Beranda / Berita / Semburan Lumpur Akibat Pengeboran Bumi Terjadi di Jawa Barat, Jangan Sampai Kasus Lapindo Terulang

Semburan Lumpur Akibat Pengeboran Bumi Terjadi di Jawa Barat, Jangan Sampai Kasus Lapindo Terulang

semburan-lumpurserambiMINANG.com – Lumpur menyembur di Desa Segara Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, di dekat Marunda Center karena bocornya pipa proyek. Pihak kontraktor PT Ardhinusa Mitratel menjelaskan beberapa penyebab teknis yang membuat lumpur menyembur dan merusak sebagian rumah warga.

“Jadi pekerjaan kami HDD (Horizontal Directional Drilling) jadi lumpur yang keluar memang kami produksi bukan dari sumber bumi. Jadi kalau media bilang seperti Lapindo sangat-sangat tidak berdasar. Lumpur ini kami produksi untuk proses pengeboran, ketika sudah selesai operasi pasti semburannya berhenti,” kata Site Manager PT Ardhinusa, Muhammad Agus Prihanto di Kantor Desa Segara Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Jl Marunda Makmur, Kabupaten Bekasi, Selasa (9/8/2016).

PT Ardhinusa merupakan kontraktor pelaksana proyek pengeboran dan pemasangan pipa gas di Desa Segara Makmur itu. Agus menjelaskan, lumpur muncul karena metode yang digunakan. Pengeboran menggunakan pressure tinggi menyebabkan lumpur akhirnya menyembur. Hal itu pun sudah diprediksi pihak PT Ardhinusa.

“Muncul semburan lumpur karena metode kerja kami lumpur itu dipompa dengan preasure yang tinggi. Ketika di dalam tanah presurre yang tinggi akan mendesak formasi tanah yang paling tidak stabil. Sehingga kita tidak bisa memprediksi di mana dan kapannya akan muncul, tetapi sudah diantisipasi,” jelas Agus.

Baca :   Smartphone Dilarang Di Kantor-Kantor Pemerintahan Kazakhastan, Ini Penyebapnya

“Dengan kondisi di Segara makmur sudah ada antisipasi sebelumnya untuk penanganan lumpur. Langsung kita respon dengan penyedotan, kami menyediakan 4 vakum truk,” imbuhnya.

Terkait dengan kerusakan beberapa rumah warga akibat semburan lumpur, Agus mengaku pihaknya akan bertanggung jawab penuh. PT Ardhinusa akan membayar ganti rugi kepada warga.

“Sudah kami realisasikan pertanggungjawaban kami. Jadi sebelum kami memulai pekerjaan kami, kami sudah membuat komitmen untuk bersedia bertanggung jawab terhadap lumpur dari proses HDD ini. Jadi tuntutan warga untuk pertanggungjawaban memang beberapa hari ini kami sudah musyawarah. Dalam komitmen kami, musyawarah ini berasas pada kewajaran, masuk akal, dan proporsional terhadap ganti rugi dari dampak yang ditimbulkan,” tuturnya.

Sampai hari ini, Agus mengungkapkan bahwa 88% warga yang terdampak lumpur sudah menerima ganti rugi. Agus menjanjikan, ganti rugi akan dibayarkan semuanya dalam waktu dekat. (detik)


Tentang han

Sedang BELAJAR.... dan terus BELAJAR

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: