Beranda / Surau / Dakwah / Adakah Media Yang Objektif ??

Adakah Media Yang Objektif ??

adakah_media_yang_objektifAdakah media yang objektif?? Barangkali hal ini perlu kita pertanyakan, terlebih di era informasi yang begitu cepat.

Kebebasan rakyat sipil kian tak terbendung, ketika era reformasi membukakan pintu kebebasan seluas-luasnya. Arus informasi semakin deras seiring bermunculannya berbagai media massa kepermukaan.

Tak hanya sampai disitu, bahkan pemerintahpun tak punya sensor dan tak lagi punya kontrol terhadap pergerakan arus media massa yang begitu derasnya. Meski belakangan media massa lebh cenderung menjadi “tunggangan” penguasa dan menjadi simbol kelompok atau partai tertentu (meski tak bisa disamaratakan pada semua media)

Namun hal yang menarik adalah tentang apa yang selalu diusung oleh media-media yaitu “netralitas” atau “objektifitas”. Tapi adakah media yang objektif??

Dalam kode etik jurnalistik yang diterbitkan oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pada pasal 1 disebutkan bahwa wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Independen yang dimaksud disini seperti yang dijelaskan oleh PWI adalah memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pihak pers.

Ini menarik, apa yang dijadikan oleh PWI sebagai kode etik dalam penulisan berita yaitu; Berdasarkan fakta, sesuai hati nurani, dan tanpa campur tangan pihak lain. Fakta secara hakikatnya tidak bermasalah dari segi informasi ketika ia tidak disentuh oleh apapun ketika menjadi peristiwa. Namun ia bisa memiliki makna lain ketika digambarkan dalam bentuk tulisan. Ketika ia telah digambarkan dalam bentuk tulisan berarti ia telah tersentuh oleh “interpretasi” manusia (dalam hal ini jurnalis).

Yang menarik adalah karena hal yang menentukan berita itu independen atau tidak adalah berita itu ditulis berdasarkan fakta atau tidak, atau bisa juga objektif atau tidak.

Sedangkan “objektifitas” itu sendiri menuai banyak pertanyaan. Apakah “objektif” atau “netral” atau objektif berdasarkan fakta itu benar-benar ada atau tidak ?? dan adakah media yang objektif ?? seperti yang selalu di usung oleh berbagai media.

Untuk menjawabnya perlu beberapa penjelasan. Pertama, fakta itu sendiri dijadikan berita melalui kacamata manusia (disini wartawan atau jurnalis). Dan fakta itu diterjemahkan oleh jurnalis melalui kacamata tersebut (pemahaman, ideologis, agama, social budaya, dll). Dan kacamata ini tidak bisa tidak dipakai oleh siapapun juga termasuk jurnalis.

Sebagai contoh, pada peristiwa “penolakan ahok oleh umat Islam untuk menjadi gubernur DKI Jakarta yang mayoritas muslim karena Ahok adalah kafir”. Maka peristiwa ini mau dibikin berita seperti apa?? Apakah akan dikatakan “Intoleransi umat Islam”?? atau tidak Pluralisme dan segala macamnya?? . Atau diberitakan seperti halnya kalimat di atas “Umat Muslim Menolak Pemimpin kafir karena dilarang dalam ajaran Islam” ??

Maka kedua pemberitaan tersebut adalah hasil interpretasi fakta dengan pemahaman yang menulis berita. Karena dalam ajaran Islam memilih pemimpin itu haram, maka ketika dibuat berita itu sebagai intoleransi maka itu merupakan ketidak pahaman tentang Islam atau memang punya tujuan lain dalam pemberitaan.

Baca :   Izin dan Pemberitahuan

Seperti pada sebuah judul berita yang dimuat di Media Indonesia “Ahok-Djarot” untuk Pluralisme”, ya berarti itulah ideologi yang mereka anut, meski berbeda dari ajaran Islam.

Itulah kacamat yang digunakan menerjemahkan /menginterpretasi/menafsirkan fakta menjadi tulisan berita. Maka, barangkali apa yang disebut sebagai sebuah objektifitas dalam penulisan berita adalah lebih dekat kepada bersikap jujur dalam penulisan berita. Jujur yang dimaksud adalah selalu berpegang pada fakta-fakta shahih, tidak membual, tidak menyembunyikan fakta yang diketahui atau sengaja membuat fakta-fakta “fiktif” dan menggunakan cara-cara yang benar dalam melakukan pendalaman terhadap sumber berita/informasi.

Dengan penjelasan mengenai objektifitas diatas, yang mana interpretasi fakta menjadi berita melalui kacamata pemahaman atau ideologi maka akan kurang tepat ketika menjadikan media seperti KOMPAS, TEMPO, MEDIA INDONESIA sebagai rujukan dalam pemberitaan tentang umat Islam dan pergerakan kaum Muslimin. Justru hal sebaliknya malah terjadi, bukan hanya sekali, tapi berulang kali.

Seperti pada pemberitaan kasus tolikara oleh metronews.com , tempo.co yang judul pemberitaanya justru malah tidak sesuai fakta. Atau seperti kompas.com yang memberitakan shalat zhuhur di Istiqlal tempo hari dalam rangka menyeru umat muslim tidak memilih pemimpin kafir yang dihadiri ribuan jamaah oleh kompas.com di menjadi ratusan dalam judul beritanya. Meskipun belakangan judul berita tersebut telah dirubah, namun kejadian tersebut terjadi berulang kali pada media di atas.

Lebih lanjut pada redaksi kode etik jurnalistik pasal 1 “…..fakta sesuai suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan dan intervensi pihak lain termasuk pihak pers”

Ada hal yang sangat mendasar pada poin yang disebutkan diatas, yaitu hati nurani. Menulis fakta beradasarkan suara hati nurani, berarti melibatkan unsur yang paling mendasar dari dalam diri manusia.

Nurani, tentu bukan berasal dari bahasa melayu ataupun Indonesia meliankan berasal dari Islam, yaitu “nur” yang berarti cahaya. Maka hati nurani bisa dartikan hati yang bercahaya.

Allah cahaya langit dan bumi. Allah maha mengetahui. Ilmu yang diperoleh daripadaNya kata Imam Syafii, adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat (Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi)

Maka seharusnya berita yang ditulis dengan hati Nurani adalah bebas dari tekanan dan hingar bingar kepentingan yang tidak sejalan dengan kebenaran.

Namun apakah ada jurnalis betul-betul menulis berita berdasarkan suara hati Nuarani yang berpegang kepada kebenaran?? Mungkin ada, dan mereka akan keluar dari perusahaan pers yang tidak sesuai dengan kebenaran. Yang masing-masing perusahaan pers punya ideologi dan kepentingan masing-masing.

Kesimpulannya, sebagai seorang muslim, tidak ada kata netral. Karena umat Islam mesti berpihak pada kebenaran. Karena umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirka oleh manusia yaitu yang menyuruh kepada kebaikan/kebenaran dan mencegah kemungkaran

 

Allahu a’lam


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

Aku Kamu dan Media

serambiMINANG.com – Paska reformasi, kebebasan rakyat sipil tidak terbendung, arus informasi demikian derasnya bermunculan beraneka …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: