Beranda / Berita / Status Menyebut di Masjidil Haram Bebas Makan Minum Selama Ramadhan Menyesatkan

Status Menyebut di Masjidil Haram Bebas Makan Minum Selama Ramadhan Menyesatkan

Status-Menyebut-di-Masjidil-Haram-Bebas-Makan-Minum-Selama-Ramadhan-MenyesatkanserambiMINANG.com – Indonesia saat ini dihebohkan dengan rasiz Sat Pol PP yang dlakukan terhadap seorang ibu penjual nasi yang tetap berjualan ketika puasa. Hal semakin mencuat ketika isu toleransi dilemparkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan pastinya juga berusaha menjauhkan islam dari ajaran yang sesungguhnya.

Yang semakin menyesatkan ketika di unggah di jejaring sosial media facebook dengan nama Anis Mashduqi yang menuliskan “siang hari ramadan di pelataran masjid al-harom. beberapa jamaah dan pekerja terlihat bebas menyantap makanan dan warung tetap saja buka melayani pelanggan tanpa khawatir terjadi sweeping”.

Status tersebut semakin meresahkan banyak pihak ditambah lagi dengan bumbu toleransi yang juga harus kemudian diberlakukan di Indonesia.

masjidil-haram

Melihat pernyatan tersebut, serambiMINANG.com kemudian menghubungi salah seorang Warga Negara Indonesia yang saat ini berdomisili di Riyadh, Arab Saudi, Gunawan Subekti.

Gunawan Subekti menyebutkan bahwa yang difoto tersebut adalah orang-orang yang sedang safar dan melakukan perjalanan umroh.

“Bukan pekerja tapi orang yg safar melakukan perjalanan umrah, dua hari yg lalu Saya umrah, beberapa toko makanan memang buka dan melayani pembeli di siang hari tapi makanan tidak boleh makan di tempat, harus di bungkus. Ada sebagian jamaah umrah yg berbuka karena memang di bolehkan dalam keadaan safar membatalkan puasa terlebih dalam keaadan berat (puasa 15 jam d bawah suhu 48c), ada dua pendapat ulama yg berfatwa mengenai puasa dalam keadaan safar, fatwa yang 1. Wajib Untuk berbuka, fatw yang ke 2. Boleh berpuasa dan boleh berbuka sesuai dngn kesanggupanya.” uangkap Gunawan Subekti kepada serambiMINANG.com (13/06/2016).

Selain itu, Gunawan Subekti juga menyebutkan bahwa, hal tersebut berbeda dengan kota lainnya seperti di Riyadh, Arab Saudi dimana semua toko makanan dan rumah makan tutup.

“Berbeda halnya di kota lain seperti di Riyadh, tidak ada toko makanan atau rumah makan yang buka siang hari, terlebih makan di tempat umum. Di Riyadh Saya pernah memarahi seorang Warga Negara India yang makan siang hari ketika bulan Ramadhan di tempat terbuka, dan dia diam saja karena mengakui kekeliruanya” lanjut Gunawan Subekti.

Lebih jauh Gunawan Subekti juga menceritakan seorang temannya yang dinasehati oleh pedagang rumah makan, karena siang hari masuk rumah makan diwaktu ramadhan.

“Pernah teman Saya di Riyadh siang hari masuk ke rumah makan Pakistan yang menjual menu khusus nasi khabsah, dia pesan satu porsi di bungkus, si penjual menjelaskan dan menasehati bahwa di bulan Ramadhan nasi waktu dzuhur nasi khabsah belum matang, walaupun sudah matang dia tidak akan menjualnya. Ini menandakan RM di kota Riyadh memang tidak melayani pembeli di siang hari” tambah Gunawan Subekti.

Baca :   Walikota Padang : Kami Merazia Untuk Melindungi Orang Yang Berpuasa

Lebih rinci Gunawan Subekti menyebutkan bahwa area masjidil haram adalah area hotel dan penginapan bukan rumah-rumah penduduk jadi yang berada disana adalah orang yang sedang umrah.

“Di area masidil Haram itu semuanya hotel dan penginapan, jadi tidak ada penduduk setempat yg berkeliaran, semuanya orang yg sedang umrah” tutup Gunawan SUbekti.

Apa yang disampaikan oleh Gunawan Subekti senada dengan yang disampaikan oleh Dian Setio Budi yang berkomentar pada status jejaring sosial facebook milik Anis Mashduqi.

Berikut beberapa penjelasan dari Dian Setio Budi pada kolom komentar tersebut:

1. IYalah para musafir.
2. Dah gt safar nya dr negara yg TIDAK sedang ato malah tdk pernah musim panas. Alias puasa maksimal 12 jam. Jd itungan dia drpd puasa dgn hati ga ikhlas mending ambil rukhshoh. Krn kami di timteng puasa 17 jam. Please lah beda tmpt beda kasus beda fatwa itu wajar ato malah wajib beda.
3. Hapus atau jelaskan dgn arif seperti halnya ulama menjelaskan kasus dong. Biar ga dipake bahan ngeles awam. Mesakke umatmu.
4. Coba amati ke daerah yg gak ada musafirnya. Ke Mall. Sama aja malah lebih strick bung. Strick buat org saudi asli maupun pendatang tp punya residence alias dah muqim. Baru dibandingkan dgn Indonesia yg jg strick di beberapa tmpt buat pribumi. Baru deh Qiyas nya gak cacat.
5. Di timur tengah berani minum di mobil aja keliatan polisi di denda atau dideportasi dipulangkan ke Negaranya krn tdk menghormati Ramadhan bung. Dan itu gak peduli orgnya yg minum muslim apa non muslim. Anda salah ngambil contoh.
6. Gak KFC gak MCD maupun restoran lokal mana buka bung. Semua wajib menghormati Ramadhan. Berani melangggar bukan hanya digaruk satpol PP,tp ijin usaha dicabut dan diblack list.
7. Itu hilton masih kawasan Haram Makki bung. Yg bertebaran musafir. Sana jalan ke Riyadh sekalian kalau mau amati dgn baik dan benar. Mumpung masih disitu iseh dekat.

masjidil-haram2

Demikianlah jawaban atas status menyesatkan tersebut, semoga kita umat islam tidak mudah dibodoh-bodohi dengan kalimat-kalimat toleransi yang justru menyesatkan.


Tentang Abu Faguza Abdullah

Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad: 7)

Lihat Juga

Bulan Ramadhan Menurunkan Kecintaan Pada Dunia dan Menaikkan Kecintaan Pada Akhirat

serambiMINANG.com – Apabila seorang mukmin telah bertekad untuk berjuang di jalan Allah, memenangkan agamaNya dan …

Tinggalkan Balasan