Beranda / Surau / Keluarga / Wahai Ukhti, Ketika Jodoh Tak Kunjung Datang Maka Bersyukur Dengan Nikmat Yang Ada

Wahai Ukhti, Ketika Jodoh Tak Kunjung Datang Maka Bersyukur Dengan Nikmat Yang Ada

jodohserambiMINANG.com – Dikisahkan dahulu kala di negeri Mekkah hiduplah seorang gadis dari Bani Ma’zhum bernama Rithah al-Hamqa. Ia gadis yang sangat cantik lagi kaya raya. Ia sering berdiri lama di depan cermin mengamati secara detail mulai dari ujung kepala hingga ujung kakinya sembari merenungi nasibnya yang dianggapnya malang. Ia tak habis mengerti sudah sekian lama jodohnya tak kunjung datang.

Pada suatu hari ia pun mengeluh pada sang bunda. “Oh..Ibu, usiaku sudah lanjut, namun mengapa belum datang seorang pun pemuda yang meminangku? Apakah aku akan selamanya menjadi perawan seumur hidup?”. Mendengar rintihan anak gadisnya, sang ibu pun tak tega. Hatinya ikut bersedih apalagi ia adalah putri tunggal yang sangat disayanginya. Berbagai usaha dan cara ditempuhnya agar anaknya segera menemukan jodohnya. Beberapa ahli nujum dan dukun yang terkenal ditemuinya, ia tak peduli berapa saja uang yang harus keluar dari sakunya, yang penting anak semata wayangnya dapat segera bertemu dengan jodohnya.

Namun sayang,usaha si ibu tidak juga menampakkan buahnya. Buktinya, janji-janji manis sang dukun cuma bualan kosong belaka. Sekian lama mereka menunggu-nunggu orang yang akan datang melamar, ternyata yang ditunggu tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Melihat keadaan ini tentu saja Rithah al-Hamqa menjadi semakin bermuram durja. Hatinya semakin kecut sementara harapannya semakin menipis mengingat usianya yang semakin tua. Tak pelak hujan tangis pun semakin sering terjadi bila teringat jodohnya yang tak kunjung datang.

Meskipun demikian, akhirnya penantian panjangnya membuahkan hasil. Jodoh yang ditunggu-tunggu Rithah akhirnya datang juga. Jodohnya tiba tatkala seorang bibinya yang berasal dari luar daerah berkunjung ke rumah mereka dengan membawa seorang pemuda tampan. Ibarat gayung bersambut, akhirnya Rithah yang telah lanjut usia pun menikah dengan pemuda dilawan tersebut.

Namun kenapa si pemuda itu bersedia menikahi gadis bani Ma’zhum yang telah tua ini? Oh, ternyata ada udang dibalik batu. Ada maksud busuk dibalik kesediannya menikahi Rithah. Rupa-rupanya pemuda yang miskin ini hanya menginginkan kekayaan Rithah yang melimpah ruah. Karuan saja setelah berhasil menguasai dan menggunakan sebagian harta Rithah,pemuda ini pergi menghilang begitu saja tanpa alasan dan pesan sedikit pun.

Baca :   Anjuran Untuk Menikah (2)

Maka tinggallah kini Rithah hidup seorang diri, menangisi kepergian sang suami yang tak tahu rimbanya. Hatinya hancur, harapan yang baru saja diraihnya mendadak sirna hilang kembali. Dunianya pun kembali menjadi sempit diselimuti awan kelabu. Hidup segan matipun tak mau. Dengan langkah gontai penuh kemalasan Rithah pun lantas membeli ratusan benang untuk dipintal guna melepas kesedihan dan kemurungannya. Namun bukan untuk membuat kain sungguhan, sebab setelah menjadi hasil tenunan, ia pun menceraiberaikannya lagi menjadi benang. Lalu ia tenun lagi dan ia cerai-beraikan lagi. Begitulah seterusnya ia jalani sisa-sisa hidupnya sampai ia meninggal. Al-Qur’anul Karim mengabadikan kisah Rithah al Hamqa dalam surat an-Nahl ayat 29 “Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan menangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi bercerai-berai kembali”.

Ada pelajaran menarik yang dapat kita petik dari kisah wanita Bani Ma’zhum itu. Ketidaksabarannya dalam menghadapi ujian jodoh menjadikannya lupa terhadap berbagai nikmat yang telah ia terima dan ia miliki menjadi tiada artinya bila tak mendapatkan jodoh. Ia menjadi kufur nikmat. Satu nikmat yang belum ia dapatkan (yakni nikmat jodoh) telah membuatnya gelap mata dan buta hati terhadap banyak nikmat yang telah ia terima. Ini merupakan sikap yang sangat buruk yang tentu saja tidak boleh dicontoh. Karena itu, Allah SWT pun menyiksanya dengan mendatangkan jodoh yang buruk buatnya, seorang suami yang mengecewakan hidupnya dan menghancurkan hatinya. Selain itu, Allah SWT juga mengabadikan kisah hidupnya untuk jadi pelajaran berharga bagi orang-orang yang datang sesudahnya agar tidak lupa daratan dan kufur nikmat bila diuji dengan terlambat berjodoh. Wallahu a’lam

(Dalam buku Teman dalam Penantian, Udik Abdullah)


Tentang Elfit Gusrizal

Alumni Univeristas Negeri Padang

Lihat Juga

Perbaikilah Bacaan Qur’an Mu Sebelum Menikah

serambiMINANG.com – “Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil” (QS. Al-Muzammil [73]: 4) Setiap kita pastinya mendambakan pernikahan …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: