulan Ramadhan sedangkan kita tak mampu menundukkannya di bulan Ramadhan? Akankah kita mampu menghadapi DUET MAUT setan+hawa nafsu (di LUAR Ramadhan) sedangkan satu lawan satu saja dengan hawa nafsu kita tak mampu? Anda tentu tahu jawabnya.

Dengan prestasi menundukkan hawa nafsu itulah maka Allah SWT menjanjikan kita dengan Lailatul Qadar, malam sangat istimewa yang lebih baik dari seribu bulan.

Hadits tersebut ditutup dengan kalimat: man hurima khairuha faqad hurim. Siapa diharamkan kebaikan malam Lailatul Qadar (yang ada di bulan Ramadhan) sungguh diharamkan mendapatkannya (di bulan lain). Jadi, mesti menunggu Ramadhan berikutnya untuk mendapatkan peluang mendapatkan malam istimewa Lailatul Qadar. Menunggu bulan Ramadhan tahun berikutnya? Ya, tapi apa kita PASTI hidup tahun depan? Anda bisa merenungkan jawabannya baik-baik.

Karena itu Nabi katakan kalau kita memahami Ramadhan kita tentu ingin tiap bulan adalah Ramadhan, di mana setan dibelenggu. Kita ingin setiap bulan adalah Ramadhan karena pintu surga dibuka. Kita ingin setiap bulan adalah Ramadhan karena pintu neraka ditutup. Maka hawanya neraka berkurang di bulan Ramadhan, sedangkan sejuknya Surga terasa.

Beberapa tahun lalu ada teman saya yang non muslim menyatakan rindu terhadap suasana Ramadhan. Itulah mungkin dampak pintu surga dibuka. Juga perhatikan pula bagaimana masjid dan musholla jadi penuh. Dan bagaimana jama’ah subuh jadi 1,5 kali hingga beberapa kali lipatnya di bulan Ramadhan. Karenanya, mari sambut Ramadhan dengan kerinduan yang mendalam dan aktivitas terbaik kita. Yuk semangat!


Tentang Dedhi Suharto

Dedhi Suharto, Ak., M.Ak., CIA, CISA adalah opek lulusan STAN 1999 (akuntan) dan lulusan Program S-2 Maksi UI 2008, yg suka nulis. Setelah Qur'anic Quotient(2003) Negarawan Qur'ani (2009), buku ke-3nya Puisi Qur'ani (PQ) Pesona Ramadhan terbit 2010. Penulis Novel Based on True Story ALLAH ITU DEKAT (AID)

Lihat Juga

Inilah 4 Manfaat Puasa Asyura

serambiMINANG.com – Tak terasa, saat ini kita tengah berada di bulan pertama tahun 1438 Hijriyah. …

Tinggalkan Balasan