Beranda / Surau / Dakwah / Tujuan Pendidikan Nasional adalah Iman dan Taqwa

Tujuan Pendidikan Nasional adalah Iman dan Taqwa

Iman_dan_taqwa_Adalah_Tujuan_Pendidikan_NasionalDunia pendidikan tanah air baru-baru ini sedikit dihebohkan oleh wacana “full day shool” menteri pendidikan yang baru ditunujuk oleh presiden Jokowi menggantikan menteri sebelumnya yaitu Anies Baswedan.

Seperti biasanya, rakyat Indonesia cukup responsif, ada yang pro dan ada yang kontra. Meskipun baru berupa waccana banyak tanggapan yang muncul atas wacana tersebut. Tanpa membenarkan ataupun menolak wacana “full day school” tersebut, apakah masalah pendidikan hari ini bisa diatasi hanya dengan lamanya waktu di sekolah??

Sebelum berbicara jauh kita kembali dulu kepada apa yang diinginkan oleh negara ini dari pendidikan. Keinginan yang ingin dicapai oleh negara dari pendidikan ini seperti yang tertuang dalam UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 Tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Setidaknya ada 9 hal yang menjadi tujuan pendidikan Indonesia. Dan menariknya tujuan pendidikan Indonesia yang pertama menurut undang-undang adalah menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemudian berakhlak mulia. Setelah itu baru disusul dengan sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan Indonesia secara umum adalah seperti yang disebutkan dalam undang-undang seperti yang disebut diatas, namun ciri-ciri pendidikan yang akan menghasilkan manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa itu sangat sulit ditemui, terutama pada sekolah umum. Dan makna dari beriman, bertaqwa, berakhlak mulia ini pun perlu kita perjelas satu persatu. Karena apa yang dimaksud iman, taqwa, dan akhlak tentu akan berhubungan dengan pendidikan yang dijalankan.

Dan kemungkinan yang barangkali terjadi adalah ketika praktisi pendidikan itu sendiri tidak memahami tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dalam undang-undang.

Untuk menjelaskan makna kata yang merupakan kata kunci dalam undang-undang SISDIKNAS no 20 pasal 3 tersebut kita mesti merujuk kepada makna dari kata tersebut.

Dan referensi dalam mencari makna tersebut satu-satunya hanya berasal dari bahasa arab, dan lebih spesifik lagi kata iman dalam bahasa arab tersebut berasal dari agama Islam.

Kata iman yang dipakai dalam tujuan pendidikan dalam undang-undang no 20 th 2003 tersebut berasal dari bahasa arab yang artinya adalah percaya. Sementara secara istilah bisa dimaknai dengan pengakuan yang melahirkan sikap menerima dan tunduk (syeikh muhammad bin sholeh al utsaimin, syarh arbain)

Rasulullah sholallahu alaihi wasallam juga menjelaskan perkara iman dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh imam Muslim “Iman itu dibangun atas lima perkara. Kamu bersaksi bahwa tida ilah melainkan Allah dan aku adalah utusan Allah, mengerjakan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa pad abulan ramadhan”

Kemudian setelah iman, maka disebutkan tujuan pendidikan nasional menurut undang-undang adalah menjadikan manusia yang bertaqwa.

Seperti halnya iman, taqwa juga merupakah istilah dalam bahasa arab, yang mana kata tersebut berasal dari agama Islam.

Para ulama rahimahullah telah mejelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Asfahani mendenifisikan : “Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan”

Sedangkan Imam An-Nawawi mendenifisikan taqwa dengan “Menta’ati perintah dan laranganNya”. Maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sementara itu representasi dari iman dan taqwa dalam diri seseorang yang melandasi sikap dan tingkah lakunya, itulah yang dinamakan Akhlak. Bahkan dalam tradisi pendidikan Islam tidak dikenal dengan yang namanya pendidikan karakter, tapi yang ada adalah “akhlak”. Karena akhlak berlandaskan kepada tauhid (tsabit), sedangkan karakter berlandaskan budaya (yang sifatnya temporal)

Baca :   Bulan Ramadhan Menurunkan Kecintaan Pada Dunia dan Menaikkan Kecintaan Pada Akhirat

Itulah tiga hal utama yang menjadi tujuan pendidikan nasional yang telah disahkan oleh negara, yaitu iman, taqwa dan akhlak. Akan tetapi sangat disayangkan sekolah-sekolah negeri secara umum belum atau tidak benar-benar mengupayakan terapainya tujuan pendidikan berdasarkan undang-undang. Walaupun ada, maka akan sangat sulit ditemukan.

Bahkan lebih detail, barangkali guru-guru yang mengajarkan mata pelajaran disekolah tidak memahami konsep iman, taqwa dan akhlak mulia tersebut. Sehingga tidak ada transfer nilai (iman, taqwa, dan akhlak) antara guru dan muridnya, setidaknya tidak ada transfer nilai yang berarti.

Dan guru masing-masing mata pelajaran hanya fokus pada target KKM, atau lebih jelasnya mendapatkan nilai di atas kriteria minimal. Dan murid-murid yang tidak mendapatkan transfer nilai (iman, taqwa, dan akhlak mulia) juga nanti akan ada yang menjadi guru dan mengajarkan hal yang sama sehingga masalah tujuan utama pendidikan itu sendiri menjadi bermasalah.

Pendidikan Yang Problematis

Inilah masalah besar yang tengah terjadi hari ini, yaitu rusaknya ilmu. Yaitu ketika ilmu diajarkan tidak lagi terikat dengan iman dan taqwa, sehingga ilmu itu sendiri tidak mempunyai nilai. Padahal dalam tradisi Islam, ilmu pengetahuan mencapai kegemilangan perkembangannya dengan dilandasi iman dan taqwa kepada Allah. Maka lahirlah ilmuan-ilmuan Islam seperti Nashrudin at thusi, Ibnu Sina, al kwarizmi, al kindi, dll. Yang mana hasil penelitian dan karya mereka masih dipelajari hingga sekarang, bahkan di “barat” sekalipun.

Namun hari ini ilmu diajarkan seolah tidak berhubungan dengan sang penciptanya, sehingga lahirlah orang-orang yang dipandang cerdas tapi tidak ber”adab”.

Meskipun dalam undang-undang tertera tujuan pendidikan nasional menjadikan manusia beriman dan bertaqwa namun dalam praktek dilapangan justru tidak ditemui kesinambungan antara tujuan pendidikan tersebut dengan praktek pendidikan dilapangan. Justru yang semakin meresahkan adalah wacana pendidikan multikultural cenderung kepada pluralisme agama. Dengan begitu tujuan iman dan taqwa sudah pasti tidak akan terapai.

Murid Tak Beradab

Pendidikan yang tidak melakukan transfer nilai (iman dan taqwa serta akhlak mulia) akan menghasilkan manusia-manusia yang juga sedikit nilai iman dan taqwanya, sehingga kuranglah adabnya. Hal yang pertama kurang tentu adab kepada Allah, yang hakikatnya semua ilmu berasal dariNya. Kemudian ketidak beradaban itu juga akan kembali kepada guru ataupun lembaga pendidikan itu sendiri. Meskipin dalam budaya Indonesia terdapat budaya menghormati yang tua ataupun juga menghormati guru, kini telah tergerus, karena budaya itu sifatnya temporal. Sementara iman dan taqwa sifatnya tetap dan tidak berubah. Sehingga murid-murid yang telah kering dari adab, sangat memungkinkan akan merendahkan atau bahkan menjeboskan gurunya ke penjara. Atau akan melakukan kekerasan fisik ataupun moral terhadap guru. Karena dalam kepala siswa tugas guru hanyalah mentransfer mata pelajaran yang dikuasainya bukan iman, taqwa dan akhlaknya.

Inilah kebablasan yang terjadi hingga kini. Sekolah-sekolah berlomba dengan hal yang bersifat materialistik, meskipun tidak salah akan tetapi ketika melepaskan transfer iman, taqwa dan akhlak mulia tentu akan menjadi problema yang besar. Karena mereka yang hari ini menjadi murid, dimasa depan akan menjadi guru pula, menjadi orang tua bagi anak-anaknya, menjadi pembuat kebijakan berbagai bidang dalam kenegaraan dan juga pendidikan. Jika dalam lingkungan pendidikan sudah rusak atau keringnya dari pentransferan nilai iman dan taqwa maka seluruh bangsa bisa rusak karena ahli ilmunya telah rusak.

Sebagai penutup saya kutip ungkapan Imam Al Ghazali rahimahullah Maka terakhir Imam Ghazali memberikan penutup: “Bahwasanya Rusaknya Rakyat/Masyarakat Umum Disebabkan Karena Rusaknya Para Penguasa, Sedangkan Rusaknya Para Penguasa Disebabkan Karena Rusaknya Para Ulama. Para Ulama Rusak Karena Terperdaya Kecintaan Harta Dan Wibawa/Tahta”.

Wassholaatu wassalaamu’ala nabiyiina muhammad.

Allahu ta’ala a’lam

 


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

Kemerdekaan, Girlband, dan Musuh Pendidikan

Disekolah, seperti biasa saya dan beberapa orang guru biasanya agak nyinyir betapa pentingnya akhlak atau …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: