Beranda / Surau / Pemikiran Islam / Diskriminasi dan Teguran Langsung Dari Tuhan

Diskriminasi dan Teguran Langsung Dari Tuhan

diskriminasi-dan-teguran-langsung-dari-tuhanserambiMINANG.com – Di kota tempat saya tinggal, Berlin, akan di adakan Abgeordnetenhauswahl (pemilihan umum untuk parlemen Negara bagian Berlin) . Pesta Politik ini banyak mengubah wajah Ibu kota dengan berbagai kata-kata pemikat. Ketika saya berjalan menuju kampus misalkan, saya mendapati banyak kata-kata di sepanduk-sepanduk kampanye, baik itu yang berukuran besar ataupun yang berukuran kecil. Ketika saya berjalan menuju tempat bekerja pun saya mendapati hal serupa, lalu berjalan ke tempat beribadah pun menemui hal serupa. Sepanduk dan Baligo kampanye dengan kata-kata dan gambar yang berbeda-beda terpampang di jalan-jalan. Pemilihan Umum ini sangat vital bagi kota berlin 5 tahun kedepan.

Dan yang menarik dari pesta demokrasi di Berlin kali ini adalah sebuah partai baru, yaitu AfD (alternatif untuk Jerman). Partai ini merupakan partai berhaluan kanan ekstrem dengan kampanye-kampanyenya yang sangat diskriminatif. Misalkan “Islam harus keluar!” “Anti imigran” “Anti Uni Eropa” dan lainnya. Dan yang mengejutkan adalah, mereka berada di angka 10%-15% dalam survey-survey politik. Ini menunjukan bahwa peminat dari partai rasis ini cukup besar, bahkan dalam survey mampu menggerus suara dari partai besar seperti SPD dan CDU.

Saya disini tidak ingin membahas terkait program AfD atau analisa pemilu di Berlin. Tapi yang ingin saya bahas adalah terkait diskriminasi dalam sejarah Islam. Karena kata diskriminasi arau rasis telah banyak menggaung di Jerman, terutama di Jerman timur, termasuk Berlin.

Saya menulis ini ketika mencoba mentadaburi surat Al-Ahzab. Salah satu ayat dari Surat yang saya tadaburi ini menceritakan tentang sikap Muhammad Saw terkait diskriminasi atau Rasis atau strata sosial. Sikap yang sangat mulia dan mencerahkan dunia. Mari kita baca redaksi Ayatnya.

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya, dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Al-Ahzab 4-5.

Wahyu ini turun salah satunya untuk menegur Muhammad Saw. Kenapa Muhammad saw di tegur? Karena beliau menjadikan anak angkatnya seperti anak kandungnya sendiri. Dikisahkan dalam riwayat bukhari bahwa nabi Muhammad memanggil anak angkatnya, Zaid, dengan sebutan Zaid bin Muhammad. Muhammad Saw sangat menyayangi Zaid hingga beliau menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri dan menisbatkan nama Zaid kepada Nama beliau, hingga akhirnya beliau di tegur Allah dalam wahyunya yang agung. Maka Zaid kembali dipanggil dengan Zaid bin Haritsah. Lalu dimana letak sikap Muhammad terhadap diskriminasi atau strata sosial?

Perlu kita ketahui bahwa Zaid pernah merasakan menjadi manusia dengan tingkat strata sosial terendah pada saat itu. Zaid pernah menjadi seorang budak, lalu beliau dibeli oleh Khadijah dan di hadiahkan kepada Muhammad saw. Muhammad Saw memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak. Dan disinilah sikap Muhammad Saw. Beliau menjadikan mantan budak itu sebagai anaknya, bahkan merubah namanya menjadi Zaid bin Muhammad. Pada saat itu begitu tidak mungkin ada seseorang dengan darah dan kedudukan terhormat (Muhammad saw memiliki darah dan kedudukan ya g terhormat), mengangkat seorang mantan budak menjadi anaknya. Tapi Muhammad Saw menghancurkan pandangan tersebut. Beliau membuktikan bahwa strata sosial tidak seharusnya menjadi penghalang dalam beraktivitas.

Baca :   Ditolak Bekerja Karena Seorang Muslim, Pria Ini Laporkan Perusahaan Tersebut ke Polisi

Bahkan Muhammad saw pun mengangkat Zaid sebagai panglimanya di perang Mu’tah melawan adidaya Romawi yang berjumlah sangat banyak. Sebenarnya banyak yang memprotes hal tersebut. Tapi sekali lagi, Muhammad Saw memperlihatkan bahwa strata sosial tidak dapat menghalangi orang untuk berprestasi. Zaid memimpin orang-orang besar dari klan-klan terhormat.

Lalu saya teringat materi yang saya dapatkan dalam pertemuan pekanan. Materi tentang tafsir surat Abasa. Di dalam tafsir itu dikisahkan pula tentang kedudukan Usamah bin Zaid. Anak dari Zaid bin Haritsah dan Umm Aiman. Kedudukannya sangat tinggi di sisi Muhammad saw. Walaupun dari segi fisik sama sekali tidak menarik bagi manusia kebanyakan, dia putra mantan budak dan ibunya berasal dari habasya. Tapi Usamah begitu disayangi oleh Muhammad saw, bahkan rasa sayangnya sama dengan rasa sayang beliau kepada cucunya,Hasan bin Ali. Muhammad saw pun mengangkat Usamah sebagai panglima di usianya yang sangat-sangat muda. Beliau mempercayakan tugas berat itu kepada pemuda (regenerasi). Walaupun banyak sekali yang memprotesnya, banyak juga dikarenakan Usamah adalah anak Zaid dan Umm Aiman, yang menurut sebagian orang stratanya rendah.

Inilah salah satu sikap Muhammad saw memandang ras atau diskriminasi atau strata sosial. Dikala Romawi dan Persia bahkan Arab dahulu menjadikan strata sosial adalah segalanya, Muhammad saw datang untuk menghancurkan hal tersebut. Nilai-nilai yang dibawa Muhammad saw menginspirasi dunia, sehingga dunia menjadi seperti saat ini. Perbudakan di hilangkan misalnya, atau derajat perempuan melesat naik. Itu semua berawal dari nilai-nilai yang dibawa oleh Muhammad saw.

Dan hari ini isu-isu tekait ras muncul kembali. Pandangan eksistensi bangsa, eksistensi Ras menggeliat kembali bahkan di bawa dalam penggung-panggung politik yang megah. Bahkan orang-orang Islam yang harusnya mengamalkan nilai-nilai yang dibawa Muhammad pun banyak terjebak dalam hal ini. Banyak yang Merasa paling hebat, merasa rasnya paling baik karena mereka orang Arab misalkan, darah Quraisy mengalir dalam diri mereka (Abu Jahal pun sebenarnya adalah Quraisy, bukan hanya Muhammad saw). Padahal, Muhammad saw telah membuang hal-hal tersebut. Manusia bebas menjadi apapun. Manusia bebas berkreasi sebaik mungkin tanpa terhalang strata sosial. Dan seharusnya sikap kita terkait pandangan yang mambawa ras tertentu paling unggul, yang lainnya hina, adalah: melawannya!! Jangan sampai pandangan tersebut meracuni kembali dunia. Pandangan tersebut sangat berbahaya bagi dunia. Contohlah manusia terbaik dalam memandang strata sosial.


Tentang Hudzaifah Muhibullah

Sekretaris Forkom Jerman, Mahasiswa Jurusan Politik,

Lihat Juga

Cari Suaka di Jerman, Banyak Imigran Muslim Sembunyikan Identitasnya

serambiMinang.com- Mencari suaka ke negara lain adalah cara lain bagi penduduk negara yang tengah mengalami …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: